Oleh Delia Rawanita
Pagi Senin, Nayla bersiap untuk ke sekolah yang letaknya tidak jauh dari rumah. Namun sampai di halaman entah mengapa Nayla merasa penglihatannya berkabut. Nayla berulang kali menggosok mata.
"Lho, Bu! Langitnya kok warna susu cokelat? Mana birunya?" tanya Nayla heran
Merasa ada sesuatu yang tidak beres, Ibu bergegas masuk ke dalam rumah untuk mengambil masker lalu memakaikan di wajah Nara. " Nah, Pakailah untuk menghindari asap dari hutan seberang: Hutan kita terbakar lagi."
"Karhutla itu, Bu?"
Ibu mengangguk. "Iya. Kebakaran hutan dan lahan."
Sesampainya di sekolah, langit terlihat makin kelam. Bu Ningsih masuk kelas sambil batuk kecil.
"Anak-anak, hari ini kita belajar di dalam saja. Di luar udara tidak sehat," kata Bu Ningsih lagi
Rian, teman sebangku Nayla bersin. "Bu, mata Rian perih. Mataharinya jadi merah kayak kelereng."
"Itu karena asap tebal menutupi birunya langit," jawab Bu Ningsih
"Asap itu dari hutan yang dibakar sembarangan oleh orang yang tidak bertanggung jawab" Akibatnya, nafas kita sesak, burung pergi dan matahari bersembunyi"
Nayla menatap ke luar jendela. " Padahal gara gara api kecil, akibatnya langit kita hilang ya, Bu?"
"Pintar sekali, Nayla," Bu Ningsih tersenyum. " Karena satu orang lalai, akibatnya seluruhnya dapat musibah ."
Di jalan pulang sekolah, Nayla melihat Pak Damkar menyemprot sisa api. Wajahnya hitam oleh abu.
"Pak, capek ya padamkan api?" tanya Nayla.
Pak Damkar tersenyum lelah. "Capek, Nak. Tapi kalau tidak kita yang menjaga hutan, siapa lagi? Hutan itu rumah kita juga." Kata pak Damkar
Alhamdulillah, malamnya turun hujan. Deras dan lama.
Keesokan pagi terdengar suara burung berkicau, Nayla membuka jendela kamarnya. Ia mendongak ke langit dan berteriak senang.
"Bu! Bu! Lihat! Biru langitnya pulang!"
" Syukurlah, Langit kembali biru . Awan putih berarak. Burung kembali berkicau"
Ibu memeluk Nayla . "Kalau kita jaga hutan, hutan akan jaga langit kita."
B.Aceh, 20 Oktober 2026

Posting Komentar