Tukang Bakso yang Rajin Beribadah

Ilustrasi oleh AI


Oleh: Atika Zara Azhar, 

Siswa Kelas 2, MIN 11 Banda Aceh

 

Di sebuah desa yang tenang, hiduplah seorang tukang bakso yang setiap hari berkeliling menjajakan dagangannya. Hari itu, matahari bersinar sangat terik, namun anehnya jalanan desa tampak lengang. 

 

Dari pagi hingga malam hari, dagangan penjual bakso itu sangat sepi. Ia sudah berkeliling dari satu gang ke gang lain, namun gerobaknya masih penuh. Belum ada satu pun pembeli yang mampir untuk menikmati bakso buatannya.

 

Meskipun merasa lelah dan khawatir karena belum mendapat pemasukan, penjual bakso itu tetap sabar. Saat langit mulai gelap, terdengar sayup-sayup suara azan Maghrib berkumandang dari masjid terdekat.

 

Mendengar panggilan salat tersebut, sang penjual bakso bergumam di dalam hatinya, “Alhamdulillah, waktu Maghrib sudah tiba. Urusan rezeki biarlah Allah yang mengatur, sekarang waktunya aku menghadap-Nya."

 

Ia tidak menunda-nunda, melainkan langsung bergegas memarkirkan gerobaknya dan pergi ke masjid untuk melaksanakan salat Maghrib berjamaah. 

 

Seusai menunaikan ibadah salat Maghrib, dengan hati yang lebih tenang, ia kembali ke gerobaknya dan mulai melanjutkan jualannya. Tak lama kemudian, sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan gerobaknya. Turunlah seorang pria yang berpakaian rapi dan terlihat seperti orang kaya.

 

"Permisi, Pak. Baksonya masih ada?" tanya orang kaya tersebut dengan ramah.

 

"Masih banyak, Pak. Silakan, Bapak mau pesan berapa porsi?" jawab penjual bakso dengan senyum semringah.

 

"Saya pesan satu porsi dulu untuk makan di sini ya, Pak. Saya kebetulan lewat dan merasa lapar," kata orang kaya itu.

 

Penjual bakso pun dengan cekatan meracik baksonya. Setelah semangkuk bakso hangat disajikan, orang kaya itu mulai menyuap kuah dan memakan bakso tersebut. Baru beberapa suapan, matanya berbinar.

 

"Wah, Pak! Bakso ini enak sekali! Bumbunya sangat pas dan kuahnya gurih," puji orang kaya tersebut. "Kenapa gerobak Bapak masih penuh begini kalau rasanya seenak ini?"

 

Penjual bakso tersenyum simpul, "Namanya juga belum rezekinya, Pak. Dari pagi memang sepi pembeli. Tapi alhamdulillah, sekarang ada Bapak yang mampir."

 

Mendengar hal itu, orang kaya itu merasa tersentuh. "Kalau begitu, Pak, tolong bungkuskan semua sisa bakso Bapak! Saya mau memborong semuanya untuk keluarga dan karyawan saya di rumah."

 

Penjual bakso itu terkejut sekaligus bahagia. Dengan tangan gemetar karena gembira, ia membungkus seluruh sisa baksonya tanpa sisa. Setelah selesai, orang kaya itu mengeluarkan dompetnya.

 

"Ini ya, Pak, uangnya. Semuanya sebesar Rp2.500.000," ucap orang kaya itu sambil menyerahkan lembaran uang.

 

"Alhamdulillah... Terima kasih banyak, Pak! Semoga rezeki Bapak semakin berlimpah," balas penjual bakso sambil menerima uang tersebut.

 

Orang kaya itu pun tersenyum, berpamitan, dan pergi dengan mobilnya. Penjual bakso itu merasa sangat senang. Saking senangnya, ia tidak henti-hentinya mengucap syukur dan berterima kasih kepada Allah SWT atas rezeki yang datang di saat tak terduga.

 

***

Hikmah cerita:

Sebagaimana pesan dari cerita ini, kita tidak boleh meninggalkan salat meskipun sedang dalam kesulitan atau sibuk bekerja. Percayalah bahwa Allah selalu mengatur rezeki bagi hamba-Nya yang taat beribadah.

0/Post a Comment/Comments

Iklan