Rindu Sekolah Lagi

 



Oleh Tabrani Yunis


Di sebuah desa kecil di Aceh Tamiang, tinggal empat sahabat: Rudi, Amir, Santi, dan Meri. Mereka adalah murid kelas 4 di sebuah SD Aceh Tamiang. Setiap pagi, mereka berjalan bersama ke sekolah sambil tertawa dan bercerita. Mereka suka belajar, bermain di halaman sekolah, dan mendengarkan cerita dari Bu Guru.


Namun, suatu hari, hujan turun sangat deras. Hujan itu tidak berhenti-henti selama berhari-hari. Sungai meluap, air mengalir deras membawa lumpur dan kayu-kayu gelondongan besar -besar sekali dari hutan. Banjir bandang datang begitu cepat, menyapu, merusak rumah-rumah, jembatan, dan  juga sekolah mereka.


Ketika hujan belum juga reda, desa mereka berubah. Banyak rumah rusak, jalanan berlumpur, dan putus, jembatan patah dihantam kayu-kayu besar dan sekolah mereka pun ikut hancur. Ya, gedung sekolah tertimbun lumpur dan kayu gelondongan. Tidak ada lagi ruang kelas, papan tulis, atau bangku-bangku tempat mereka biasa belajar.


Kini sudah lebih dari dua minggu Rudi dan teman-temannya tidak bisa sekolah. Setiap pagi, mereka duduk di bawah pohon besar dekat bekas sekolah mereka. Mereka saling bercerita tentang pelajaran yang mereka rindukan, tentang Bu Guru yang selalu tersenyum, dan tentang cita-cita mereka.


“Aku rindu belajar matematika,” kata Rudi.


“Aku rindu membaca cerita di perpustakaan,” sahut Santi.


“Aku ingin cepat sekolah lagi, supaya bisa jadi dokter,” ucap Meri sambil memeluk buku catatannya yang basah.


Amir hanya diam. Ia menatap puing-puing sekolah mereka dengan mata berkaca-kaca.


Meski sedih, mereka tidak menyerah. Setiap hari, mereka membantu orang tua membersihkan rumah mereka yang dipenuhi lumpur, pasir dan berbagai macam sampah. Mereka juga sadar bahwa mereka masih harus tetap belajar. Maka, belajar bersama di bawah pohon, menggunakan buku-buku yang masih bisa diselamatkan adalah aktivitas yang membuat mereka sedikit terhibur. Mereka dengan penuh harapan menunggu ada orang yang membawa bantuan.



Alhamdulilah ternyata ada orang baik yang datang membawa bantuan. Mereka membawa bantuan alat sekolah. Mereka  datang beberapa orang membawa papan tulis, buku, dan alat-alat belajar. Mereka berkata, “Kami datang untuk membantu membangun sekolah darurat. Kalian bisa belajar lagi!”


Wajah Rudi, Amir, Santi, dan Meri langsung bersinar. Mereka saling berpelukan dan bersorak gembira.


Akhirnya, meski hanya di tenda sederhana, mereka bisa belajar lagi. Rindu mereka pada sekolah perlahan terobati. Mereka tahu, meski bencana telah merusak banyak hal, semangat untuk belajar tidak akan pernah padam.


0/Post a Comment/Comments

Iklan