Manisnya Tebu di Rumah Nenek

By AI



Oleh Tabrani Yunis 


Hari Minggu pagi yang cerah, Arisya dan keluarganya pergi berlibur. Mereka berkunjung ke kampung halaman Ayah di Manggeng, Aceh Barat Daya. Setelah menempuh perjalanan yang seru, mereka akhirnya tiba di rumah Nenek.

Rumah Nenek sangat unik! Bentuknya adalah rumah panggung tradisional yang terbuat dari kayu yang kokoh. Di halaman depan rumah, tampak Nenek sedang sibuk memotong sesuatu yang panjang dan beruas-ruas.

"Nenek lagi potong apa?" tanya Arisya penasaran sambil menghampiri Nenek.

"Eh, Arisya sudah sampai. Ini Nenek lagi potong tebu, Cu," jawab Nenek sambil tersenyum hangat.

Arisya mengerutkan keningnya. "Tebu? Lho, untuk apa tebu itu, Nek?"

"Tebu ini Nenek tebang untuk diambil airnya, biar bisa diminum oleh Aqila, kakakmu," jelas Nenek.

Arisya makin bingung. Ia memandangi batang tebu di depan matanya. "Oh ya? Bagaimana cara meminum tebu, Nek? Tebu itu kan keras sekali? Tuh, lihat kulitnya saja keras begitu."

Nenek tertawa kecil mendengar kepolosan cucunya. "Aduh cucuku sayang... Kalau anak-anak di kampung ini, mereka sudah biasa minum air tebu langsung dari batangnya. Caranya, kulit tebu dikupas dulu dengan pisau, lalu dipotong dan dibelah kecil-kecil. Setelah itu, baru dikunyah-kunyah sampai air manisnya keluar. Kalau airnya sudah habis, ampasnya dibuang."

Nenek juga menambahkan, "Tapi selain dikunyah langsung, tebu juga bisa diperas menggunakan alat tradisional, atau digiling memakai mesin pemeras tebu yang modern."

"Wah, menarik sekali, Nek! Arisya mau lihat dong bagaimana caranya!" seru Arisya bersemangat. Rasa penasarannya kini mengalahkan rasa bingungnya.

Mencicipi Rasa Tebu

Dengan cekatan, Nenek menunjukkan caranya. Sret... sret... Kulit tebu yang keras itu dikupas menggunakan pisau hingga terlihat bagian dalamnya yang berwarna putih kekuningan. Setelah bersih, Nenek memotongnya pendek-pendek dan membelahnya menjadi ukuran kecil yang pas untuk mulut Arisya.

"Nah, ini cobalah," kata Nenek sambil menyodorkan sepotong tebu.

Arisya menerima tebu itu dengan hati-hati lalu memasukkannya ke dalam mulut. Ia mulai menggigit dan mengunyahnya. Matanya langsung berbinar gembira!

"Wah, manis sekali, Nek!" seru Arisya kegirangan.

"Ya, benar kan, Cu? Kunyah-kunyah terus sampai air tebunya habis, baru ditelan airnya saja ya," kata Nenek lembut. "Tebu ini adalah salah satu tanaman sumber pangan yang penting bagi kehidupan kita. Dari tanaman inilah gula yang biasa kita pakai di rumah dibuat."

Arisya mengangguk-angguk sambil menikmati sensasi manis alami di lidahnya. Kunjungan ke rumah Nenek kali ini benar-benar memberikan pengalaman baru yang manis dan tak terlupakan bagi Arisya! 

0/Post a Comment/Comments

Iklan