Jafar Shadiq Siregar (7th)
Tak terasa sudah tiga tahun Raisa pergi, ia adalah sepupuku, sekarang umurnya 6 tahun, waktu ia berumur 3 tahun, ia harus ikut ayahnya karena ibu dan ayahnya sudah berpisah dan aku tidak bisa bermain lagi dengannya. Hatiku sediiiiih sekali tidak bisa bermain lagi dengan Raisa. Biasanya di hari Minggu, aku, bang Wahyu dan Raisa suka pergi ke laut bersama. Bang Wahyu adalah abangnya Raisa.
Kami pergi bersama mobil yang dikemudikan mamak. Di dalam mobil juga ikut ibunya bang Wahyu dan Raisa dan Umi Lala, adiknya mamak. Di dalam mobil kami suka bernyanyi dan bercerita bersama. Umi lala juga punya anak, Bilal dan Latief namanya. Jadi sepupuku semuanya ada 4, eh salah, ada satu lagi, Dek Ipin namanya, ia anak om mamat. Jadi aku punya 5 sepupu.
Tiba-tiba, pas aku ke rumah nenek, nenek bilang kalau dek Raisa baru saja datang ke rumah nenek dan mencari aku, kebetulan aku tidak ada di rumah karena sedang pergi minum kopi bersama mamak. “Jeh, nenek kenapa gak telepon kalau dek Raisa ada datang?” tanyaku dengan kecewa. “Akui ngiiin sekali berjumpa sama Raisa.” “Aduuuuhhh, maaf innenek ya, nenek lupa tadi karena senang sekali bisa jumpa Raisa,” jawab nenek dengan sedikit sedih. “Ya udahlah nek, gak papa, nanti biar kami susul aja ke rumah Bu Sri,” jawabku sambil bergegas menuju ke rumah bu Sri, ibunya Raisa dan bang Wahyu.
Kamipun buru buru masuk ke dalam mobil. Sambil terus mengemudi dengan kencang, mamak tampak sangat sedih teringat dek Raisa. Kata mamak, dek Raisa minum ASI sama mamak selama 1 bulan karena umur kami Cuma beda 1 tahun. “Hati-hati mak bawa mobilnya,” nasihatku samamamak karena kami hampir saja menabrak kendaraan lain. “Iya nak, mamak cuma khawatir kalau kita tidak sempat berjumpa dengan dek Raisa,” Jawab mamak.
Tak seberapa lama, kira kira 10 menit dari rumah, sampailah kami di rumah Raisa, rumahnya terletak di pinggiran sungai Krueng Aceh, kampong Surabaya namanya. Kami jalan lewat bantaran sungai, jalannya masih jelek karena belum diaspal. Untung sore ini gak hujan, jadi gak berlumpur jalannya. Kalau hujan, mobil kecil kami yang berwarna biru muda ini pasti deh jadi berlumpur bannya.
“Dek Raisaaaa, dek Raisa…. Assalamualaikuummm,….” Ucapku sambil mengetuk pintu.“Bang Wahyuuu…., bang Wahyu….” Panggilku lagi. Tapi pintu tak juga dibuka. Hmmm… rumahnya kelihatan tidak ada orang. “Loh, kok sepi ya mak?” tanyaku sama mamak yang berdiri di belakangku. Mamakpun ikut mengetok pintu sambil memanggil nama buk Sri.
Tak lama pintupun dibuka, tapi yang buka Kak Leni, agak lama dia buka karena baru habis dari kamar mandi. Ia tinggal di rumah itu untuk bantuin buk Sri jualan nasi pagi. “Dek Raisa gak ada, dia baru saja pergi lagi ke persimpangan, ayahnya jemput dia di sana, diantar oleh bu Sri dan Wahyu.” Kata Leni.
Meski kecewa karena tidak bisa ketemu dek Raisa, kamipun tetap menunggu bang Wahyu pulang sampai maghrib datang, akhirnya, merekapun sampai, “kok gak telepon sih, kalau ada Raisa disini?” ucap mamak gak sabar. “Itulah, tiba-tiba saja Raisa diantar ke depan rumah, kami terkejut karena tidak dikabarkan ayahnya terlebih dahulu, ayahnya bilang akan kembali jemput satu jam lagi. Kamipun langsung ajak Raisa ke rumah nenek setelah dimandikan dan ganti baju di rumah,” jawab bu Sri sambil memasukkan motor ke dalam rumah.
Buk Sri tampak lelah dan sedih menceritakan tentang keadaan dek Raisa, “udah kurus sekali dia, katanya dia ingin menginap, tapi takut tak diizinkan ayahnya” tambah bu Sri sambil menyeka air matanya. Mamak pun ikut menangis, akupun ikut sedih.
Karena aku masih kecil, mamak dan bu Sri tak mengizinkan aku mendengar pembicaraan merekaselanjutnya, jadi akupun bermain dengan bang Wahyu, kami main game minecraft di HP. Sambil main kami juga nontonfilm Batman begins di TV. “Coba kalau ada Raisa, pasti kitabisa main bertiga ya bang, kayak dulu lagi,” ucapku sambilmain dan nonton. “Iya, tadi kami pergi kerumah nenek dandikasih jajan, habis tu, kerumahmu, tapi kamu gakda, jadikami pulang lagi. Gak lama, dah dijemput lagi sama ayah.” Kata bang Wahyu.
“Kapan dek Raisa pulang lagi bang?” tanyaku lagi, “gak tau juga, Alhamdulillah… meski sebentar, abang senang hari ini bisa ketemu dia, semoga Allah swt memberi kesempatan buat kita bisa cepat kumpul lagi dengan dek Raisa ya..” tambah bang Wahyu. “ Ya bang, kami rindu kali sama dek Raisa, rindu main bersama, mandi laut bersama, makan bersama dan bobok bersama,” jawabku.
Karena dia sudah 9 tahun, bang Wahyu kelihatan sangat sabar berpisah dengan dek Raisa dan Ayahnya. Sebagai anakIndonesia yang cinta damai, bang Wahyu tidak mau melawan dengan orangtuanya, ia cuma berharap orangtuanya bisa berdamai dan ia bisa berkumpul kembali dalam keluarga yang sempurna. Yah, seperti aku yang juga harus bersabar menahan rindu pada Raisa, juga rindu pada Ayahku yang juga telah pergi meninggalkan aku dan mamak.
Syair
Malaikat Sejatiku
Ibu, kaulah malaikat sejatiku
Aku bangga punya ibu yang baik sepertimu
Kau yang melahirkanku
Kau setuju apa yang aku mau
Surga itu ditelapak kakimu, ibu
Surga indah yang mengalir sungai sungai
Aku ingin masuk bersamamu wahai ibu
Mother, you are my angel,
We will be in heaven
I love you forever
Teman Sejati
Setiap hari kami Sarapan bersama dipagi hari
Bermain bersama disiang hari
Bercerita bersama di sore hari
Tidur bersama dimalam hari
PANTUN
1. Mencari kawan harus teliti
Jangan berteman dengan si dengki
Jangan banyak banyak makan mi
Tinggalkanlah urusan duniawi
2. Udah punya gelang
Jangan minta kalung
Udah disedekahi kepada orang
Jangan lagi dihitung – hitung
3. Layang layang terbang melayang
Agar bisa mengejar elang
Sayangilah semua binatang
Agar kasih sayang tidak hilang
4. Lihatlah kebaikan dengan mata
Karena hati selalu menjaga
Lihatlah Aceh kian sejahtera
Karena damai selalu terjaga
5. Jalan -jalan ke hutan tropis
Lihat orang makan lupis
Sendiri bawa ikan tumis
Mudah – Mudahan ke gunung Abi Qubais
(Abi Qubais Adalah Gunung Pertama yang diciptakanAllah. Gunung itu di Makkah )
Karya Jafar Shadiq siregar
JL. HM Taher 17 Cot Masjid Banda Aceh
Untuk kecil kecil punya Karya
Posting Komentar