Oleh Anton Suciito,SP
Di sudut perpustakaan sekolah yang sepi, Aldo duduk menunduk. Aldo kecewa mengingat pengumuman daftar pemain inti tim basket SD tempatnya bersekolah. Namanya kembali tidak ada di sana. Aldo hanya bisa menjadi penonton di pinggir lapangan.
“Kenapa sendirian di sini, Do?” suara lembut menyapa.
Aldo menoleh dan mendapati Dudung, sahabatnya, berdiri di samping meja.
“Aku gagal lagi masuk tim inti, Dung,” bisik Aldo kecewa. “Padahal aku ingin sekali membela sekolah kita.”
Dudung tersenyum tipis lalu duduk di seberang Aldo. “Jangan menyerah dulu. Begini, aku punya solusi. Gimana kalau kita ke rumah Kakek Pluto?”
“Kakek Pluto? Kakek tua yang tinggal di dekat pinggir desa itu?” tanya Aldo heran.
“Iya! Banyak yang tidak tahu kalau Kakek Pluto itu dulunya mantan pemain basket yang sangat hebat. Dribblenya sangat akurat dan dia terkenal dengan slam dunknya yang memukau,” jelas Dudung bersemangat.
Aldo sempat ragu dan tak percaya. Namun, demi meraih impiannya menjadi pemain inti basket, ia mengangguk setuju. Sepulang sekolah, Aldo dan Dudung mengayuh sepeda menuju rumah Kakek Pluto.
Sesampainya di sana, mereka mendapati seorang kakek berambut putih sedang menyiram tanaman. Tanpa ragu, Aldo dan Dudung berterus terang menyampaikan maksud kedatangan mereka.
“Kakek Pluto, kami ingin belajar basket dari Kakek. Kami mohon Kakek berkenan membagikan ilmu dan pengalaman Kakek kepada kami,” kata Aldo bersungguh-sungguh.
Kakek Pluto menatap kedua anak di hadapannya. Matanya menangkap binar semangat yang membara dari wajah Aldo dan Dudung. Kakek tersenyum hangat.
“Tentu saja, Nak. Kakek bangga melihat antusiasme dan semangat kalian untuk belajar,” jawab Kakek Pluto.
Kakek lalu mengajak mereka ke belakang rumahnya. Di sana terdapat lapangan basket tua yang luas, tempat Kakek Pluto berlatih sewaktu muda. Sebelum memulai latihan, Kakek bercerita tentang idolanya.
“Dulu, Kakek sangat mengagumi Michael Jordan. Dia pemain basket legendaris yang luar biasa Slam dunk-nya indah, akurasi tembakannya tinggi, dan cara bermainnya sangat cerdik. Namun, ingat, hebatnya Michael Jordan itu lahir dari kerja keras dan disiplin yang tak pernah putus,” cerita Kakek Pluto.
Kakek Pluto pun mulai memberikan instruksi teknis kepada mereka.
“Dalam basket, passing dasar harus kuat dan tepat sasaran. Saat melakukan chest pass, dorong bola dari depan dada dengan kedua jempol mengarah ke bawah setelah bola dilepas,” kata Kakek Pluto sambil memperagakan gerakan dengan lincah. “Lalu untuk dribble, jangan dipukul dengan telapak tangan, tetapi pantulkan bola menggunakan jari-jari tanganmu dengan lembut. Pandangan mata harus tetap ke depan, jangan terus melihat ke bola.”
Aldo dan Dudung mendengarkan dengan patuh dan langsung mempraktikkannya. Kakek Pluto melatih mereka dengan tulus dan sabar.
Setelah latihan selesai, Dudung yang berasal dari keluarga kaya merogoh saku celananya dan mengeluarkan beberapa lembar uang kertas untuk diberikan kepada Kakek Pluto sebagai bentuk terima kasih.
Namun, Kakek Pluto dengan lembut menolak uang tersebut. “Simpan uangmu, Nak. Kakek melatih kalian bukan karena uang, melainkan karena Kakek ingin melihat anak-anak muda seperti kalian pantang menyerah menyalurkan bakat.”
Setiap hari usai sekolah, Aldo dan Dudung rutin berlatih di halaman belakang rumah Kakek Pluto. Lambat laun, pemahaman dan keterampilan bermain basket mereka meningkat pesat. Penguasaan teknik passing, dribble, hingga lay-up mereka menjadi sangat matang.
Ketika seleksi tambahan tim basket sekolah dibuka kembali, Aldo dan Dudung mendaftar. Berkat hasil latihan keras bersama Kakek Pluto, mereka berdua berhasil lolos menjadi anggota tim inti.
Seminggu kemudian, turnamen basket antar-SD se-kabupaten digelar. Tim sekolah Aldo tampil mengesankan. Kemenangan demi kemenangan mereka raih hingga berhasil melaju mulus ke babak semifinal dan akhirnya menembus babak final.
Di partai puncak, mereka berhadapan dengan tim lawan yang sangat kuat dan berpengalaman. Pertandingan berlangsung sengit sejak kuarter pertama. Memasuki kuarter keempat, skor kedua tim imbang.
Namun, di menit-menit akhir pertandingan, pemain lawan berhasil melesakkan tembakan tiga angka (three point). Peluit panjang berbunyi. Tim Aldo harus mengakui keunggulan lawan dan kalah dengan selisih tiga poin.
Di pinggir lapangan, Kakek Pluto merangkul Aldo dan Dudung yang sedang mengusap air mata kekecewaan.
“Jangan berkecil hati, Nak. Kalian sudah berjuang semampunya dan bermain dengan sangat luar biasa. Menjadi runner-up atau juara kedua tingkat kabupaten adalah prestasi yang membanggakan,” tutur Kakek Pluto sambil mengelus bahu mereka.
Aldo menatap Kakek Pluto lalu tersenyum tegar. Kekalahan hari ini bukanlah akhir, melainkan awal dari proses belajar. Dengan ilmu, usaha keras, dan semangat pantang menyerah yang diajarkan Kakek Pluto, Aldo dan Dudung bertekad untuk terus berlatih lebih giat lagi demi menyambut turnamen tahun depan.
Penulis Anton Sucipto SP.
Alumni Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto.

Posting Komentar