Oleh Maryam Shayma Latifa
Nina selalu mengintip ke jendela toko mainan setiap pulang sekolah. Di sana ada sepasang sepatu roda berwarna merah menyala dengan roda yang bisa menyala saat berputar.
Setiap kali mendapat uang saku atau upah membantu Ibu, Nina langsung memasukkannya ke dalam celengan. Nina menamai celengan bambu kesayangan " celengan sepatu roda".
Pada suatu malam celengan bambu dibelah. Terdengar bunyi KRETEK! Uang koin dan kertas berserakan. Jumlahnya pas! Nina dan Ibu pergi ke toko mainan dan membawa pulang sepatu roda merah impiannya. Nina tidur sambil memeluk sepatu roda barunya malam itu sambil bermimpi indah.
Keesokan harinya di taman kompleks, Nina memakai sepatu rodanya dengan penuh percaya diri. Di bayangannya, ia akan langsung meluncur secepat angin seperti atlet di televisi. Begitu berdiri, WUSSS! Kedua kakinya bergerak ke arah yang salah. GUBRAK! Nina terjatuh, lutut kanannya bergesek dengan aspal jalanan. Sakit !" seketika itu Nina meringis.
Lututnya lecet dan mengeluarkan sedikit darah dan Sepatu roda merahnya tergores sedikit. Nina menangis bukan hanya karena sakit, tapi karena malu dilihat anak-anak lain dan kesal pada dirinya sendiri.
Selang beberapa menit Nina pulang sambil menyeret kakinya yang pincang, memeluk sepatu roda merahnya dengan cemberut.
Di rumah, Ibu dengan lembut membersihkan luka Nina. Luka itu perih saat ditetesi obat, membuat Nina semakin menangis sambil berteriak, "Aku benci sepatu roda ini! Aku tidak mau main lagi! Sepatu ini nakal!" Namun Ibu tidak memarahi Nina. Ibu tersenyum dan mengambil plester untuk menutupi luka Nina. Ibu berkata:"Nina, luka di lututmu ini bukan tanda kamu gagal. Ini adalah 'tato pahlawan'.
Semua orang yang bisa terbang atau meluncur, pasti punya tato ini di lutut mereka. Sepatu roda merah ini tidak nakal, dia hanya sedang berkenalan dengan kakimu. Mau menyerah kalah dengan sepatu roda ini?"
Seketika Nina yang mendengar kata kata Ibu, membuat ia tertantang,dia bangkit dan belajar mengendalikan diri.
Sore berikutnya, Nina kembali ke taman. Kali ini dia tidak langsung mencoba meluncur cepat. Dia memakai pelindung lutut (meski di bawahnya masih ada plester). Nina belajar dari awal. Belajar berdiri seimbang, belajar melangkah perlahan seperti bebek . Dia terjatuh beberapa kali. Tapi setiap kali jatuh, Nina melihat plester di lututnya, menarik napas dalam-dalam, lalu tertawa dan bangkit lagi.
Seminggu berlalu. Plester di lutut Nina sudah dilepas, meninggalkan bekas luka kecil yang sudah kering. Sore itu, Nina memakai sepatu rodanya. Dia mendorong badannya ke depan dengan mulus.
Wusss... Wusss...Roda merahnya berputar dan menyalakan lampu warna-warni. Nina meluncur mengelilingi taman dengan senyum lebar.
Angin sore menerpa wajahnya. Dia berhasil! Nina berhenti di depan Ibu, menunjuk lututnya yang sudah sembuh, dan berkata, "Ibu, tato pahlawanku sudah hilang, tapi sekarang aku sudah bisa berteman dengan sepatu rodaku!" teriak Nina gembira. Ibu mengacungkan jempol sambil tertawa.
Meulaboh, 28 Oktober 2026

Posting Komentar