![]() |
| Ilustrasi |
Oleh Anton Sucipto, SP
Jawa Tengah
Di sebuah hutan yang asri dan hijau, tempat pepohonan menjulang tinggi dan burung-burung bernyanyi setiap pagi, hiduplah berbagai macam hewan dengan damai. Di antara mereka ada Gongga si Gajah dan Tupi si Tupai. Mereka tinggal di hutan yang sama, namun memiliki kebiasaan dan peran yang sangat berbeda.
Gongga adalah seekor gajah besar dengan tubuh tinggi dan tenaga yang luar biasa kuat. Dengan belalainya, ia mampu mengangkat batang pohon besar, merobohkan semak-semak lebat, dan membantu hewan lain ketika membutuhkan tenaga. Banyak hewan di hutan mengagumi Gongga karena kekuatannya. Namun, tanpa disadari, rasa kagum itu perlahan membuat Gongga merasa dirinya paling penting.
Berbeda dengan Gongga, Tupi adalah seekor tupai kecil yang lincah dan cerdas. Tubuhnya mungil, tetapi gerakannya cepat. Ia pandai memanjat pohon, melompat dari dahan ke dahan, serta mengumpulkan biji-bijian untuk persediaan makanan. Tupi juga dikenal ramah dan suka membantu dengan caranya sendiri, meskipun sering kali perannya terlihat sederhana.
Suatu hari, musim kemarau panjang melanda hutan. Matahari bersinar terik, daun-daun mulai mengering, dan sungai yang biasanya mengalir deras kini menyusut hingga hampir kering. Para hewan merasa cemas karena kekurangan air. Mereka pun sepakat untuk bekerja sama mencari sumber air baru.
Gongga menggunakan belalainya untuk menggali tanah di beberapa tempat yang dianggap masih menyimpan air. Dengan tenaganya, tanah keras pun bisa dibongkar. Sementara itu, Tupi berlari ke sana kemari, memanjat pohon tinggi untuk melihat dari kejauhan, lalu memberi tahu hewan lain jika menemukan tanda-tanda air.
Ketika akhirnya air berhasil ditemukan, Gongga merasa sangat bangga. Ia berkata dengan suara lantang,
“Aku yang paling kuat di hutan ini. Tanpa aku, kalian pasti kesulitan mendapatkan air.”
Ucapan itu membuat beberapa hewan terdiam. Tupi pun mendekati Gongga dan berkata dengan sopan,
“Gongga, memang kamu kuat. Tapi di hutan kita ada budaya gotong royong. Semua punya peran, baik yang besar maupun yang kecil. Tanpa kerja sama, kita tidak akan berhasil.”
Mendengar kata-kata itu, Gongga terdiam. Ia memperhatikan Tupi yang kecil, namun sigap, serta hewan-hewan lain yang saling membantu tanpa merasa paling hebat. Gongga pun menyadari kesalahannya.
“Aku minta maaf,” kata Gongga dengan tulus. “Aku lupa bahwa kekuatan saja tidak cukup. Kita harus saling menghargai.”
Sejak saat itu, Gongga berubah. Ia bekerja bersama Tupi dan hewan lainnya dengan rendah hati. Hutan kembali tenang dan penuh kebersamaan. Semua hewan hidup rukun karena menjaga budaya saling tolong-menolong dan gotong royong.
Penulis : Anton Sucipto SP.
Alumni Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto.

Posting Komentar