Oleh Tabrani Yunis
Suatu sore, Ayah sedang menonton berita di televisi. Di layar, terdengar kata korupsi disebut berulang kali. Arisya, yang sedang asyik bermain dengan mainan edukatif pemberian Ayah dari POTRET Gallery, tiba-tiba berhenti dan bertanya:
“Ayah, korupsi itu apa sih? Kenapa sering disebut-sebut di televisi?”
Ayah tersenyum, lalu menatap Arisya dengan penuh kasih.
“Arisya belum tahu apa itu korupsi?” tanya Ayah.
Arisya menggeleng. Ia benar-benar penasaran.
Ayah pun mulai menjelaskan sambil membelai rambut putrinya.
“Nak, korupsi itu perbuatan yang tidak baik. Korupsi berarti mengambil sesuatu yang bukan miliknya, atau berbohong demi keuntungan diri sendiri. Itu dilarang oleh agama dan juga oleh negara.”
Arisya mengernyitkan dahi.
“Jadi… seperti mencuri ya, Ayah?”
“Betul sekali,” jawab Ayah. “Misalnya, kalau ada anak yang mengambil uang kas kelas untuk membeli mainan pribadi, itu sama dengan korupsi. Sama-sama merugikan orang lain.”
Arisya mulai mengerti.
“Kalau begitu, orang yang korupsi itu sama saja dengan pencuri, ya Ayah?”
“Ya, benar. Bedanya, pencuri sering disebut maling, sedangkan orang yang korupsi disebut koruptor. Tapi keduanya sama-sama tidak jujur dan tidak amanah.”
Ayah lalu memberi contoh lain:
“Bayangkan kalau Arisya dipercaya menjaga kantin sekolah. Kalau Arisya mengambil uang lebih banyak dari seharusnya, itu juga korupsi. Karena tidak jujur.”
Arisya mengangguk mantap.
“Kalau begitu, Arisya tidak mau jadi koruptor. Arisya mau jadi anak yang jujur dan amanah.”
Ayah tersenyum bangga.
“Itulah yang Ayah harapkan. Agama kita mengajarkan untuk mencari rezeki yang halal. Kalau kita jujur dan amanah, hidup kita akan diberkahi Allah.”
--
Nilai yang Bisa Dipetik
• Kejujuran: selalu berkata benar.
• Tanggung jawab: menjaga barang bersama.
• Integritas: melakukan hal yang benar meski tidak ada yang lain yang melihat

Posting Komentar