Oleh Tabrani Yunis
Di sebuah desa bernama Meurandeh, Alue, Kecamatan Ulee Glee, Pidie Jaya, tinggal seorang murid kelas II SD bernama Arisya Anum. Suatu pagi, pada jam pertama dimulai, Arisya Anum duduk serius di kelas, mengikuti pelajaran bersama teman-teman sekelas. Matanya berbinar penuh rasa ingin tahu. Di depan kelas, Bu Guru Aminah sedang menjelaskan tentang kondisi hutan Indonesia yang sedang sakit.
“Hutan kita sedang rusak, anak-anak,” kata Bu Aminah. “Banyak pohon ditebang untuk membuka berbagai keperluan. Ada yang membuka kebun sawit, tambang, dan kegiatan lainnya. Hutan menjadi gundul dan rusak. Kalau hutan terus digunduli, kita bisa terkena berbagai macam bencana.”
Arisya Anum mengangkat tangan. “Tapi, Bu… kalau hutan diganti dengan pohon sawit, bukankah tidak apa-apa? Kata Pak Presiden Prabowo, sawit itu juga pohon.”
Ya, apa bedanya? Benar kan bu?
Bu Aminah terkejut, lalu tersenyum dan menjawab, “Benar, Arisya Anum, sawit memang pohon. Tapi pohon sawit berbeda dengan pohon-pohon di hutan. Hutan itu rumah bagi banyak makhluk hidup—burung, harimau, gajah, dan tumbuhan langka, tumbuhan herbal dan sebagainya. Pohon-pohon di hutan saling terhubung dan menjaga keseimbangan alam.
Sementara kebun sawit hanya ditanami satu jenis pohon, dan itu tidak cukup untuk menjaga alam tetap sehat.” Sawit itu rakus terhadap air, tapi tidak bisa menyimpan air di hutan. Kalau hutan kita lebat dan terjaga, seberat apa pun hujannya masih bisa diserap oleh akar-aksara kayu di hutan. Kalau sawit? Air hujan langsung turun dan menyebabkan banjir bandang.
Arisya mengangguk pelan, lalu bertanya lagi, “Kalau begitu, kenapa masih banyak orang menebang hutan untuk kebun sawit? Apakah mereka tidak tahu kalau hutan itu penting?”
Bu Aminah menarik napas dalam. “Itulah yang harus kita ubah, Nak. Banyak orang belum sadar. Padahal, kalau hutan rusak, kita bisa terkena banjir bandang, tanah longsor, dan bencana lainnya. Itulah yang menyebabkan terjadi banjir bandang dan tanah longsor di daerah kita bulan November lalu, yang sangat memilukan dan menyengsarakan kita. Banyak orang kehilangan rumah, sakit, bahkan sudah lebih 1000 orang meninggal, ribuan orang kehilangan tempat tinggal, dan masih banyak yang hilang. Cobalah lihat, betapa banyak orang sekarang terpaksa mengungsi di tenda dan tinggal si rumah yang tersisa.
“Wah, kasihan sekali…” gumam Arisya Anum.
“Karena itu,” lanjut Bu Aminah, “kita semua punya tanggung jawab menjaga hutan. Kita harus merawatnya, tidak menebang sembarangan, dan belajar mengelola alam dengan bijak. Kalau kita jaga hutan, hutan juga akan menjaga kita.”
Arisya tersenyum. Dalam hati, ia berjanji akan menjadi penjaga hutan kecil yang berani.

Posting Komentar