Oleh : Sharifudin Brutu
Di desa terpencil Lae Nipe, Aceh Singkil, sungai bukan sekadar air yang mengalir, melainkan urat nadi kehidupan. Bagi Pukak, sungai adalah tempat bermain paling asyik, tapi pagi itu suasana terasa berbeda. Ayah Pukak sedang jatuh sakit, sementara stok ikan di dapur sudah habis.
"Jangan khawatir, Ayah. Pukak akan pasang bubu (perangkap ikan) di lubuk dalam," ucap Pukak mantap, meski hatinya sedikit ragu karena arus sungai sedang deras-deras
Pukak tidak sendirian. Di tepi sungai, dua sahabat setianya sudah menunggu, Gisto yang badannya gempal dan selalu ceria, serta Udin yang kurus, namun sangat lincah memanjat pohon bakau.
"Pukak! Kamu yakin mau ke lubuk dalam? Arusnya lagi 'marah' itu," seru Gisto sambil membetulkan letak topinya.
"Ayahku sakit, Gisto. Aku harus dapat ikan," jawab Pukak.
Tanpa banyak bicara, Udin langsung melompat ke atas perahu kecil milik Pukak. "Kalau begitu, kami ikut. Mana mungkin kami biarkan kamu mendayung sendirian melawan arus Lae Nipe!"
Mereka bertiga mulai mendayung. Kayu pendayung menghujam air dengan ritme yang sama. Namun, di tengah perjalanan, sebuah batang pohon besar hanyut terbawa arus dan menghantam bagian samping perahu mereka.
Braakk!
Perahu mereka oleng. Air mulai masuk melalui retakan di bagian bawah. Pukak panik, namun Gisto dengan sigap menggunakan bajunya untuk menyumbat lubang sementara.
"Udin, ambil kaleng! Buang airnya keluar! Pukak, terus mendayung ke arah tepian pasir!" perintah Gisto dengan tegas.
Di sinilah indahnya persahabatan mereka diuji.
Udin dengan cepat menguras air yang masuk, sementara Pukak mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengarahkan perahu agar tidak terseret arus ke tengah. Mereka saling berteriak memberi semangat di tengah gemuruh suara air sungai.
Setelah perjuangan yang melelahkan, mereka berhasil mencapai tepian yang tenang. Tidak hanya selamat, ternyata bubu tua yang terbawa di perahu secara tidak sengaja menjebak beberapa ekor ikan baung besar saat perahu mereka oleng tadi.
"Lihat! Kita dapat ikan besar!" seru Udin kegirangan.
Sore harinya, mereka kembali ke desa dengan selamat. Pukak membawa ikan untuk ayahnya, dan ia tidak lupa membagi hasil tangkapan itu kepada Gisto dan Udin.
"Terima kasih, teman-teman. Kalau tadi aku sendirian, mungkin aku sudah tenggelam bersama perahu itu," ucap Pukak tulus.
Gisto menepuk bahu Pukak sambil tertawa, "Di Lae Nipe, tidak ada yang berjalan sendirian, Pukak. Selama kita bersama, arus sederas apa pun bisa kita lawan."

Posting Komentar