Oleh TabraniYunis
Hari itu, matahari bersinar sangat cerah di langit Banda Aceh. Panasnya terasa sampai ke kulit! Ayah mengajak Aqila dan Arisya jalan-jalan sore keliling kota. Mereka duduk manis di dalam mobil sambil menikmati pemandangan.
Saat mobil melintasi Jalan Tgk. Mohammad Daut Bereueh, Aqila yang duduk di belakang ayah tiba-tiba menunjuk ke sebuah papan di tengah jalan.
“Lihat, Kak! Itu ada tulisan ‘Jalur Evakuasi’!” serunya.
Arisya yang duduk di sebelahnya langsung penasaran.
“Evakuasi? Apa itu, Kak?” tanyanya sambil mengerutkan dahi.
Aqila berpikir sejenak, lalu menjawab dengan ragu.
“Hmm… itu kayaknya jalan lari kalau ada bencana, deh.”
Ayah tersenyum mendengar percakapan mereka.
“Betul, Aqila. Evakuasi itu berasal dari bahasa Inggris, evacuate, yang artinya mengosongkan atau mengungsikan. Maksudnya, kita harus segera pergi dari tempat yang berbahaya untuk menyelamatkan diri.”
“Ooo… jadi jalur evakuasi itu jalan khusus buat lari kalau ada bencana, ya?” tanya Arisya sambil membayangkan orang-orang berlari.
“Iya, Nak,” jawab Ayah. “Kalau terjadi gempa, tsunami, atau bencana lain, kita harus tahu ke mana harus pergi. Jalur evakuasi itu seperti peta penyelamat. Biasanya ditandai dengan papan petunjuk berwarna hijau dan gambar orang berlari.”
Aqila menambahkan dengan semangat,
“Jalan ke bandara juga bisa jadi jalur evakuasi, kan, Yah? Tapi harus lebar, biar nggak macet!”
Ayah mengangguk.
“Benar sekali, Nak. Jalan dari Ulee Kareng ke Bandara SIM itu penting sekali. Pemerintah harus memastikan jalur itu cukup luas dan aman. Soalnya, Aceh ini termasuk daerah rawan bencana. Kita hidup di dekat patahan besar yang disebut megathrust.”
Arisya membuka mulutnya lebar-lebar.
“Megathrust? Wah, kayak nama robot raksasa!”
Semua pun tertawa.
“Bukan robot, Sayang,” kata Ayah sambil tersenyum. “Itu nama untuk patahan bumi besar di dasar laut yang bisa menyebabkan gempa besar dan tsunami.”
Aqila dan Arisya saling berpandangan. Mereka jadi lebih paham bahwa papan kecil bertuliskan “Jalur Evakuasi” itu ternyata sangat penting.
“Yuk, nanti kita belajar bareng cara evakuasi yang benar,” ajak Aqila.
“Setuju!” sahut Arisya. “Biar kalau ada bencana, kita bisa selamat dan bantu orang lain juga!”
Ayah tersenyum bangga. Hari itu, bukan hanya jalan-jalan yang mereka dapatkan, tapi juga pelajaran berharga tentang keselamatan dan kesiapsiagaan.

Posting Komentar