![]() |
| Ilustrasi oleh AI |
Pagi itu udara di Kota Banda Aceh terasa sejuk. Angin berembus pelan membawa aroma laut yang samar. Di halaman sebuah SD negeri dekat Masjid Raya, anak-anak mulai berdatangan dengan seragam merah putih.
Popon datang lebih awal seperti biasa. Ia berjalan melewati halaman sekolah yang ditumbuhi pohon ketapang besar. Daun-daun kering berserakan di tanah.
Tiba-tiba matanya tertuju pada sesuatu di dekat bangku taman.
Sebuah dompet cokelat.
Popon memungutnya perlahan. Jantungnya berdebar. Ia membuka dompet itu. Di dalamnya ada beberapa lembar uang ratusan ribu, kartu identitas, dan foto seorang anak kecil.
Tak lama, dua temannya datang menghampiri.
“Apa itu, Pon?” tanya Rizki.
“Dompet,” jawab Popon pelan.
Rizki melirik isi dompet itu. “Banyak juga uangnya… bisa buat beli sepatu baru. Siapa tahu rezeki kamu.”
Popon terdiam. Ia memang sudah lama ingin sepatu baru. Sepatunya mulai sempit dan warnanya pudar. Dalam hatinya muncul pergulatan.
Kalau aku ambil sedikit saja? Tidak ada yang tahu…
Namun ia teringat pesan gurunya kemarin tentang kejujuran. Bahwa Allah Maha Melihat, bahkan ketika tidak ada manusia yang melihat.
Popon membuka kartu identitas. Dompet itu milik Pak Rahman, penjaga sekolah yang setiap hari membuka gerbang sejak subuh.
Ia membayangkan wajah Pak Rahman yang selalu tersenyum dan menyapa anak-anak dengan ramah.
Bel hampir berbunyi. Popon menarik napas panjang.
“Aku mau ke ruang guru,” katanya tegas.
“Kamu serius?” tanya Rizki heran.
Popon mengangguk.
Di ruang guru, ia menyerahkan dompet itu. Tak lama, Pak Rahman dipanggil. Wajah lelaki itu tampak cemas saat masuk.
Ketika melihat dompetnya kembali, matanya berkaca-kaca.
“Ini uang untuk membayar cicilan rumah,” ucapnya lirih. “Saya sudah mencarinya sejak pagi.”
Pak Rahman menatap Popon dengan penuh rasa haru.
“Terima kasih, Nak. Kamu anak yang jujur.”
Popon hanya tersenyum. Dadanya terasa hangat, jauh lebih hangat daripada saat membayangkan membeli sepatu baru.
Saat pulang sekolah, teman-temannya menghampirinya.
“Ternyata benar ya, Pon. Pak Rahman cerita tadi di kelas. Kamu hebat.”
Popon menggeleng pelan.
“Bukan hebat… cuma melakukan yang benar.”
Sejak hari itu, Popon dikenal sebagai anak yang bisa dipercaya. Ia belajar bahwa kejujuran memang kadang terasa berat, tetapi ketenangan hati jauh lebih berharga daripada uang sebanyak apa pun.

Posting Komentar