Oleh Vitri Nirmala Shalihah Kasih
Kelas V SD NEGERI RANTAU PANJANG KEC, Karang Baru Aceh Tamiang
Banjir yang melanda Aceh Tamiang pada tanggal 26 November 2025 itu begini ceritanya. Aku tidak tahu di daerah lain. Habis aku pulang dari acara, di halaman rumah kulihat air sudah masuk di halaman. Sudahlah, aku mengantuk dan aku tidur.
Eh, kakak-kakakku terbangun dan aku pun ikut terbangun. Ya, terkejut, air sudah masuk ke kamar. Kakakku mengira hanya segitu airnya. Ia pun tidur lagi. Tapi tidak bisa tidur karena kami gelisah saja. Apalagi angin sangat kencang sampai seng tetangga kami terbang.
Kami banguni papa dan mama karena cepat sekali naik airnya. Kami bangun semua dan kami bereskan baju. Bawa ke lantai 2. Besoknya air dalam rumah sudah sepinggang orang dewasa. Baju-baju sudah dibawa ke atas. Semua barang juga sudah, sempat pula belanja mamaku.
Alhamdulillah sekali, kami bisa naik ke atas dan bersihkan kamar dahulu karena kamar jarang digunakan.
Singkat cerita, aku dan sepupuku sebanyak 4 orang bermain dulu. Kakak -kakakku membantu orangtuaku di kamar atas. Sorenya sepupu dan kakakku ikut juga.
Rencananya besok kami menyusul ke rumah sepupu kami, berjalan, karena dekat. Eh, malah air makin naik. Panik bangat rasanya. Deras sekali airnya mengalir.
Karena sudah malam, kami pun tidur.
Tapi air makin naik, naik dan naik. Aku, mama dan papa terjebak di atas. Ada team SAR pun sudah dipanggil tidak mau bantu. Kayaknya bukan tidak mau menolong, tapi mereka bantu yang berkesusahan dahulu kayaknya.
Karena air semakin naik, kami pun semakin khawatir meratapi hidup kami. Kami bertiga berada di luar. Tiba-tiba Mama nyelutuk, air makin naik. Naik ke atas seng. Kita ikat bertiga. Papa ikat ke mama, aku ikat ke mama. Kalau pun kita mati, setidaknya kita akan mati bertiga: Aku menjawab.
Hush! Tidak boleh begitu, kata Mama.
Papaku menjawab dan berkata, berdoa saja kepada Allah kita selamat semua.
Sudahlah mama. Masak makanan untuk kami makan. Aku buat gambar rumah tetangga depan. Rumahku tinggal atapnya saja yang terlihat. Semua menangis.
Stock makanan habis, stock minuman juga habis. Ambil air lumpur disaring, untung ada kain yang bisa dibuat sebagai penyaring. Kemudian kami lanjut berpikir bagaiamana caranya kabur dari rumah atau kami mau ke atas genteng berhentinya. Selama satu hari, sudah surut airnya sedikit demi sedikit. Kami bertiga pun turun dan selamat. Baju yang tersisa dicuci oleh mama semua.
Yang berlumpur bisa hilang dan bersih, kecuali yang berkarat . Di rumahku lumpurnya setinggi pinggang orang dewasa. Begitu juga di lorong dan halaman rumah.
Selain mencuci pakaian, papa dan abangku mengeluarkan lumpur dari rumah. Setelah semua lumpur dikeluarkan, lanjut mama pula yang membereskan dalam rumah. Cucian sangat banyak dan kakakku juga ikut menyuci benda-benda lain yang harus dicuci. Pokoknya semua dikerjakan oleh mama. Aku dan kakak hanya membantu. Mama sangat capek dan lelah. Hari itu mama melihat sepeda motor. Mama membeli sprite.
Eh, pulangnya, mama sakit tenggorokan. Dikira mama sakit biasa, ternyata makin parah. Mama nggak bisa ngomong. Mama dibawa ke rumah sakit. Dokter pun tidak tahu mama sakit apa. Tiba-tiba pindah ke jantung. Sesak dan setelah itu pindah ke lambung, karena mama tidak makan-makan. Makanya hanya sedikit saja.
Aku dan papa menjaga mama dan setelah itu keluarga mama datang dan masuk dua orang secara bergantian. Setelah itu keluarga mama pun pulang. Tidak begitu lama mereka pulang, mama pun meninggal, pada Jumat 13 Februari 2026.

Posting Komentar