Jejak Ambisi Skuad 6B


Oleh: Tanisha Gelsi Suja


Kelas V MIN 11 Banda Aceh


Di bawah langit biru yang cerah, berdirilah sebuah madrasah yang ramai oleh suara langkah dan canda para siswa. Madrasah itu adalah Madrasah Ibtidaiyah Negeri 175. Di antara banyak kelas yang ada,

terdapat satu kelas yang selalu menarik perhatian karena kekompakan sekaligus persaingan para siswanya, yaitu kelas 6-B.


Kelas 6-B berisi 39 siswa. Mereka terbagi menjadi empat kelompok belajar yang memiliki karakter dan gaya masing-masing. Ada Girlband yang dipimpin oleh Puja, Upgrade Sistem yang dipimpin oleh Tony, Intelligence Student yang dipimpin oleh Sari, dan Smartcase yang dipimpin oleh Lisa.


Walaupun sering berbeda pendapat, keempat kelompok itu memiliki satu kesamaan, mereka sama-sama

ingin menjadi yang terbaik.

Tony, pemimpin kelompok Upgrade Sistem, dikenal sebagai anak yang bersemangat dan ramah. Suatu pagi,

ia berdiri di depan teman-temannya sambil membawa sebuah informasi penting.


“Teman-teman, akhir pekan nanti akan dilaksanakan ulangan matematika. Jangan lupa belajar, ya. Katanya,

siswa dengan nilai tertinggi akan mendapat kesempatan mengikuti olimpiade matematika, ” kata Tony penuh

semangat.


Mendengar hal itu, anggota kelompoknya langsung bersemangat.

“Wah, aku harus belajar lebih giat!”

“Aku juga! Aku ingin ikut olimpiade!”

Ternyata, bukan hanya kelompok Upgrade Sistem yang tertarik. Kelompok Girlband, Intelligence Student, dan Smartcase juga memiliki ambisi yang sama.


Bahkan, Lisa, pemimpin Smartcase yang pemberani dan rajin, sudah merencanakan kegiatan belajar

bersama sepulang sekolah.

“Kita belajar bersama di kafe dekat belakang MTsN 32, ya. Kalau belajar bersama, kita bisa saling membantu,

” ujar Lisa.


Belum sempat teman-temannya menjawab, tiba-tiba Puja berlari tergesa-gesa menuju kelas.

“Teman-teman! Aku baru saja mendengar informasi dari Bu Guru!” serunya.

Semua siswa langsung menoleh.

“Informasi apa?” tanya Tony.“Katanya, siswa yang berhasil menjadi juara olimpiade matematika akan mendapatkan kesempatan masuk

ke MTsN 160115 tanpa melalui seleksi!”


Seketika suasana kelas menjadi heboh.

“Aku harus menang!”

“Aku pasti bisa!”

“Aku ingin ikut olimpiade!”

Berbagai angan-angan mulai bermunculan. Ada yang membayangkan sekolah impian, ada yang

membayangkan masa depan yang cerah, bahkan ada yang mulai membayangkan bisa berprestasi hingga ke luar negeri.


Namun, di tengah keramaian itu, pintu kelas tiba-tiba terbuka.

Bu Melda masuk.

Kelas yang tadinya ribut mendadak hening.

Bu Melda adalah guru yang terkenal tegas, tetapi sebenarnya sangat perhatian kepada murid-muridnya. Ia

berdiri di depan kelas sambil memandang seluruh siswa.

“Sekarang, keluarkan tugas Bahasa Indonesia yang Ibu berikan minggu lalu.

”

Para siswa segera membuka tas masing-masing.

Sari, pemimpin Intelligence Student yang sebenarnya bisa dipercaya, tiba-tiba terdiam.

“Ya ampun...

” gumamnya.

“Ada apa, Sari?” tanya Bu Melda.

“Saya... lupa mengerjakan tugasnya, Bu.

”


Bu Melda menghela napas.

“Sari, kamu adalah pemimpin kelompok. Seharusnya kamu bisa memberi contoh kepada teman-temanmu.

”

Sari menundukkan kepala.

“Maaf, Bu. Saya akan lebih bertanggung jawab.

”

Ternyata, bukan hanya Sari. Beberapa siswa lainnya juga tidak membawa tugas.

“Bagi yang tidak mengerjakan atau tidak membawa tugas, silakan berdiri di lapangan sesuai arahan Ibu,

”

kata Bu Melda tegas.

Salah satu siswa, Marry dari kelompok Girlband, mengeluh pelan.“Aduh, hari ini mataharinya terasa panas sekali...

”

Temannya tertawa kecil. Namun, mereka tetap menjalankan hukuman yang diberikan.

Peristiwa itu menjadi pelajaran bagi Sari dan teman-temannya. Mereka menyadari bahwa menjadi siswa yang berprestasi bukan hanya tentang mendapatkan nilai tinggi, tetapi juga tentang tanggung jawab dan kedisiplinan.


Sepulang sekolah, kelompok Smartcase segera menuju tempat yang telah direncanakan Lisa. Mereka

belajar bersama sambil mengerjakan soal-soal matematika.

“Baiklah, sebelum belajar, kita berdoa dulu agar kegiatan kita mendapat keberkahan, ” kata Lisa.


Mereka pun berdoa dan mulai belajar.

Lisa membagikan beberapa soal kepada teman-temannya.

“Coba kita kerjakan soal ini. Kalau ada yang kesulitan, kita bantu bersama.

”

Awalnya suasana belajar berlangsung serius. Namun, setelah beberapa soal selesai dikerjakan, pembicaraan mereka mulai berubah.

“Kalau aku menang olimpiade, aku ingin punya sekolah yang bagus,

” kata salah satu teman.

“Aku ingin kuliah di luar negeri,

” sahut yang lain.

“Aku ingin menjadi orang sukses dan bisa membanggakan orang tua.

”

Mereka pun tertawa dan bercerita tentang cita-cita masing-masing.

Di tempat lain, kelompok Upgrade Sistem juga tidak mau kalah. Tony mengajak teman-temannya belajar bersama di rumahnya.

“Kalau kita ingin berhasil, kita harus mempersiapkannya dari sekarang,

” kata Tony.

Mereka belajar, berdiskusi, dan saling membantu menyelesaikan soal matematika.

Tony menyadari bahwa persaingan bukan berarti harus saling menjatuhkan. Justru, mereka bisa menjadi lebih kuat jika saling membantu.


Hari ulangan matematika akhirnya tiba.

Sejak pagi, suasana kelas 6B terlihat berbeda. Hampir semua siswa memegang buku atau catatan untuk membaca kembali materi yang telah dipelajari.


Aldo, ketua kelas, berdiri di depan kelas.

“Teman-teman, jangan lupa berdoa. Kerjakan dengan jujur dan teliti. Hasilnya kita serahkan kepada Allah, ” katanya.Semua siswa mengangguk.

Ketika lembar soal dibagikan, kelas menjadi sangat tenang. Tidak ada lagi suara bercanda. Semua siswa

berkonsentrasi mengerjakan soal.


Ada yang mengerjakan dengan cepat, ada yang membaca soal berulang kali, dan ada pula yang sempat

merasa gugup.

Sari menarik napas panjang.

“Aku harus lebih teliti, ” gumamnya.


Sementara itu, Puja terus berusaha mengerjakan soal dengan tenang.

Setelah waktu habis, semua siswa mengumpulkan jawaban mereka.

“Tiga hari lagi hasilnya diumumkan,

” kata Aldo.

Tiga hari terasa sangat lama bagi siswa kelas 6B.

Mereka terus bertanya-tanya.

“Siapa yang akan terpilih?”

“Apakah aku berhasil?”

“Semoga hasilnya sesuai harapan.

”

Akhirnya, hari yang ditunggu pun tiba.

Pagi itu, seluruh siswa berkumpul di lapangan Madrasah Ibtidaiyah Negeri 175. Lapangan dipenuhi siswa yang menunggu pengumuman dengan penuh rasa penasaran.

Puja berdiri bersama teman-temannya.

“Sebentar lagi hasilnya diumumkan,

” katanya.

Tak lama kemudian, Bu Melda naik ke depan dan berdiri di hadapan seluruh siswa.

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

”

“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,

” jawab para siswa serempak.

“Anak-anak yang Ibu banggakan, hari ini kita akan mengumumkan siswa yang memperoleh nilai terbaik dalam ulangan matematika dan berhak mengikuti olimpiade matematika.

”

Lapangan mendadak sunyi.

Bu Melda membuka kertas pengumuman.

“Juara pertama diraih oleh... Puja, dari kelas 6B!”“Wahhh!”

Sorak-sorai langsung terdengar.

Teman-teman Puja bersorak gembira.

“Selamat, Puja!”

“Keren!”

“Hebat, Puja!”

Puja tersenyum malu.

“Terima kasih, teman-teman. Aku juga tidak akan bisa sampai di sini tanpa dukungan kalian.

”

Selain Puja dari kelas 6B, siswa lain yang berhasil meraih nilai terbaik adalah Gisel dari kelas 6A dan Faiz dari kelas 5C.

Puja kemudian mengikuti bimbingan khusus untuk persiapan olimpiade matematika.


Namun, kemenangan Puja bukan berarti perjuangan teman-temannya berakhir.

Tony dan kelompok Upgrade Sistem tetap belajar. Lisa dan kelompok Smartcase tetap berlatih. Sari berusaha menjadi lebih disiplin dan tidak lagi melupakan tugas. Bahkan Marry yang sering cepat putus asa mulai belajar untuk tidak mudah menyerah.


Mereka akhirnya menyadari satu hal.

Kemenangan bukan hanya tentang siapa yang berdiri di posisi pertama. Kemenangan juga tentang

keberanian untuk mencoba, kesediaan untuk belajar dari kegagalan, dan kemauan untuk terus melangkah

bersama.


Puja memang berhasil menjadi juara. Namun, seluruh siswa kelas 6B juga telah menemukan sesuatu yang

lebih berharga: persahabatan, kerja sama, tanggung jawab, dan semangat untuk terus berkembang.

Sejak saat itu, semangat mereka dikenal dengan satu nama: SKUAD 6B.


Sebuah skuad yang tidak hanya mengejar prestasi, tetapi juga meninggalkan jejak melalui kerja keras, persahabatan, dan ambisi untuk menjadi lebih baik.


Bionarasi

Tanisha Gelsi Suja lahir di Banda Aceh pada 16 Januari 2015. Sejak kecil, ia memiliki ketertarikan pada

dunia membaca dan menulis. Baginya, membaca adalah jendela untuk mengenal banyak hal, sedangkan

menulis menjadi cara untuk menuangkan ide, perasaan, dan imajinasi.Tanisha merupakan anak pertama dari empat bersaudara. Ia adalah putri dari pasangan Eryzal Jumaidi

dan Nova Sari. Saat ini, Tanisha bersekolah di MIN 11 Banda Aceh dan duduk di kelas VI.

Tanisha bercita-cita menjadi seorang guru. Ia berharap dapat terus belajar, mengembangkan kemampuan

menulis, dan suatu hari nanti dapat berbagi ilmu serta memberikan manfaat bagi orang lain.

Kecintaannya pada dunia literasi telah mendorong Tanisha untuk mulai menghasilkan berbagai karya.

Beberapa puisinya telah dipublikasikan, di antaranya

“Tarik Pukat”

,

“Jejak dalam Perjuangan”

, dan

“Lingkar yang Kupilih”

. Selain puisi,

“Jejak Ambisi Skuad 6B” menjadi cerita pendek pertama yang

ditulisnya. Melalui cerita ini, Tanisha mulai mengeksplorasi dunia fiksi dengan menghadirkan tokoh, alur,

dan kisah tentang persahabatan, semangat, serta ambisi anak-anak dalam meraih cita-cita.

Tanisha percaya bahwa setiap tulisan adalah langkah kecil untuk mengenal diri, menyampaikan gagasan,

dan meninggalkan jejak kebaikan

0/Post a Comment/Comments

Iklan