Berkejaran Dengan Lumba-Lumba


 



Oleh Tabrani Yunis


Pada suatu pagi cerah di hari Minggu, Nayla, Aqila, dan Arisya meloncat-loncat kegirangan. Hari ini mereka akan berpetualang ke Sabang bersama Ayah dan Bunda! Sabang itu letaknya di Pulau Weh, Aceh—dan untuk ke sana, mereka harus naik kapal dari Pelabuhan Ulee Lhe.


“Ayah, kita naik kapal yang mana?” tanya Arisya sambil memeluk boneka lumba-lumbanya.


“Kita naik kapal cepat Ekspress Bahari,” jawab Ayah sambil tersenyum. “Hanya 45 menit, dan kita bisa melihat laut biru yang luas!”


“Waaah, seru!” teriak Nayla dan Aqila bersamaan.


Begitu kapal mulai melaju, angin laut menyapa wajah mereka. Ombak kecil berkejaran, dan langit biru cerah seperti melambai-lambai. Tiba-tiba…


“Lihat! Lumba-lumbaaa!” teriak Nayla sambil menunjuk ke arah laut.


Benar saja! Sekelompok lumba-lumba muncul dari dalam air, melompat-lompat ceria di samping kapal. Mereka seperti sedang bermain dan berlomba dengan kapal!


“Cepat, cepat! Siapa yang menang, kapal atau lumba-lumba?” seru Aqila sambil tertawa.


Lumba-lumba itu melompat tinggi, lalu menyelam dan muncul lagi di sisi lain. Mereka seperti berkata, “Ayo, kejar kami kalau bisa!”


Arisya menempelkan wajahnya ke jendela kapal. “Mereka seperti penari laut! Cantik sekali!”


Semua penumpang di kapal ikut bersorak dan bertepuk tangan. Suasana jadi sangat meriah. Bahkan Bunda ikut merekam momen itu dengan ponselnya.


“Ini perjalanan paling seru!” kata Nayla sambil tersenyum lebar.


Sesampainya di Pelabuhan Balohan, lumba-lumba itu melambai dengan siripnya, seolah berkata, “Sampai jumpa lagi, teman-teman!”


Sejak hari itu, Nayla, Aqila, dan Arisya selalu bercerita tentang petualangan mereka. Bagi mereka, Sabang bukan hanya pulau yang indah, tapi juga tempat di mana mereka pernah berkejaran dengan sahabat laut yang lucu—para lumba-lumba!


0/Post a Comment/Comments

Iklan