Kucing dan Tikus



Oleh Anton Sucipto, SP


Di tengah lebatnya pepohonan hutan yang rindang, seekor tikus putih kecil berjalan dengan hati-hati. Ia gemar menjelajah sendirian sambil menikmati sejuknya udara pagi.

Tiba-tiba, langkahnya terhenti. Di balik semak-semak, ia melihat seekor anak kucing berbulu coklat yang tampak kebingungan. Anak kucing itu mondar-mandir sambil mengeong sedih, tersesat dan tak tahu arah jalan pulang ke rumah ibunya.

Tikus putih awalnya tampaknya takut. “Biasanya kucing suka mengejar tikus,” batinnya. Namun, melihat air mata di sudut mata si anak kucing, rasa iba mengalahkan rasa takutnya. Dengan memberanikan diri, tikus putih perlahan mendekat.

"Hai, kenapa kamu menangis sendirian di sini?" tanya tikus putih dengan suara lembut.

Anak kucing coklat itu menoleh. Menyadari yang datang adalah seekor tikus, ia tidak marah. Ia justru mulai bercerita dengan suara parau. "Aku tersesat. Aku terpisah dari ibuku. Ibuku berbulu coklat, tapi sangat cantik karena ada garis putih dan kuning di tubuhnya."

Mendengar ciri-ciri itu, tikus putih langsung berpikir keras. Ia mencoba mengingat-ingat perjalanannya tadi pagi. "Oh ya, sebelum ke sini, aku sempat bersembunyi di balik semak-semak dekat pohon tinggi. Aku melihat seekor kucing dewasa dengan ciri-ciri persis seperti ibumu!"

Wajah anak kucing coklat itu langsung cerah seketika. "Benarkah? Tolong antarkan aku ke sana, kumohon!"

Tikus putih pun setuju. Ia berjalan di depan, memandu anak kucing itu menembus lebatnya hutan.

Tak lama kemudian, mereka tiba di sebuah perempatan jalan kecil yang berada tepat di dekat jembatan kayu yang sudah usang.

"Nah, di sekitar sinilah aku melihat kucing besar tadi!" kata tikus putih sambil menunjuk ke arah semak-semak seberang jembatan.

Seketika itu juga, mata anak kucing coklat terbuka lebar. Ingatannya kembali pulih. "Wah, benar! Aku ingat jembatan usang ini. Dulu aku dan ibuku sering jalan-jalan dan makan ikan-ikan di dekat sini!"

Melihat tempat itu sudah tidak asing lagi, tikus putih merasa tugasnya telah selesai. Ia lantas pamit. "Karena kamu sudah ingat jalannya, aku pergi dulu ya. Aku takut nanti ibumu melihatku dan mengira aku mangsa."

"Tunggu! Jangan pergi dulu," cegah anak kucing.

Namun, tikus putih telanjur berlari kecil dan bersembunyi di balik rumput tinggi karena melihat sosok kucing besar bergaris putih-kuning berjalan mendekat dari kejauhan.

"Ibu!" teriak anak kucing itu girang, lalu berlari memeluk induknya.

Ibu kucing sangat terkejut dan bahagia karena akhirnya bisa menemukan anaknya kembali. Setelah mereda rasa khawatirnya, anak kucing menceritakan semua kebaikan si tikus putih yang telah menolong dan mengantarkannya pulang. Ibu kucing pun merasa sangat berterima kasih dalam hati.

Beberapa hari kemudian, anak kucing coklat itu berjalan-jalan di sekitar hutan untuk mencari sang tikus putih. Berkat bantuan teman-teman hewannya yang lain, ia berhasil menemukan tikus putih yang sedang mencari biji-bijian.

Anak kucing itu menyapa dengan ramah dan membawa hadiah makanan untuk sahabat barunya. Sejak hari itu, si anak kucing dan tikus putih resmi menjadi sahabat karib yang saling membantu.

Kisah persahabatan mereka menyebar luas ke seluruh penjuru hutan. Ibu kucing menceritakan kebaikan tikus putih kepada kucing-kucing lainnya. Berkat ketulusan si tikus putih, perlahan-lahan kebiasaan lama para kucing mulai berubah mereka berjanji tidak akan lagi memburu tikus, melainkan memilih untuk hanya makan ikan saja.


Penulis Anton Sucipto SP.

Alumni Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto.

0/Post a Comment/Comments

Iklan