Panen Jagung



Oleh Anton Sucipto, SP

 

Pagi itu udara di desa terasa sangat sejuk. Kabut tipis masih menyelimuti kebun jagung milik Kakek Pluto. Burung-burung berkicau riang, seolah ikut menyambut hari panen.


“Aldo, ayo cepat! Jagungnya sudah siap dipanen,” panggil Kakek Pluto sambil membawa keranjang besar.

“Iya, Kek!” jawab Aldo dengan semangat. Ia segera berlari kecil menuju kebun.

Jagung-jagung di kebun itu sudah menguning. Aldo sangat senang karena ini pertama kalinya ia ikut panen jagung secara penuh.


“Kek, jagungnya sudah bisa dipetik ya,” kata Aldo sambil memetik jagung disana.

Kakek Pluto tersenyum. “Iya, betul..Karena dirawat dengan sabar dan rajin.”

Aldo mengangguk. Namun, tiba-tiba wajahnya terlihat murung.


“Kamu kenapa,?” tanya Kakek Pluto lembut.

Aldo berhenti memetik jagung. “Aku kepikiran Dudung, Kek.”

“Dudung? Teman sekolahmu itu?” tanya Kakek Pluto.

“Iya. Sudah beberapa hari dia kelihatan sedih. Katanya dia belum bisa bayar uang sekolah. Ayahnya cuma tukang becak,” jawab Aldo pelan.

Kakek Pluto terdiam sebentar, lalu berkata, “Kamu kasihan sama dia?”


Aldo mengangguk. “Iya, Kek. Aku pengin bantu, tapi aku nggak tahu caranya.”

Kakek Pluto tersenyum bijak. “Kalau begitu, besok ajak Dudung ke sini. Biar dia ikut panen jagung.”

“Masa boleh, Kek?” mata Aldo berbinar.

“Tentu saja boleh. Rejeki itu indah kalau dibagi,” jawab Kakek Pluto.


Keesokan harinya, Aldo mendatangi rumah Dudung.

“Dung!” panggil Aldo dari depan rumah.

Dudung keluar dengan wajah heran. “Ada apa?”

“Ayo ikut aku ke kebun kakekku. Kita panen jagung,” kata Aldo ceria.

“Benarkah? Aku boleh?” tanya Dudung ragu.

 

 

“Boleh dong! Kakekku yang menyruhku kesana, jadi kau tak usahlah malu malu,” jawab Aldo.

Dudung tersenyum.

“Terima kasih, ya..!”


Di kebun jagung, Dudung terlihat sangat bersemangat untuk panen jagung disana.

“Kakek, ini Dudung temanku,” kata Aldo.

“Selamat datang, Dudung,” sapa Kakek Pluto ramah. “Ayo, kita panen bersama.”

“Iya, Kek!” jawab Dudung senang.


Mereka memetik jagung bersama-sama. Kadang mereka tertawa, kadang saling bercanda.

“Hei lihat! Jagungnya besar!” seru Dudung.

“Wah, kalah aku!” Aldo tertawa.

Walaupun mereka pegal dan badan terasa lelah, hati mereka sangat gembira.


Saat panen selesai, Kakek Pluto memanggil mereka.

“Ini untuk kalian. Semoga bermanfaat ya,” kata Kakek Pluto sambil memberikan uang.

Dudung memegang uang itu erat-erat. Matanya berbinar. “Aku bisa bayar uang sekolah,” katanya pelan.


Aldo menatap Dudung, lalu berkata, “Dung, uang punyaku ini buat kamu juga.”

“Lho, kenapa,” kata Dudung kaget.

“Aku ikhlas. Supaya kamu bisa sekolah dengan tenang,” jawab Aldo tersenyum.


Dudung terharu. “Terima kasih, Aldo. Kamu baik sekali.”

Kakek Pluto mengelus kepala Aldo. “Kakek bangga sama kamu.”

Aldo tersenyum bahagia. “Aku senang bisa nolong teman, Kek.”


Sejak hari itu, Dudung bisa kembali belajar dengan tenang. Dudung dan Aldo semakin akrab.

Aldo belajar satu hal penting berbagi dan menolong sesama membuat hati menjadi bahagia.


Penulis Anton Sucipto SP.

Alumni Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto.

Tulisannya dimuat oleh media cetak dan online.

 

0/Post a Comment/Comments

Iklan