Oleh: Indra Mardiani
DUARRR!
Bukan petir. Bukan gempa.
Tetapi suara keras itu membuat Ibu di dapur terlonjak kaget.
Selembar triplek di dinding tiba-tiba ambles. Cat hijau bermotif daun terkelupas. Di tengahnya menganga lubang besar seperti mulut raksasa yang lapar. Serbuk kayu berjatuhan seperti hujan pasir.
“Astaga! Apa yang terjadi?” seru Ibu.
Tak ada yang tahu, pertempuran panjang telah terjadi di balik dinding itu.
Di sana, dalam gelap dan lembap, berdiri sebuah kerajaan kecil: Kerajaan Rayap Kayu. Dipimpin oleh Ratu Reni yang bijaksana, mereka membangun terowongan rahasia, lorong berliku, dan ruang-ruang kecil seperti labirin.
“Persediaan kayu menipis!” lapor prajurit rayap suatu malam.
“Kita harus menemukan sumber baru.”
Rayap Riko, prajurit muda yang pemberani sekaligus ceroboh, maju ke depan. “Ada triplek besar di atas kita! Tebal, luas, dan belum tersentuh!”
Ratu Reni terdiam. “Ingat, jangan berlebihan. Kita hanya mengambil seperlunya.”
Namun rasa lapar dan semangat petualangan membuat Riko menantang bahaya. Ia menggigit lebih dalam. Satu gigitan. Dua gigitan. Puluhan gigitan.
Krek! Krek! Krek!
Triplek mulai retak. Dari luar tampak baik-baik saja, tetapi di dalamnya lorong-lorong rayap semakin luas. Mereka merasa seperti penakluk hebat yang berhasil menguasai “Gunung Kayu”.
“Ayo lebih dalam lagi!” seru Riko.
Tetapi tiba-tiba…
Cahaya terang menembus lorong!
Getaran besar mengguncang dinding!
Suara manusia terdengar keras!
“Kita ketahuan!” teriak salah satu rayap.
Triplek runtuh sebagian. Terowongan yang mereka bangun hancur. Serbuk kayu beterbangan. Kerajaan kecil itu dalam bahaya.
Ratu Reni berdiri tegar. “Hentikan semua! Kita telah melampaui batas. Jika kita terus merusak, rumah ini akan roboh dan kita pun bisa binasa.”
Riko tertunduk. Ia sadar, keberanian tanpa kebijaksanaan hanya membawa masalah.
“Maafkan aku, Ratu,” katanya pelan.
Malam itu, seluruh pasukan rayap memulai perjalanan berat. Mereka pindah ke batang kayu lapuk di kebun belakang—tempat yang aman dan tidak merugikan siapa pun.
Sementara itu, triplek lama diganti dengan yang baru dan lebih kuat.
Sejak hari itu, Rayap Riko belajar satu hal penting:
Menjadi kuat bukan berarti menghancurkan.
Petualangan sejati harus tahu kapan berhenti.

Ceritanya keren bu, semangat terus ya bu dalam membuat cerita
BalasHapusPosting Komentar