Ketika Lara Rindukan Cinta



Oleh Delia Rawanita


Hujan turun sore itu, Lara duduk di beranda rumah kayu peninggalan ibunya. Langit terlihat  kelabu. Di tangannya, ada secangkir teh yang sudah dingin dan foto lama — foto ayahnya yang dulu selalu membacakan puisi sebelum tidur.


Sudah dua tahun ayah pergi. Sejak itu, tidak ada lagi yang memanggilnya "Anak Puisi" dengan suara hangat. Rindupun menyeruak, sunyi.


"Cinta itu tidak hilang, Ra," bisik Ibu dari belakang, memeluk bahunya. "Ia hanya berubah bentuk. Dari pelukan ayah, menjadi kata-kata yang kamu tulis."


Lara mengangguk, tapi hatinya masih kosong. Ia rindu dicintai, rindu didengarkan.

Ditatapnya tumpukan buku peninggalan Ayah yang sudah dikemas . 

" Sumbangkan ke perpustakaan desa ya,  biar  lebih bermanfaat dan bisa menambah  bahan bacaan di sana  "


Perpustakaan masih sepi, tercium aroma wangi kertas tua. Di sudut, terlihat seorang pemuda berkacamata sedang menata buku-buku yang berantakan karena tempias hujan semalam  Namanya tertulis di name tag: *FARIS - Relawan Literasi.*


"Kamu butuh bantuan?" tanya Faris tanpa menoleh, sementara tangannya masih sibuk memindahkan buku basah ke sisi yang lain.


Lara sedang sendiri mematung tiba tiba  kaget. "Buku-buku ini... punya ayah saya."


Faris menoleh. Ia melihat tumpukan buku puisi di tangan Lara. "Wah, Chairil Anwar, WS Rendra. Ayahmu penyair ya?"


Untuk pertama kalinya setelah dua tahun, seseorang bertanya tentang ayahnya bukan dengan rasa kasihan, tapi dengan mata berbinar.


Suasana mencair, mereka mengobrol. Lama. Tentang puisi, tentang hujan, tentang rindu yang tidak punya alamat.


Sejak hari itu, Lara hampir setiap sore ke perpustakaan. Bukan lagi untuk mengembalikan buku, tapi untuk menemukan.


Faris tidak pernah memberinya bunga. Ia memberinya sesuatu yang lebih mahal: sebuah buku catatan kecil dengan tulisan di halaman pertama.


_"Untuk Lara. Jika rindu datang lagi, tulislah di sini. Biar aku yang membacakannya untukmu. - Faris"_


Lara tersenyum. Di antara rak-rak buku yang berdebu dan kesendirian hati, kini  perlahan membiru lagi. Lara akhirnya mengerti.


Ia tidak menemukan pengganti ayahnya.


Ia menemukan cinta dalam bentuk yang baru. Cinta yang tidak menghapus rindu yang lama, tapi menemani rindu itu duduk bersama, membaca puisi hingga sore berlalu.


B.Aceh. 21 10 26

0/Post a Comment/Comments

Iklan