Merak dan Gagak Hitam



Oleh Anton Sucipto, SP

Di tengah hutan yang rindang, seekor Gagak Hitam sedang berjalan santai. Tiba-tiba, pandangannya terhenti pada seekor burung merak yang melintas di depannya. Bulu merak itu sungguh indah, mekar dengan warna-warni yang berkilauan saat terkena sinar matahari.

Gagak Hitam terpana. Timbul keinginan besar di hatinya untuk bisa tampil secantik itu. Dengan penuh rasa penasaran, ia mendekati sang merak.

"Wahai Merak yang indah, di manakah kau mendapatkan bulu yang sangat cantik itu?" tanya Gagak Hitam polos.

Burung merak melirik dengan pandangan sinis dan angkuh. Ia mengibaskan ekornya yang indah lalu melangkah pergi menjauh dari Gagak Hitam.

"Tak usah banyak tanya, Gagak! Kau itu burung hitam yang kusam. Kau takkan pernah bisa punya bulu warna-warni seperti aku!" jawab Merak dengan nada sebal.

Perlakuan merak ternyata tidak memadamkan niat Gagak Hitam. Ia justru makin bertekad untuk memiliki penampilan yang serupa. Gagak Hitam kembali menelusuri hutan, berjalan mondar-mandir sambil berpikir keras mencari inspirasi.

Setelah beberapa saat, sebuah gagasan muncul di benaknya. Ia mengumpulkan buah-buahan liar dan getah tanaman untuk dijadikan pewarna alami. Tidak lupa, ia mengumpulkan berbagai dedaunan warna-warni dan merekatkannya di tubuh menggunakan lem getah pohon.

Hasilnya, penampilan Gagak Hitam kini berubah total menjadi penuh warna. Dengan rasa percaya diri yang tinggi, ia berjalan kembali ke tempat kelompok burung merak berkumpul. Namun, bukannya kagum, burung merak justru menunjuknya sambil tertawa terbahak-bahak.

"Lihatlah burung aneh ini! Haha! Apa yang kau tempelkan di badanmu itu, Gagak? Kau sungguh terlihat konyol dan menggelikan!" ejek Merak dengan sombongnya.

Kelompok burung merak menolak mentah-mentah kehadiran Gagak Hitam. Merasa malu dan sakit hati, Gagak Hitam berlari kencang meninggalkan tempat itu. Ia berhenti di bawah pohon rindang yang sepi lalu duduk termenung meratapi nasibnya.

Tak lama kemudian, seekor gagak lain terbang menghampiri dan duduk di sampingnya. Melihat temannya bersedih dengan dedaunan yang mulai layu di tubuhnya, gagak itu berkata dengan lembut.

"Sahabatku, untuk tampil cantik dan baik, kita tidak perlu meniru orang lain. Yang paling penting adalah menghargai dan mensyukuri apa yang sudah kita miliki. Bulu hitam kita ini kuat dan indah dengan caranya sendiri. Jika kau memaksa ingin tampil seperti merak, kau hanya akan menyiksa dirimu sendiri."

Mendengar nasehat tulus itu, Gagak Hitam tertunduk malu. Ia menyesal karena selama ini telah menganggap remeh sesama gagak dan tidak mensyukuri dirinya sendiri. Ia pun melepaskan dedaunan yang menempel di tubuhnya dan kembali menjadi dirinya yang asli. Bersyukurlah atas apa yang kita miliki dan cintailah diri sendiri. Keindahan sejati tidak didapat dari meniru orang lain atau berpura-pura menjadi sosok yang bukan diri kita.

Penulis Anton Sucipto SP.

Alumni Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto.

Saat kecil suka membaca buku yang terkenal karya penulis Enyd Blyton seperti yang berjudul petualangan lima sekawan misteri surat kaleng dan judul yang lainnya.

0/Post a Comment/Comments

Iklan