Oleh: Tabrani Yunis
Suatu sore, Aqila duduk di ruang tamu sambil asyik bermain game di gadgetnya. Tiba-tiba ayah berkata dengan suara serius,
“Awas Aqila, ada aksi grooming yang bisa mengintai kamu.”
Aqila berhenti sejenak. Ia mengernyitkan dahi, lalu bergumam,
“Grooming? Apa itu grooming, Ayah?”
Ayah tersenyum, lalu duduk di samping Aqila.
“Grooming itu adalah cara orang jahat mendekati anak-anak lewat internet. Mereka berpura-pura jadi teman baik, suka memberi pujian, hadiah, atau perhatian. Tapi sebenarnya, mereka punya niat buruk. Mereka ingin membuat anak percaya, lalu memanfaatkan atau menyakiti.”
Lalu ayah lanjut bertanya, kamu tahu bagaimana Grooming terjadi?
Tidak, jawab Aqila sambil menggelengkan kepalanya.
Ayah pun melanjutkan ceritanya: Begini nak caranya.
Na, orang jahat itu bisa mengirim pesan manis, seolah-olah peduli. Mereka bisa mengajak ngobrol setiap hari, membuat anak merasa istimewa. Selanjutnya, lama-lama, mereka meminta foto pribadi, rahasia, atau bahkan mengajak bertemu.
Aqila mulai merasa ngeri.
“Jadi orang itu bisa berpura-pura jadi teman, padahal mau menipu?”
Ayah mengangguk.
“Betul. Itulah bahayanya grooming.”
Jadi sangat berbahaya sekali nak. Kamu sudah tahu apa bahayanya? Tanya ayah lagi
Aqila kembali menggelengkan kepala, tanda tidak tahu.
Ayah menjelaskan lagi: Bahayanya banyak lho. Kamu bisa kehilangan privasi karena membagikan foto atau informasi pribadi.
Kamu juga bisa ditipu untuk melakukan hal-hal yang tidak aman.
Lalu, kamu bisa merasa takut, malu, atau tertekan.
Aqila menunduk.
“Seram sekali, Ayah. Kalau itu terjadi pada Aqila, apa yang harus Aqila lakukan?”
Kalau itu seram dan menakutkan, kamu harus tahu cara untuk menghindarinya.
Cara menghindari Grooming itu, nasihat ayah,
Kamu jangan mudah percaya pada orang asing di internet. Jangan pernah kirim foto atau rahasia pribadi kepada orang yang tidak dikenal. Lalu, kalau ada pesan aneh atau mencurigakan, segera cerita kepada orang tua atau guru. Agar tidak terus diganggu, blokir dan laporkan akun yang membuat tidak nyaman. Yang lebih penting juga, gunakan gadget dengan bijak, jangan terlalu lama dan selalu hati-hati.
Tapi ayah, lajut Aqila. Seandainya saat ini ada yang melakukan grooming pada kita, apa yang harus kita lakukan.
Ayah kembali menasihati Aqila.
Ayah menatap Aqila dengan penuh kasih.
“Kalau kamu merasa ada orang yang mencoba grooming, jangan diam. Segera hentikan percakapan, simpan buktinya, lalu ceritakan kepada Ayah, Ibu, atau guru. Kamu tidak salah, yang salah adalah orang jahat itu.”
Aqila menarik napas lega.
“Jadi Aqila harus berani bilang, jangan takut, ya Ayah?”
Ayah tersenyum sambil mengusap kepala Aqila.
“Betul sekali. Anak yang cerdas adalah anak yang berani melindungi diri dan tidak mudah ditipu.”
Sejak hari itu, Aqila lebih berhati-hati saat menggunakan gadget. Ia tahu bahwa dunia digital bisa menyenangkan, tetapi juga penuh jebakan. Dengan pengetahuan tentang grooming, Aqila belajar menjadi anak yang cerdas, berani, dan selalu waspada.

Posting Komentar