Dudung Menemukan Dompet



Oleh Anton Sucipto, SP

 

Dudung adalah anak yang pandai dan  tidak sombong. Setiap pagi, sebelum berangkat sekolah, Dudung membantu ibunya membuat onde-onde. Ibunya berjualan onde-onde keliling kampung dengan keranjang anyaman. Walaupun hidup mereka sederhana dan sering kekurangan, Dudung tidak pernah malu. Ia justru bangga pada ibunya yang rajin dan jujur.


Suatu pagi yang cerah, setelah membantu ibunya, Dudung berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Di tengah jalan, dekat pohon yang tinggi, ia melihat sesuatu tergeletak di tanah. Sebuah dompet kulit berwarna hitam.


Dudung menoleh ke kanan dan ke kiri. Tidak ada siapa pun di sekitar situ. Ia pun mengambil dompet itu dan membukanya perlahan.

“Wah… ada uangnya banyak sekali,” gumam Dudung pelan.


Di dalam dompet itu ada beberapa lembar uang, sebuah kartu ATM, KTP dan foto kakek tua. Dudung tahu itu adalah foto kakeknya Bondan.

Bondan adalah teman sekelas Dudung. Bondan anak yang baik, tetapi sering kesulitan mengerjakan tugas sekolah. Dudung biasanya membantu Bondan belajar sepulang sekolah.


Dudung menutup kembali dompet itu. Hatinya berdebar. Ia teringat ibunya yang sering kekurangan uang untuk membeli bahan membuat onde-onde. Uang di dompet itu pasti bisa membantu mereka. Namun Dudung menggelengkan kepala.


“Ini bukan uangku. Kalau Kakek Bondan kehilangan dompetnya, pasti beliau sedih,” pikir Dudung.

Sesampainya di sekolah, Dudung melihat Bondan duduk termenung di bangkunya.


“Bondan, kenapa kamu murung?” tanya Dudung.

Bondan mengangkat wajahnya yang tampak cemas. 

“Dudung, Kakek kehilangan dompet tadi pagi. Di dalamnya ada uang untuk bayar obat dan kebutuhan rumah.”

Dudung kemudian tampak mengambil  dompet dari tasnya.


“Apakah ini dompetnya?” tanya Dudung sambil menyerahkan dompet hitam itu.

“Iya! Ini dompet Kakek. Terima kasih, Dudung!” sahut Bondan senang.


Sepulang sekolah, Dudung diajak Bondan ke rumahnya untuk mengembalikan dompet itu langsung kepada Kakek Bondan. Rumah Bondan tidak jauh dari sekolah.


Kakek Bondan yang sudah tua menyambut mereka di teras. Ketika Dudung menyerahkan dompet itu, tangan Kakek bergetar.

“Ya Allah… ini benar dompet Kakek. Terima kasih, Nak. Kakek sudah sangat khawatir,” kata Kakek dengan mata berkaca-kaca.


Kakek membuka dompetnya dan memeriksa isinya. Uang, ATM, dan KTP masih lengkap. Ia memandang Dudung dengan penuh haru.

“Di jaman sekarang ini, masih ada anak sejujur kamu,” ujar Kakek Bondan.


Kakek lalu mengambil beberapa lembar uang dan memberikannya kepada Dudung.

“Ini sebagai tanda terima kasih. Tolong diterima, ya.”


Dudung sempat ragu. “Tidak usah, Kek. Saya hanya mengembalikan yang memang milik Kakek.”

Namun Kakek Bondan tersenyum lembut. “Terimalah. Kakek tahu ibumu bekerja keras berjualan onde-onde. Gunakanlah untuk membantu beliau.”


Akhirnya Dudung menerima uang itu dengan sopan. Ia berjanji dalam hati akan memberikannya kepada ibunya.

Sesampainya di rumah, Dudung menceritakan semuanya kepada ibunya. Ibunya memeluk Dudung erat.


“Ibu bangga sekali punya anak yang jujur,” kata ibunya sambil tersenyum haru. “Rejeki yang baik datang dari hati yang baik.”

Uang pemberian Kakek Bondan digunakan untuk membeli bahan onde-onde dan sedikit beras. Jualan ibunya menjadi lebih banyak dan laris.


Sejak kejadian itu, persahabatan Dudung dan Bondan semakin erat. Bondan semakin rajin belajar, dan Dudung tetap setia membantu temannya mengerjakan tugas sekolah.


Dudung belajar bahwa kejujuran memang tidak selalu mudah, apalagi saat kita sedang membutuhkan. Tetapi dengan berbuat jujur, hati menjadi tenang dan kebaikan akan kembali kepada kita dengan cara yang tidak disangka-sangka.

Persahabatan, kejujuran, dan saling membantu adalah harta yang lebih berharga daripada uang. Dan meskipun hidup sederhana, hati yang baik akan membuat hidup terasa kaya.


Penulis:

Anton Sucipto SP.

Alumni Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto fakultas pertanian. 

 

0/Post a Comment/Comments

Iklan