Oleh Anton Sucipto, SP
Di pinggiran kota, ada seorang anak SD bernama Bimo, anak yang ramah dan rajin belajar. Bimo memiliki cita-cita ingin bisa menunggang kuda. Kalau hanya naik saja, Bimo bisa. Namun, jika kuda sudah berjalan sedikit saja, tubuh Bimo goyah, tangannya gemetar, dan keseimbangannya hilang.
Di kota itu juga ada anak yang terkenal karena jago menunggang kuda, namanya Dudung. Dudung memiliki kuda coklat yang gagah, dan setiap lomba pacuan kuda selalu menang. Setiap anak di kota kagum dengan kemampuannya.
Setiap kali melihat Dudung berlatih, Bimo selalu memerhatikan dari kejauhan. Di dalam hati, Bimo sangat ingin bisa menunggang kuda seperti Dudung, tetapi ia tidak punya siapa-siapa yang bisa membimbing. Bimo hanya bisa membayangkan.
Suatu hari ketika Bimo berjalan-jalan di pinggir hutan kecil dekat desa, ia mendengar suara yang sangat aneh.
"Hiiaa! Hiiaa!" suara itu menggema. Saat mendekat, Bimo melihat seorang kakek tua mengenakan blangkon. Kakek itu menunggang kuda putih yang tampak pintar dan sangat jinak.
“Lho, kamu anak yang sering menonton lomba pacuan itu?” tanya kakek itu sambil tersenyum.
“Iya kek… Saya suka, tapi saya tidak bisa menunggang kuda. Pasti jatuh terus,” jawab Bimo malu-malu.
Kakek itu tersenyum lagi. “Namaku Kakek Pluto. Jika kamu mau, aku bisa membantumu berlatih. Kudaku ini, namanya Bintang, suka menolong anak-anak!”
“Benarkah Kek? Aku mau! Aku ingin bisa menunggang kuda sungguhan!” ujar Bimo.
“Setiap ahli dulu pasti pernah tidak bisa. Yang penting berlatih dan berani mencoba,” jawab Kakek Pluto.
Sejak hari itu, setiap sore Bimo datang ke padang rumput dekat hutan untuk berlatih menunggang kuda bersama Kakek Pluto. Awal-awal, Bimo kesulitan mengatur keseimbangan. Kakinya mudah goyah, tangannya kurang memegang kendali. Namun, Kakek Pluto sabar, tidak pernah marah.
“Harus ingat, Bimo. Menunggang kuda itu bukan soal menguasai, melainkan rukun dengan kudamu,” kata Kakek Pluto setiap hari.
Bintang, kuda putih itu, juga sangat sabar. Jika Bimo hampir jatuh, Bintang langsung berjalan pelan supaya Bimo bisa menjaga keseimbangan.
Bulan demi bulan, Bimo menjadi lebih terampil. Ia sudah bisa berjalan pelan, berjalan agak cepat, hingga berlari kecil. Namun, yang paling penting, ia sudah tidak takut lagi.
Bulan berikutnya, ada kabar dari kota bahwa bulan depan akan digelar lomba pacuan kuda paling besar tahun ini. Dudung pasti ikut, karena ia adalah juara bertahan.
Teman-teman sekolah Bimo berseru, “Bimo, kamu ikut lomba? Tapi kan kamu belum pintar seperti Dudung.”
Bimo tersenyum. “Aku akan mencoba. Aku sudah berlatih!”
Kabar itu sampai ke telinga Dudung. Ia tersenyum meremehkan. “Jika Bimo ikut, sepertinya lomba ini akan sangat mudah.”
Bimo tidak marah. Ia hanya terus berlatih bersama Kakek Pluto setiap hari hingga sore.
Lapangan pacuan kuda di kota sudah ramai. Warga berkumpul, ada yang berjualan jajanan, ada yang membawa bendera warna-warni. Dudung datang mengenakan seragam, menunggang kudanya dengan tampak sangat yakin menang.
Ketika giliran Bimo datang bersama Kakek Pluto dan kuda putih Bintang, orang-orang terheran-heran.
“Wah, siapa itu kuda putihnya?”
“Bimo sekarang menunggang kuda beneran ya..?”
“Kok tampak lebih percaya diri ya?”
Kakek Pluto hanya tersenyum. “Sudah waktunya, Bimo. Ingat napasmu, ingat kudamu. Keduanya harus kompak.”
Lomba dimulai jam 10.00. Kuda-kuda berlari bersamaan, debu mengepul di udara. Dudung langsung memacu kudanya maju dengan sangat cepat. Bimo awalnya berada di tengah, namun ia tidak panik. Saat angin menyapu pipinya, Bimo merasa tenang.
“Harus percaya pada Bintang,” pikir Bimo.
Perlahan-lahan, Bimo menambah kecepatan. Bintang, kuda putih milik Bimo, membalas dengan langkah-langkah yang kuat namun teratur. Bimo menyusul peserta nomor empat, lalu nomor tiga, hingga mendekati Dudung.
Dudung tampak sangat terkejut. “Lho, kok bisa?!”
Bimo terus fokus. Hingga tikungan terakhir, Bintang mengerahkan tenaga ekstra, dan di detik-detik terakhir Bimo berhasil menyalip Dudung!
Sorak-sorai penonton meledak.
“Bimo menang! Bimo menang!”
Bimo berhenti dengan napas megap-megap, namun hatinya sangat bahagia. Dudung langsung mendekat dan berkata agak malu, “Aku tidak menyangka kamu bisa mengalahkanku!”
Bimo tersenyum. “Aku hanya berlatih dan percaya pada kudaku.”
Kakek Pluto mendekat. “Aku bangga. Kamu sudah membuktikan bahwa siapa pun yang bekerja keras dan berani mencoba, pasti akan maju.”
Sejak hari itu, Bimo tidak hanya menjadi juara pacuan kuda, tetapi juga menjadi contoh bagi anak-anak lain bahwa keberanian dan latihan dapat mengalahkan rasa takut serta kesulitan. Pacuan kuda di kota menjadi semakin meriah karena semua anak ingin belajar bersama Bimo dan Kakek Pluto yang bijaksana.
Penulis Anton Sucipto SP.
Alumni Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto.

Posting Komentar