![]() |
| Ilustrasi oleh AI |
Oleh Robert Hung, siswa kelas 8 di Tzu Chi Secondary School PIK, Jakarta
Kanekes, Pulung, dan Seba adalah tiga remaja yang berasal dari Desa Kanekes. Mereka adalah sahabat dekat yang hampir selalu menghabiskan waktu bersama. Setiap hari, mereka bermain di bawah matahari yang terik, berteriak-teriak di tengah desa, dan terkadang mencuri buah-buahan tetangga.
Walaupun Kanekes sering berbuat jahil, mereka tetap bisa tertawa dan merasa senang bersama.
Suatu hari, mereka pernah mencuri buah mangga milik seorang tetangga. Kanekes memanjat pohon, sementara Seba dan Pulung berjaga agar mereka tidak ketahuan. Namun, tiba-tiba Seba mendengar suara beberapa warga yang mendekati tempat mereka.
“Kanekes, cepat turun! Kita ketahuan!” Kanekes segera turun dan mereka bertiga berlari sekencang mungkin. Namun, usaha mereka sia-sia. Mereka tetap tertangkap oleh warga. Bagi mereka, kejadian itu menjadi salah satu kenangan paling seru dalam persahabatan mereka.
Namun, kejahilan Kanekes sebenarnya bukan tanpa alasan. Berbeda dengan Seba dan Pulung yang mendapatkan perhatian dari keluarga mereka, Kanekes sering merasa diabaikan oleh orang tuanya. Ia bahkan sering mendapatkan perlakuan kasar di rumah dan jarang mendapatkan perhatian yang ia butuhkan.
Selama bertahun-tahun, Kanekes memendam perasaan tersebut. Ia hanya ingin diperhatikan. Sayangnya, ia tidak tahu bagaimana cara mendapatkan perhatian itu selain melalui kejahilannya.
Suatu sore, pukul tiga, mereka bertiga kembali berkumpul di bawah sebuah pohon. Mereka bermain dengan ranting-ranting yang jatuh sambil tertawa bersama. Kanekes memperhatikan Seba dan Pulung yang sedang bermain.
Perlahan, perasaan kesepian yang selama ini ia pendam kembali muncul. Tawa mereka terdengar semakin jauh di telinga Kanekes. Untuk sesaat, ia merasa seolah-olah dirinya tidak termasuk dalam kebahagiaan mereka. Tiba-tiba, sesuatu di dalam dirinya berubah. Kanekes menusuk telapak tangan Seba.
Seba terkejut dan langsung kesakitan. Pulung pun tidak percaya dengan apa yang baru saja dilakukan Kanekes. Persahabatan mereka yang selama ini terasa begitu dekat mulai hancur dalam satu kejadian.
Setelah kejadian itu, Kanekes pulang dengan perasaan bingung dan sedih. “Mengapa saya melakukan apa yang baru saja saya lakukan?” pikirnya. Namun, ia sendiri tidak menemukan jawabannya.
Ketika sampai di depan rumah, Kanekes berhenti sejenak. Bagi kebanyakan anak, rumah adalah tempat untuk merasa aman. Namun, bagi Kanekes, rumah justru menjadi tempat yang membuatnya takut. Saat ia membuka pintu, suara piring pecah terdengar dari dalam rumah. Kanekes hanya terdiam. Ia sudah terbiasa mendengar suara seperti itu. Ia menundukkan kepalanya dan berpikir, “Mengapa kehidupan aku tidak seperti anak yang lain?”
Air mata perlahan mengalir di pipinya. Dalam hati, Kanekes hanya menginginkan perhatian dari ibunya.
Beberapa hari kemudian, Seba telah sembuh. Ia dan Pulung masih memikirkan kejadian yang membuat persahabatan mereka dengan Kanekes berubah. Seba melihat bekas luka di telapak tangannya. “Aku tidak mengerti mengapa Kanekes melakukan itu,” katanya. Pulung terdiam.
Ia juga masih merasa marah. Tidak lama kemudian, mereka melihat kalender. Seba Baduy akan dilaksanakan dalam satu minggu. Mereka akhirnya memutuskan untuk pergi tanpa Kanekes.
Namun, mereka tetap berpura-pura mengajaknya. Keesokan harinya, mereka pergi ke rumah Kanekes. “Kanekes, apakah kau mau ikut bersama kami ke Seba Baduy?” Kanekes langsung tersenyum. “Boleh! Kapan kita pergi?”
“Minggu depan. Tunggu kami di tengah desa.” Kanekes mengangguk dengan senang. Ia tidak mengetahui bahwa Seba dan Pulung sebenarnya telah merencanakan untuk meninggalkannya.
Hari yang ditunggu akhirnya tiba. Pagi-pagi sekali, Seba dan Pulung berangkat lebih dahulu. Mereka membawa bekal seperlunya dan berjalan menuju tempat pelaksanaan Seba Baduy. Sementara itu, Kanekes baru bangun dan segera pergi ke tengah desa. Ia menunggu di bawah pohon. Ia menunggu dengan sabar karena mengira Seba dan Pulung telah memaafkannya.
Namun, waktu terus berjalan. Tidak ada Seba. Tidak ada Pulung. Akhirnya, Kanekes menyadari sesuatu. Mereka telah meninggalkannya. Ia segera berlari untuk menyusul kedua sahabatnya.
Di sisi lain, Seba dan Pulung terus berjalan. Mereka sengaja memilih jalur yang berbeda agar tidak bertemu dengan Kanekes. “Kalau kita lewat sini, dia pasti tidak akan menemukan kita,” kata Pulung. Seba mengangguk. “Ayo, kita cepat.”
Mereka terus berjalan hingga menemukan sebuah jalan yang semakin sulit dilalui. Karena terlalu sibuk berbicara, mereka tidak memperhatikan keadaan di depan. Tiba-tiba, tanah di bawah kaki mereka runtuh. “AAA!” Seba dan Pulung terjatuh ke dalam sebuah lubang.
Mereka berteriak meminta pertolongan, tetapi tidak ada seorang pun yang datang. Sementara itu, Kanekes yang sedang mengejar mereka mendengar suara teriakan dari kejauhan. Ia berhenti, memasang telinga, dan mendengarkan dengan saksama. Kemudian, ia berlari menuju sumber suara tersebut. Ketika sampai, Kanekes terdiam. Di dalam lubang itu terdapat Seba dan Pulung.
Kedua sahabat yang baru saja meninggalkannya kini membutuhkan pertolongannya.
Kanekes bisa saja pergi. Ia bisa meninggalkan mereka seperti mereka meninggalkannya. Namun, ketika melihat wajah Seba dan Pulung, ia teringat kembali semua kenangan mereka. Ia teringat ketika mereka bermain bersama, ketika mereka mencuri mangga dan tertangkap warga, serta semua tawa mereka.
Untuk sesaat, rasa marahnya kembali muncul. Namun, rasa sayangnya kepada kedua sahabatnya lebih besar. Kanekes akhirnya memilih untuk menolong mereka dan membantu Seba dan Pulung keluar dari lubang tersebut.
Ketika mereka sadar, keduanya terkejut. Orang yang menyelamatkan mereka ternyata adalah Kanekes, bukan orang tua mereka dan bukan pula warga desa. Setelah keadaan mereka membaik, mereka bertiga berjalan kembali. Tidak ada yang berbicara. Udara terasa canggung. Seba dan Pulung beberapa kali melihat Kanekes, tetapi mereka tidak tahu bagaimana cara meminta maaf.
Setelah berjalan selama beberapa jam, mereka akhirnya sampai di tempat untuk beristirahat. Pulung menarik napas panjang. “Kanekes, aku sangat meminta maaf karena sudah meninggalkan kamu,” ucapnya dengan suara bergetar. Seba menundukkan kepalanya. “Iya, Kanekes. Aku juga meminta maaf.”
Kanekes masih merasa sakit hati. Ia tidak bisa begitu saja melupakan apa yang telah mereka lakukan. Namun, ia juga melihat bahwa Seba dan Pulung benar-benar menyesal. Ia teringat kembali masa ketika mereka bertiga masih bersama, masa ketika mereka tertawa, bermain, dan melakukan kenakalan bersama.
Kanekes akhirnya menyadari bahwa meskipun mereka saling menyakiti, ia masih menyayangi kedua sahabatnya. Ia mungkin bisa memaafkan mereka, tetapi ada satu hal yang tidak bisa dikembalikan. Hubungan mereka bertiga tidak akan pernah sama seperti dahulu kala.

Posting Komentar