Oleh Tabrani Yunis
Malam itu, meja makan keluarga terasa hangat. Ayah, Ibu, Nayla, Aqila, dan Arisya duduk bersama sambil menikmati nasi dan lauk sederhana. Namun, obrolan mereka bukan sekadar tentang makanan, melainkan tentang sesuatu yang sangat penting: bencana alam.
Obrolan di Meja Makan
Ayah membuka cerita dengan suara serius:
“Anak-anak, tahukah kalian bagaimana keadaan orang-orang yang terkena bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat?”
Nayla, Aqila, dan Arisya menggeleng pelan. Mereka memang belum tahu.
Ayah melanjutkan, “Sayang sekali, mereka sekarang hidup sangat susah. Rumah mereka hancur, sehingga harus tidur di tenda yang sempit dan dingin. Tidak ada kasur empuk, tidak ada bantal nyaman. Bahkan makanan dan pakaian pun kurang. Anak-anak seperti kalian juga kesulitan bersekolah.”
Ketiga anak itu terdiam. Lalu serentak berkata, “Wah, pasti sangat sulit hidup begitu. Kami tidak sanggup, Yah.”
Ayah tersenyum tipis. “Itulah sebabnya kalian harus belajar banyak. Jangan hanya sibuk dengan game di gadget. Gunakan juga untuk mencari ilmu.”
---
Mengenang Tsunami
Ayah lalu mengingatkan, “Kalian tahu, Aceh pernah mengalami tsunami besar pada 26 Desember 2004. Itu bencana yang sangat memilukan. Banyak orang kehilangan keluarga dan rumah. Pulau Sumatera tempat kita tinggal memang rawan gempa, karena berada di atas lempengan besar bernama Megathrust.”
Ketiga anak itu semakin serius mendengarkan. Mereka mulai menyadari betapa pentingnya pengetahuan tentang bencana.
Mengenal Likuifaksi
Ayah bertanya lagi, “Selain gempa, ada juga bahaya lain yang disebut likuifaksi. Ada yang tahu apa itu?”
Ketiganya kembali menggeleng.
“Baiklah,” kata Ayah, “likuifaksi adalah keadaan ketika tanah yang awalnya keras tiba-tiba berubah seperti cairan saat diguncang gempa. Bayangkan tanah yang biasanya kokoh, tiba-tiba seperti pasir basah yang tidak bisa menahan bangunan. Rumah bisa miring, jalan bisa tenggelam, bahkan pohon bisa roboh. Itu sebabnya kita harus tahu cara menyelamatkan diri.”
Mata Nayla membesar. “Jadi tanah bisa berubah seperti lumpur, Yah?”
“Betul sekali,” jawab Ayah. “Itu sebabnya kalian harus belajar tentang likuifaksi. Cari informasi dari buku atau internet, lalu ceritakan kembali minggu ini. Itu tugas belajar kalian.”
---
Pesan Penting
Ibu menambahkan dengan lembut, “Nak, belajar tentang bencana bukan untuk menakut-nakuti, tapi supaya kita waspada. Kalau kita tahu ilmunya, kita bisa lebih siap dan tidak panik.”
Aqila mengangguk mantap. “Baik, Bu. Kami akan mencari tahu dan belajar.”
Arisya tersenyum, “Nanti aku mau buat gambar tentang tanah yang berubah jadi cair.”
Nayla menambahkan, “Aku akan menulis cerita kecil tentang anak-anak yang selamat dari likuifaksi.”
Ayah dan Ibu tersenyum bangga. Mereka tahu, anak-anaknya mulai belajar menjadi pintar, peduli, dan tangguh.
---
Nilai Edukatif dari Cerita
• Empati: Anak-anak diajak merasakan penderitaan korban bencana.
• Pengetahuan: Mereka belajar tentang tsunami, gempa, dan likuifaksi.
• Kesiapsiagaan: Pesan penting agar selalu waspada dan tahu cara menyelamatkan diri.
• Kreativitas: Anak-anak diberi tugas untuk menceritakan kembali dengan ayah secara produktif.

Posting Komentar