Oleh: Tabrani Yunis
Di sebuah desa kecil yang dikelilingi hutan lebat, hiduplah seorang anak bernama Lintang. Ia sangat menyukai alam. Setiap pagi, Lintang berjalan ke tepi hutan, menyapa burung-burung, menatap pepohonan tinggi, dan mendengarkan suara angin yang berdesir di antara dedaunan.
Suatu hari, Lintang mendengar suara aneh dari dalam hutan. Bukan suara burung atau angin, tapi seperti… bisikan. Ia mendekat dan mendengarkan.
“Aku sedang sakit…”
“Aku menangis…”
“Tolonglah aku…”
Lintang terkejut. “Siapa itu?” tanyanya pelan.
Tiba-tiba muncullah seekor gajah tua dengan mata yang sedih. “Aku Gajah Gana,” katanya. “Aku penjaga hutan ini. Kami semua sedang berduka.”
Lintang duduk di akar pohon besar. “Kenapa kalian sedih?”
Gajah Gana menghela napas. “Pohon-pohon kami ditebang. Sungai kami keruh. Rumah kami hilang. Hutan kami bicara, tapi manusia tak mau mendengar.”
Lintang menunduk. Ia teringat truk-truk besar yang sering lewat desa, membawa kayu gelondongan. Ia juga ingat banjir yang datang tiba-tiba, menghanyutkan kebun dan rumah warga.
“Banjir itu… air mata hutan,” kata Gajah Gana. “Ketika pohon-pohon tumbang, tanah tak bisa menahan air. Maka air datang, membawa luka.”
Lintang menggenggam tangan Gajah Gana. “Apa yang bisa aku lakukan?”
Gajah Gana tersenyum. “Dengarkan suara hutan. Ceritakan pada teman-temanmu. Tanam pohon. Jaga sungai. Dan jangan biarkan orang-orang serakah merusak alam.”
Sejak hari itu, Lintang menjadi sahabat hutan. Ia mengajak teman-temannya menanam pohon, membersihkan sungai, dan membuat poster bertuliskan:
“Hutan Bicara, Mari Kita Dengarkan!”
Dan setiap kali angin berhembus di antara pepohonan, Lintang tahu: hutan sedang berbisik, mengucapkan terima kasih.
---
Pesan Moral:
Hutan tidak bisa berbicara seperti manusia, tapi ia menyampaikan pesannya lewat banjir, longsor, dan hilangnya hewan-hewan. Kita harus belajar mendengarkan dan menjaga alam, karena jika hutan rusak, yang menderita adalah kita semua.
---

Posting Komentar