Oleh Tabrani Yunis
Di sebuah desa di Aceh, hiduplah seorang anak kecil bernama Arisya Anum. Usianya masih sangat muda, ia baru belajar di PAUD. Arisya adalah anak yang ceria dan suka belajar hal-hal baru.
Suatu sore, ayah dan ibu mempertemukan Arisya dengan seorang guru ngaji. Guru itu ramah sekali, dan ia akan membimbing Arisya belajar membaca Al-Quran.
Di Aceh, ada tradisi indah: anak-anak biasanya belajar mengaji di bale Beut, sebuah balai pengajian. Di sana, banyak teman sebaya Arisya belajar bersama. Tetapi kali ini, Arisya belajar di rumah, ditemani guru ngajinya.
Malam itu adalah malam pertama Arisya belajar mengaji. Guru memperkenalkan Iqra 1, buku kecil yang berisi huruf-huruf Arab.
“Coba baca dengan suara, ya,” kata guru ngajinya.
Arisya pun mulai mengeja huruf-huruf dengan semangat. Ternyata, ia cepat sekali mengingat apa yang dibaca. Guru ngajinya tersenyum dan berkata:
“Bagus sekali, Arisya! Kamu anak yang rajin dan pintar.”
Hari demi hari, Arisya terus belajar. Setelah selesai Iqra 1, ia akan naik ke Iqra 2, lalu Iqra 3, hingga Iqra 6. Jika sudah selesai, Arisya akan mampu membaca Al-Quran dengan lancar.
Ayah dan ibu selalu berdoa agar Arisya tidak hanya bisa membaca, tetapi juga memahami makna ayat-ayat Al-Quran. Mereka berharap Arisya tumbuh menjadi anak yang cerdas, berakhlak baik, dan suatu hari bisa mengajarkan orang lain mengaji.
Arisya pun berjanji dalam hatinya:
“Aku akan belajar sungguh-sungguh. Nanti, kalau sudah pandai, aku ingin membantu teman-temanku belajar mengaji juga.”
---
✨ Pesan Edukatif
• Belajar mengaji sebaiknya dimulai sejak dini.
• Membaca Al-Quran bukan hanya untuk bisa melafalkan, tetapi juga untuk memahami maknanya.
• Semangat, rajin, dan dukungan orang tua akan membuat anak lebih mudah belajar.
• Anak yang rajin belajar bisa menjadi teladan dan membantu orang lain.

Posting Komentar