Singa yang Sombong


 Oleh Anton Sucipto, SP

Tidak ada hewan yang berani lewat tanpa menunduk setiap kali Singa Leo mengaum keras di tengah hutan. Suaranya mengguncang daun, membuat burung beterbangan, dan hewan kecil bersembunyi ketakutan. Leo yakin satu hal, dialah yang paling kuat, paling hebat, dan paling pantas dihormati di seluruh hutan.


Leo berjalan dengan dada membusung setiap hari. “Aku raja hutan,” katanya berkali-kali. Ia mengejek gajah yang menurutnya terlalu lambat, meremehkan rusa yang dianggapnya penakut, dan menertawakan monyet yang suka bergelantungan. Tidak ada satu pun hewan yang berani membantahnya.

 

Suatu pagi, Leo mengumpulkan semua hewan di lapangan rumput.

“Dengarkan!” katanya lantang. “Siapa pun yang merasa lebih hebat dariku, silakan maju.” Semua hewan saling pandang dan menunduk. Tidak ada yang bergerak. Leo tertawa puas.

 

Namun, dari belakang semak, terdengar suara kecil, “Aku mau maju.”

Semua hewan terkejut. Seekor ayam kecil melangkah ke depan. Bulunya cokelat bersih, matanya jernih, dan jalannya tenang. Leo terbahak-bahak melihatnya. “Ayam kecil? Kau pikir bisa menandingiku?” ejek Leo.


Ayam itu tidak marah. Ia tersenyum. “Kuat bukan hanya soal tenaga,” katanya lembut. “Kuat juga soal pikiran.”

 

Leo tertawa semakin keras. “Baik! Kita adu siapa yang paling hebat!” katanya. Ia menantang Ayam itu dalam sebuah lomba. “Siapa yang bisa mendapatkan makanan paling cepat, dialah pemenangnya.”

 

Leo langsung berlari ke hutan, mengandalkan kekuatannya. Ia mengaum, menakuti hewan lain agar menyerahkan makanan. Namun, semua hewan bersembunyi. Tidak ada yang mau mendekat karena takut.

 

Sementara itu, Ayam itu tidak berlari jauh. Ia mendatangi ladang kecil di pinggir hutan. Ia mengingat bahwa Pak Petani sering menaruh biji-bijian di sana. Dengan sabar dan hati-hati, dan menunggu. Tak lama, ia berhasil mengumpulkan cukup makanan.

 

Saat Leo kembali dengan perut kosong dan wajah kesal, Ayam kecil itu sudah berdiri tenang membawa makanan. Semua hewan bersorak kecil. Leo terdiam. Ia tidak menyangka ayam kecil bisa menang.


Ayam itu mendekati Leo dan berkata, “Kekuatan tanpa akal bisa membuat kita sendirian. Tapi kecerdasan dan sikap baik membuat kita dibantu.”

Leo menunduk malu. Sejak hari itu, ia tidak lagi sombong. Ia belajar mendengarkan dan menghargai hewan lain. Dan ayam cerdas itu, menjadi contoh bahwa siapa pun bisa hebat dengan cara yang baik. Kecerdasan dan sikap baik lebih berharga daripada kekuatan semata.


Penulis : Anton Sucipto SP.

Alumni Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto.

 

0/Post a Comment/Comments

Iklan