Kicauan Burung dan Sang Bayu



Oleh: Kang Thohir

 

 

Ada suara-suara kicauan burung di malam hari, menatap sunyi. Pada malam Jum'at di pinggiran dan di atas genteng, berdering keras. Asa kian cemas. Jantung berdegup kencang. Tatapan sayu di ujung malam. Suara-suara cicak kian berisik di telinga, di bilik kamar yang kumuh. Di pantauan permata indah, namun kelam mendekam di jeruji sunyi. Katakan pada jiwa yang mulai rapuh, termakan oleh pikiran yang jenuh. Entah bagaimana aku berlabuh.

 

Di antara resah dan gelisah dikecap pasrah. Tiada mata tertuju, karena tertutup pintu. Siapa kiranya mendekap kalbu. Percikan air mata pun tak akan lirik, hanya mendelik, pelik. 

 

"Hai, sang bayu! Kiranya kau mengabarkan rindu, tataplah temu."

 

Lalu sang bayu pun berkata:

 

"Aku sudah mengabarkan itu padanya, lalu kucoba katakan padamu lewat hembusan malam, di setiap mimpi-mimpimu itu."

 

Di situlah ia mempunyai peluang untuk menatap temu dengannya, di sepertigaan malam. Hanya hamparan cinta yang merasuk kalbu, bak diseret ke dalam samudera cinta yang paling luas, di antara rindu dan cinta bersatu. 

 

 

Brebes, 21 Mei 2026

0/Post a Comment/Comments

Iklan