![]() |
| By AI |
Oleh Saiful Bahri
Suatu pagi di dapur rumahnya, Popon membantu Mama memasak sop ayam.
Mama menyiapkan semua bahan: ayam, wortel, kentang, dan daun bawang. Tapi Popon merasa ada yang kurang.
“Ma, kenapa sopnya belum terasa enak ya?” tanya Popon sambil mencicipi kuahnya.
Mama tersenyum, lalu mengambil wadah kecil berisi garam. “Nah, ini dia yang belum ada—garam!” katanya sambil menaburkan sedikit ke dalam panci.
Popon terkejut. “Cuma garam segitu bisa bikin rasanya berubah?”
Mama mengangguk. “Iya, Nak. Garam itu kecil dan sederhana, tapi tanpa dia, semua masakan jadi hambar.”
Popon berpikir sejenak. “Berarti garam itu penting banget ya, Ma?”
“Betul,” jawab Mama. “Berlian memang indah dan berkilau, tapi tidak bisa membuat masakan jadi sedap. Garam tidak berkilau, tapi selalu dibutuhkan.”
Popon tersenyum. “Aku mau jadi seperti garam, Ma. Berguna buat orang lain.”
Mama memeluk Popon. “Itu baru anak hebat. Jadilah garam kehidupan—yang memberi rasa dan makna di mana pun kamu berada.”
---
✨ Pesan Cerita:
Tidak perlu menjadi yang paling indah untuk disukai banyak orang. Jadilah seperti garam—sederhana, tapi selalu memberi rasa dan manfaat bagi sesama.
---

Posting Komentar