Tepat pukul lima sore, saat langit berwarna oranye seperti bumbu fried chicken, Bagus melakukan satu-satunya tindakan heroik dalam hidupnya: ia melompat dari bak mobil pickup. Ia mendarat dengan gedebuk yang tidak estetis di pinggir jalanan sepi yang diapit hutan jati.
Bagus berdiri, menggoyangkan bulu putihnya yang terlalu bersih. Di hadapannya, aspal panas dan semak berduri menunggu. Di sinilah hukum alam berlaku: Yang kuat bertahan, yang lemah berakhir di penggorengan.
Bagus mewakili generasi instan. Seumur hidupnya, makanan datang sendiri dalam wadah plastik otomatis. Minumnya disaring, suhunya dijaga. Ia tidak pernah belajar mencakar tanah untuk mencari cacing; ia hanya tahu cara menunggu.
Di pinggir jalan itu, Bagus bertemu dengan seekor Ayam Kampung tua bernama Mbah Jago. Bulunya kusam, kakinya penuh sisik keras, dan matanya tajam seperti veteran perang.
"Mau ke mana, Le?" tanya Mbah Jago sambil santai mematuk kalajengking.
"Aku bebas, Mbah! Aku ingin hidup mandiri tanpa sekat besi!" seru Bagus dengan semangat yang membara, persis kutipan motivasi di media sosial.
Mbah Jago terkekeh, suara kokoknya parau. "Mandiri itu mahal harganya, Cah Bagus. Kamu punya otot untuk lari dari musang? Kamu tahu cara membedakan biji beracun dan jagung?"
Bagus terdiam. Ia terbiasa dengan pakan pur nomor 511 yang sudah terukur kalorinya. Ia tidak punya "algoritma" untuk mencari makan di alam liar.
Dalam sunyinya jalanan itu, narasi besar terbentang:
Generasi Mbah Jago (Generasi Tua): Mereka adalah ayam hutan yang lahir di semak. Hidup manual. Bertahan dari badai dan predator dengan insting yang diasah oleh rasa lapar. Mereka adalah fondasi yang keras.
Generasi Peralihan (Milenial): Seperti ayam blasteran yang sempat merasakan tidur di pohon, tapi kemudian belajar makan dari dispenser otomatis. Mereka paham pahitnya tanah, tapi tahu cara menikmati kenyamanan.
Generasi Bagus: Ayam potong yang genetiknya dirancang untuk tumbuh cepat, namun rapuh. Jika kipas angin kandang mati lima menit saja, mereka bisa pingsan karena stres.
Malam mulai turun. Suara jangkrik terdengar seperti ancaman bagi Bagus. Ia mulai kedinginan. Kakinya yang gemuk tidak kuat berjalan jauh; ia terbiasa duduk diam agar berat badannya naik demi mencapai target pasar.
"Mbah, aku lapar. Di mana tombol makannya?" tanya Bagus gemetar.
Mbah Jago hanya menunjuk ke arah hutan gelap. "Cakar tanahnya, atau kamu yang dicakar nasib."
Sayangnya, Bagus tidak tahu cara mencakar. Baginya, segala sesuatu harusnya tersedia dalam satu klik—atau dalam hal ini, satu petukan. Ketika seekor kucing hutan muncul dari balik semak, Bagus tidak lari. Ia justru diam, berharap ada "petugas kandang" yang datang menyelamatkannya.
Keesokan paginya, yang tersisa di pinggir jalan itu hanyalah beberapa helai bulu putih yang halus. Bagus tidak bertahan. Ia adalah produk dari kenyamanan yang mematikan. Ia melompat dari mobil untuk bebas, namun lupa bahwa kebebasan tanpa ketangguhan hanyalah jalan pintas menuju "penggorengan" nasib.

Terus berkarya syarifuddin 👍
BalasHapusPosting Komentar