Oleh: Syarifudin Brutu
Dahulu, sebelum peta dunia mengenal garis batas yang kaku, perairan Singkil adalah "Titik Nol Arus Dunia". Di sana, di bawah permukaan yang berkilau seperti cermin perak, terdapat Gerbang Nurani—poros dimensi yang menjaga detak jantung samudra melalui Mustika Arus.
Namun, kedalaman itu diincar oleh empat bayangan purba. Keserakahan, Pengkhianatan, Kelalaian, dan Ego. Di tengah ancaman runtuhnya keseimbangan bumi, munculah Malim. Ia bukan sekadar pelaut yang mengejar angin; ia adalah seorang Mualim Jagat, pelaut ulung yang mampu membaca garis takdir di atas riak air sekecil apa pun.
Entitas pertama yang muncul dari kegelapan adalah Sangkala Lipan. Monster laut ini memiliki seribu kaki berupa bilah pedang yang haus darah, berniat melilit Gerbang Nurani agar setiap jiwa yang melintas terpaksa membayar tumbal nyawa.
Malim mencegat sang monster di batas teluk. Air laut mendidih seketika saat Sangkala Lipan menyemburkan racun hitam yang mematikan.
Tanpa gentar, Malim melepaskan "Jangkar Bintang", sebuah pusaka yang dirantai langsung ke detak jiwanya. Ia terjun ke kedalaman palung, menjerat leher monster itu, lalu menariknya naik dengan kekuatan yang sanggup membelah samudra.
Tepat saat fajar menyentuh kulit sang monster, Mualim merapalkan Mantra Pembeku. Tubuh Sangkala Lipan mengeras, melengkung tajam menjadi daratan batu yang angkuh. Inilah yang kini dikenal sebagai Pulau Lipan.
Hingga kini, tanah di Pulau Lipan bersifat magnetik ekstrem. Para pelaut modern sering mendapati kompas mereka berputar gila di sana, seolah sisa jantung sang monster masih berdenyut, menolak navigasi siapa pun yang lewat tanpa izin.
Kekacauan belum usai. Dua panglima kembar, Gadang dan Ketek, yang semula adalah saudara seperjuangan Mualim, justru dibutakan oleh kemilau Mustika Arus. Mereka memilih untuk "Mangkir"—ingkar janji demi memiliki takhta laut secara tunggal.
Di tengah badai yang dipicu oleh ego mereka, kapal Gadang dan Ketek saling bertabrakan dalam amarah yang buta. Mualim berdiri di antara dua haluan yang bertikai, lalu menghunus Pedang, senjata yang ketajamannya berasal dari kejujuran kata-kata.
"Kalian ingin memiliki laut ini?" teriak Mualim. "Maka jadilah bagian darinya, abadi dalam perpisahan!" Dengan satu tebasan spiritual, Mualim memutus tali persaudaraan mereka selamanya.
Kedua kapal itu membatu seketika dalam posisi saling menjauh. Kapal induk yang besar menjadi Pulau Mangkir Gadang, sementara sekoci kecil di belakangnya menjadi Pulau Mangkir Ketek.
Di antara kedua pulau ini, terdapat arus bawah laut yang sangat dingin. Saat badai tiba, terdengar dentingan logam yang menyayat hati, penduduk lokal meyakini itu adalah suara pedang Gadang dan Ketek yang masih beradu dalam penyesalan abadi.
Kemenangan Mualim menyisakan luka pada alam. Energi dari tiga pulau batu yang terbentuk secara paksa membuat daratan Singkil mulai retak. Untuk mencegah keehancuran total, dibutuhkan sebuah "penyeimbang" yang mampu meredam amarah ketiga pulau tersebut.
Mualim menyadari bahwa tak ada lagi senjata yang bisa digunakan. Hanya tubuh seorang penjaga yang murni yang bisa menahan radiasi mistis ini. Dengan tenang, ia membuang jubah mualimnya, berenang ke titik tengah teluk, dan membentangkan tangannya lebar-lebar ke arah utara dan selatan. Ia merapalkan Mantra Puncak Kesabaran, menjadikan dirinya tumbal terakhir.
Tubuh Mualim memanjang secara ajaib melintasi cakrawala. Kulitnya meluruh menjadi pasir putih yang lembut, dan tulang belakangnya mengeras menjadi gugusan karang yang kokoh. Terciptalah Pulau Panjang sebagai benteg perlindungan terakhir.
Kini, ketika manusia di daratan mulai saling klaim dan berebut batas wilayah atas keempat pulau tersebut, para tetua adat berbisik dengan cemas. Mereka menyebut sengketa ini sebagai "Bangkitnya Kutukan Mangkir".
Setiap kali ego manusia meruncing untuk memperebutkan tanah yang lahir dari pengorbanan, segel yang dibuat Mualim kian melemah.
"Jika kalian terus bertikai memperebutkan apa yang telah dikorbankan, maka Pulau Panjang akan kembali menjadi manusia, dan laut akan mengambil kembali apa yang pernah ia pinjamkan."
Tamat…

Posting Komentar