Oleh Anton Sucipto, SP
Di sebuah hutan yang hijau dan damai, hiduplah seekor kelinci yang terkenal baik hati, rajin, dan suka menolong. Ia juga pandai memasak. Jika ada pesta di hutan, dia selalu membantu menyiapkan makanan untuk teman-temannya.
Suatu hari, Rusa selaku ketua hutan mengumumkan lomba memasak. “Siapa yang bisa memasak makanan paling enak dan sehat akan mendapat hadiah keranjang wortel emas,” katanya. Semua hewan bersorak gembira. Kelinci itu sangat senang karena ia suka memasak sayur-sayuran segar.
Namun ada satu peserta lain, yaitu gagak hitam. Dia sebenarnya pandai terbang dan mencari makanan, tetapi ia tidak suka berusaha. Ia ingin menang dengan cara cepat. Saat mendengar hadiah lomba, dia tersenyum licik.
Hari lomba pun tiba. Setiap peserta mendapat meja dan bahan makanan sendiri. Kelinci membawa panci kecil, sendok kayu, dan talenan kesayangannya. Ia berniat memasak sup wortel sehat. Sementara itu, Gagak hanya membawa sedikit bahan dan terlihat gelisah.
Ketika Kelinci pergi sebentar untuk mencuci sayuran, Gagak melihat kesempatan. Ia terbang cepat dan mengambil sendok kayu serta talenan milik kelinci lalu menyembunyikannya di balik semak-semak. “Tanpa alat masak, dia pasti kalah,” pikir gagak sambil terkekeh.
Saat kembali, Kelinci terkejut. Alat masaknya hilang. Ia mencari ke kanan dan ke kiri, tetapi tidak menemukannya. Waktu lomba hampir habis. Dia merasa sedih, tetapi ia tidak marah. Ia menarik napas dan berkata dalam hati, “Aku harus tetap berbuat baik.”
Dengan alat seadanya, dia memasak menggunakan batu datar sebagai alas potong dan ranting bersih sebagai pengaduk. Ia memasak dengan sabar dan penuh perhatian. Sup buatannya harum dan terlihat segar.
Sementara itu, masakan Gagak tampak asal-asalan. Ia terlalu sibuk memperhatikan Kelinci daripada memasak dengan sungguh-sungguh.
Saat juri mencicipi masakan, mereka tersenyum saat mencoba sup Kelinci itu.
“Rasanya enak dan menyehatkan,” kata Rusa. Ketika mencicipi masakan Gagak para juri saling berpandangan dan menggeleng pelan.
Akhirnya, Kelinci diumumkan sebagai pemenang. Semua hewan bertepuk tangan. Gagak merasa malu. Ia menunduk dan mendekati Kelinci.
“Maafkan aku. Aku sudah berbuat curang,” katanya dengan suara pelan.
Kelinci tersenyum. “Aku memaafkanmu. Lain kali, menanglah dengan usaha sendiri,” jawabnya lembut.
Sejak hari itu, Gagak berubah menjadi lebih jujur. Kelinci tetap dikenal sebagai kelinci yang baik, bukan hanya karena masakannya, tetapi juga karena hatinya. Kejujuran dan kebaikan hatinya akan selalu membawa hasil yang baik.
Penulis : Anton Sucipto SP.
Alumni Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto.

Posting Komentar