Oleh Don Zakiyamani
Di pinggir kota, rombongan melewati sebuah pemakaman.
Di sana terlihat Bahlūl. Ia duduk sendirian di antara kuburan, memegang tanah, lalu memindah-mindahkannya seperti anak kecil sedang bermain. Kadang ia tersenyum, kadang berbicara sendiri.
Khalifah mendekat.
“Wahai Bahlūl,” katanya, setengah bercanda,
“apa yang sedang kau lakukan di tempat seperti ini?”
Bahlūl menjawab santai:
“Aku sedang berbincang dengan para penghuni istana.”
Khalifah tersenyum heran.
“Ini kuburan, bukan istana.”
Bahlūl menatapnya dalam.
“Tidak, Amirul Mukminin. Justru inilah istana yang sebenarnya.”
Semua orang terdiam. Ia menunjuk makam-makam di sekelilingnya.
“Mereka dulu memiliki rumah besar, pelayan, dan kekuasaan. Sekarang mereka tinggal di sini — tanpa penjaga, tanpa pintu, tanpa gelar.”
Khalifah mulai serius.
Bahlūl melanjutkan:
“Engkau membangun istana yang pasti akan kau tinggalkan. Tetapi engkau menunda memperbaiki rumah yang pasti akan kau tempati.”
Angin berhembus pelan di antara batu-batu nisan.
Tidak ada yang berani berbicara.
Konon, Harun al-Rasyid menundukkan kepala lama sekali. Ia menangis — bukan karena ancaman, tetapi karena kalimat sederhana yang menghancurkan kesombongan kekuasaan.
Bahlūl lalu berdiri dan pergi, meninggalkan khalifah bersama kesunyian kuburan.
Kisah ini diriwayatkan dalam berbagai literatur adab dan zuhud klasik, dan dikenal luas melalui kompilasi kisah para majnun dalam Kitab Kebijaksanaan Orang-Orang Gila (Uqalā’ al-Majānīn), karya Abu al-Qasim an-Naisaburi, serta tradisi hikayat tentang Bahlul al-Majnun pada masa Abbasiyah.

Posting Komentar