Ketua Kelas

 

Oleh Anton Sucipto, SP 


Matahari pagi menyinari halaman SD Gilinata dengan hangat. Hari itu bukan hari biasa, melainkan hari pemilihan ketua kelas baru yang sudah heboh sejak seminggu lalu. Suasana kelas 4 tampak riuh, terutama di meja Bondan, anak orang kaya yang terkenal suka pamer. Bondan sangat berambisi menjadi ketua kelas demi gengsi. Setiap hari, ia membagikan roti mahal, cokelat impor, dan lembaran uang kertas kepada teman-temannya agar mereka mau memilih namanya nanti.

Di sudut belakang kelas, Aldo sedang merapikan buku-bukunya dengan tenang. Aldo adalah anak yang rajin, cerdas, dan disenangi guru maupun teman-temannya karena suka membantu. Namun, Aldo sama sekali tidak berniat mencalonkan diri. Bagi Aldo, belajar dengan baik sudah lebih dari cukup.

"Do, kamu harus ikut dicalonkan jadi ketua kelas. Biar kelas kita nggak dipimpin sama anak yang suka sombong kayak Bondan itu," bisik Dudung sambil menarik kursi mendekati meja Aldo.

"Aku pikir tidak usah, Dung. Jadi anggota biasa saja sudah tenang kok. Lagian, teman-teman kan sudah banyak yang memilih Bondan karena ada makanan dan uang Bondan," jawab Aldo pelan, sambil tersenyum ramah.

"Ayolah, Aldo! Teman-teman sebenarnya banyak yang segan sama kamu tapi takut suara mereka nggak didengar. Percaya deh, kebaikan tulus itu pasti dicari orang. Kalau bukan kamu yang maju, siapa lagi?" bujuk Dudung dengan penuh keyakinan.

Melihat ketulusan dan sorot mata Dudung yang berharap, Aldo akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah, kalau memang teman-teman percaya dan butuh bantuanku, aku bersedia."

Tibalah saatnya pemungutan suara. Satu persatu siswa maju menuliskan nama di kertas suara. Saat hasil akhir dihitung oleh Pak Guru, suasana menjadi sangat tegang. Bondan tersenyum lebar penuh kemenangan, sementara beberapa anak tampak gelisah.

"Hasilnya sangat ketat," kata Pak Guru sambil memegang kertas penghitungan. "Bondan mendapatkan sembilan belas suara, dan Aldo mendapatkan delapan belas suara. Dengan selisih satu suara, ketua kelas yang baru adalah Bondan."

Bondan bersorak girang sambil mengepalkan tangan, merasa uang dan makanannya terbayar lunas. Namun, sebelum Pak Guru menutup rapat, Dudung tiba-tiba mengangkat tangan tinggi-tinggi.

"Pak Guru, tunggu! Pemilihan ini tidak sah!" seru Dudung dengan suara lantang.

Seisi kelas terkejut. Bondan mendadak pucat.

"Ada apa, Dudung? Jangan bicara sembarangan," ujar Pak Guru dengan nada tegas.

"Saya punya buktinya, Pak. Bondan memberikan uang dan makanan setiap hari dengan syarat kami harus menulis namanya di kertas suara. Tadi pagi pun dia masih membagikan uang di dekat gerbang belakang," jelas Dudung sambil menunjukkan selembar uang dan bungkus cokelat pemberian Bondan yang sempat ia simpan sebagai bukti kejujuran.

Pak Guru menatap tajam ke arah Bondan. Ditanya begitu, Bondan akhirnya menunduk dan mengaku dengan suara gemetar karena takut.

Pak Guru menghela napas panjang. "Kecurangan tidak boleh dibiarkan. Pemilihan ketua kelas ini batal, dan kita akan melakukan pemilihan ulang hari ini juga dengan jujur dan bersih."

Pemilihan ulang pun dilangsungkan tanpa ada intervensi apapun. Tanpa imbalan makanan dan uang, suara teman-teman kembali mengalir jernih. Ketika kotak suara dibuka kembali dan dihitung bersama-sama, nama Aldo disebut paling banyak. Aldo resmi terpilih menjadi ketua kelas yang baru dengan dukungan penuh dari seluruh teman sekelasnya. Bondan hanya bisa tertunduk malu menyadari bahwa kekayaan dan kesombongan tidak bisa membeli kepercayaan serta rasa hormat yang sejati.

Kejujuran dan ketulusan hati selalu membawa kemenangan yang sejati. Apa yang didapat dengan cara yang curang tidak akan pernah membawa berkah, sementara kebaikan yang tulus akan selalu menemukan jalannya untuk bersinar.


Penulis Anton Sucipto SP.

Alumni Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto.

0/Post a Comment/Comments

Iklan