Langkah di Belakang Arisya




Oleh Saiful Bahri


Cerita anak tentang kasih seorang ibu


Pagi itu, matahari baru naik di atas atap rumah-rumah di kampung. Arisya Anum, gadis kecil berusia sembilan tahun, berlari kecil sambil membawa tas sekolahnya. Di belakangnya, Ibu berjalan pelan sambil membawa ember dan sabun cuci.


“Ibu, cepat dong! Nanti aku telat!” seru Arisya sambil menoleh.


Ibu tersenyum. “Ibu nyusul, Sayang. Kamu jalan dulu, ya.”


Setiap pagi, Arisya berangkat sekolah, dan Ibu selalu berjalan di belakangnya. Setelah mengantar Arisya sampai di ujung gang, Ibu melanjutkan langkah ke rumah tempat ia bekerja mencuci pakaian orang.


Di sekolah, Arisya sering melihat teman-temannya dijemput dengan motor atau mobil. Kadang hatinya terasa sedih. Tapi setiap kali pulang, ia melihat Ibu menunggu di ujung jalan dengan senyum yang sama—meski tangan Ibu masih basah dan berbau sabun.


Suatu sore, Arisya bertanya, “Bu, kenapa Ibu selalu di belakang aku?”


Ibu menatapnya lembut. “Supaya kalau kamu jatuh, Ibu bisa cepat menolong. Supaya kalau ada motor dari belakang, Ibu yang kena duluan. Supaya Ibu tahu kamu aman.”


Arisya terdiam. Ia memeluk Ibu erat. Di pelukan itu, ia merasakan tangan yang kasar tapi hangat—tangan yang setiap hari mencuci pakaian orang lain, tapi selalu menjaga dirinya dengan cinta.


Sejak hari itu, Arisya tidak lagi malu. Ia bangga punya Ibu yang kuat dan baik hati. Setiap pagi, ia berjalan pelan agar Ibu bisa berjalan di sampingnya.


Dan setiap malam, sebelum tidur, Arisya berdoa pelan:

“Ya Allah, jagalah Ibu seperti Ibu selalu menjaga aku.”


---


🌼 Pesan Cerita:

Kasih ibu tidak diukur dari pekerjaan atau harta, tapi dari langkah-langkah kecil yang selalu menjaga kita dari belakang.


0/Post a Comment/Comments

Iklan