Di sebuah hutan yang sangat luas, alam tampak begitu indah dan memukau. Pepohonan beraneka warna yang menghiasi hutan itu. Ada daun hijau tua yang rindang, keemasan yang berkilau tertimpa matahari, hingga semak berbunga merah jambu.
Di tengah semaraknya hutan itu, seekor kelinci coklat tampak sedang asyik bermain. Ia melompat tali menggunakan akar pohon yang lentur, berlarian ke sana ke mari dengan riang gembira menikmati hari yang cerah.
Tiba-tiba, datanglah kakek tupai. Tupai tua ini terkenal sangat bijaksana, suka membantu teman, dan gemar berbagi makanan jika ia memiliki kelebihan rejeki. Rumah Kakek Tupai yang kokoh di atas pohon baru saja selesai diperbaiki, dinding kayunya ditambal rapat dan atapnya dilapisi daun tebal agar aman dari cuaca ekstrem.
Melihat si kelinci yang masih asyik bermain, Kakek Tupai menghampirinya dan berkata dengan ramah, "Wahai kelinci, hari ini cuaca memang masih panas. Tapi, tanda-tanda alam menunjukkan musim hujan akan segera tiba. Sebaiknya kamu mulai membuat dan merapikan rumah bawah tanahmu, serta mengumpulkan banyak wortel sebagai cadangan makanan."
Kelinci hanya tersenyum meremehkan sambil melompat-lompat kecil.
"Kakek Tupai tenang saja! Cuaca masih sangat panas dan terik begini. Saya yakin musim hujan masih lama datangnya. Masih banyak waktu untuk bermain, besok atau lusa saja saya kerjakan," jawab kelinci santai.
Kakek Tupai menggelengkan kepala pelan seraya menasihati, "Jangan pernah menunda pekerjaan yang penting. Waktu berjalan cepat, dan persiapan dini adalah kunci keselamatan."
Namun, kelinci mengabaikan petuah bijak itu dan kembali melanjutkan permainannya.
Seminggu kemudian, cuaca berubah drastis tanpa diduga. Langit yang tadinya cerah mendadak gelap gulita. Hujan badai yang hebat datang menerjang hutan. Angin kencang bertiup beringas, membuat sebagian pohon besar ambruk dan air bah menggenangi permukaan tanah dengan cepat.
Kakek Tupai yang berada di dalam rumahnya yang kokoh tiba-tiba teringat pada kelinci itu. Ia tahu kelinci suka menunda-nunda pekerjaan, belum merapikan rumah bawah tanahnya, dan pastinya belum cukup mengumpulkan wortel. Khawatir akan keselamatan tetangganya, Kakek Tupai segera keluar menerjang badai untuk mencari keberadaan si kelinci.
Setelah berteriak dan mencari ke sana ke mari di tengah gemuruh angin, Kakek Tupai akhirnya menemukan kelinci. Kelinci malang itu tampak basah kuyup, menggigil kedinginan, dan terpaksa bertengger seorang diri di atas dahan kayu yang tinggi karena lubang tanahnya sudah terendam air banjir.
Tanpa membuang waktu, Kakek Tupai langsung menolongnya. "Pegang tanganku erat-erat, Kelinci! Mari ikut ke rumahku," seru Kakek Tupai.
Kakek Tupai mengajak kelinci ke rumahnya di pohon yang tidak terlalu tinggi. Di atas pohon itu terdapat sebuah tangga kayu buatan yang kokoh, sehingga kelinci bisa naik dengan aman ke atas. Sesampainya di dalam rumah Kakek Tupai yang hangat, kelinci diberi kehangatan dan kejutan lain. Kakek Tupai ternyata juga sudah menyimpan setumpuk wortel segar di sudut ruangan, khusus untuk berjaga-jaga jika kelinci kelaparan dan membutuhkan pertolongannya.
Melihat kebaikan hati Kakek Tupai yang luar biasa, kelinci tertunduk malu. Air mata penyesalan menetes di pipinya. "Kakek Tupai, terima kasih banyak telah menyelamatkanku. Aku sangat menyesal karena selalu menunda-nunda pekerjaanku dan mengabaikan nasihatmu," ucap kelinci dengan suara parau. Ia berjanji dalam hati untuk selalu rajin, mandiri, dan tidak akan pernah menunda-nunda pekerjaan lagi.
Jangan pernah menunda pekerjaan atau persiapan penting untuk masa depan. Ketulusan hati menyelamatkan kita dari bahaya, dan pertolongan tulus dari seorang sahabat adalah harta yang paling berharga di kala kesusahan.
Penulis Anton Sucipto SP.
Alumni Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto

Posting Komentar