![]() |
| Ilustrasi oleh AI |
Oleh Mazna Abdul Manan
Kelas VI MIN 11 Banda Aceh
Pagi itu suasana sekolah dasar tampak seperti biasa. Anak-anak berlarian di halaman. Sebagian sibuk berbincang, sebagian lagi duduk di bangku taman sambil menunggu bel masuk berbunyi.
Di salah satu sudut halaman, seorang gadis berhijab biru berdiri sambil sesekali melihat ke arah gerbang sekolah.
“Riona, apa kabar?” sapa seorang gadis cantik yang baru datang sambil tersenyum.
“Baik. Aku lagi nunggu Arin. Katanya mau ngambil buku, tapi lama banget,” jawab Riona dengan nada sedikit kesal.
Gadis yang menyapanya itu adalah Nika, sahabat lamanya sejak kelas lima. Namun, sejak naik ke kelas enam, mereka terpisah kelas sehingga jarang bertemu.
“Arin siapa, Riona?” tanya Nika penasaran.
Riona menghela napas. “Itu, anak baru di kelasku. Tadi tiba-tiba ngajak ngobrol, padahal kita belum kenal dekat. Sekarang malah mengajak ke mana-mana.”
Nika tersenyum kecil. “Ya sudah, ikuti saja dulu. Siapa tahu dia memang ingin berteman.”
Riona belum sempat menjawab ketika tiba-tiba seorang gadis datang menghampiri mereka. Rambutnya panjang, tergerai rapi, dengan jepitan pink lucu di kepalanya.
“Nah, itu dia orangnya,” kata Riona sambil menunjuk.
Nika memperhatikan gadis itu. Dalam hatinya sempat muncul rasa ragu karena ia tahu gadis itu berbeda agama dengannya. Namun Riona langsung berkata santai, “Oh iya, dia Kristen.”
Nika mengangguk. Ia mencoba menepis pikiran anehnya dan tersenyum ramah.
“Hai, Arin!” sapa Riona. “Kamu lama banget, sih. Capek aku nunggu.”
“Maaf, tadi agak lama di perpustakaan,” jawab Arin.
Lalu Arin melirik ke arah Nika. “Ini siapa?”
Riona menjawab singkat, “Ini Nika, dulu sahabatku. Kita beda kelas sekarang.”
“Salam kenal,” kata Nika sambil tersenyum.
“Salam kenal juga, aku Arin,” jawab gadis itu dengan ramah.
Percakapan mereka terasa canggung di awal, tetapi perlahan mencair. Nika bahkan sempat bertanya dengan jujur, “Kamu Kristen, ya?”
“Iya,” jawab Arin tenang. “Salam toleransi, ya.”
Semester satu telah berlalu dan kini semester dua. Sejak saat itu, mereka bertiga mulai sering bersama. Perbedaan tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk tertawa, bercanda, dan berbagi cerita saat ini banyak sekali tugas yang harus dibuat dan pembelajaran yang semakin banyak kerena tidak lama lagi ujian sekolah.
Saat mereka sedang pusing pusingnya dengan soal yang mereka jawab tiap tiba
“tingggggg”. Waktu istirahat menjadi momen paling mereka tunggu. Mereka sering pergi ke kantin, membeli mi bakso langganan mereka, lalu mereka makan dengan nikmat dan sambil berbincang tentang banyak hal.
Saat mereka sedang menikmati mi bakso di kantin, Nika tiba-tiba berkata dengan wajah murung, “Kayaknya aku nggak bisa sering bareng kalian lagi.”
Riona dan Arin langsung berhenti makan.
“Maksudnya?” tanya Arin.
“Papaku daftarin aku les di sekolah. Waktunya pas istirahat dan sepulang sekolah,” jawab Nika pelan.
Riona mengerutkan kening. “Serius? Nggak bisa dibujuk?”
Nika menggeleng. “Aku nggak berani. Papa tegas banget.”
Suasana mendadak berubah. Tawa yang biasanya memenuhi meja mereka kini menghilang.
“Ya sudah, yang penting kamu semangat, ya. Biar nggak mengecewakan papamu,” kata Riona mencoba menguatkan.
Nika tersenyum tipis. “Kalian juga jangan sedih. Nanti kita tetap bisa bareng lagi.”
Namun kenyataannya tidak semudah itu.
Sejak mengikuti les, Nika mulai jarang terlihat bersama Riona dan Arin. Waktu kebersamaan mereka berkurang drastis.
Hingga suatu hari, Riona dan Arin melihat sesuatu yang membuat hati mereka tidak enak. Saat itu Riona ingin sholat Zuhur di musholla sekolahnya, Arin tampak menunggu Riona dengan sabar sambil melihat ponselnya, ia sengaja tidak membesarkan volume ponselnya agar tidak mengganggu Riona beribadah, setelah itu mereka berdua memutuskan untuk pergi ke kantin sekolah.
Di kantin, mereka melihat Nika sedang duduk bersama seorang teman lain, tertawa seperti dulu bersama mereka.
“Itu Nika, kan?” bisik Arin.
“Iya… katanya nggak bisa makan bareng kita, tapi kok sama orang lain bisa?” sahut Riona dengan nada kecewa.
Tanpa mereka sadari, Nika melihat mereka dari kejauhan. Ia sempat ingin memanggil, tetapi ketika melihat Riona dan Arin berbisik sambil menatapnya, ia mengurungkan niatnya.
“Kenapa mereka lihat aku seperti itu?” batin Nika.
Sejak kejadian itu, hubungan mereka mulai renggang. Tidak ada pertengkaran besar, tetapi jarak di antara mereka semakin terasa.
Riona dan Arin sering berjalan bersama berdua, sementara Nika sibuk dengan les dan teman barunya.
“Kenapa Nika berubah, ya?” kata Arin suatu hari.
“Entahlah. Mungkin dia sudah punya sahabat baru,” jawab Riona pelan.
Di sisi lain, Nika juga merasa kehilangan. Ia sering melihat Riona dan Arin dari kejauhan, tetapi tidak tahu bagaimana harus mendekati mereka lagi.
Hari-hari terasa berat bagi Nika. Di les pun sering memikirkan tentang mereka hingga dia sering terlihat melamun.
Suatu sore, Guru Ika menegurnya, “Nika, kamu dari tadi melamun. Perhatikan pelajaran!”
“Maaf, Bu,” jawab Nika kaget.
Guru Ika menghela napas. “Kalau kamu tidak fokus, nilaimu bisa turun.”
Sepulang les, Nika merasa kesal. Ia menulis kekesalannya pada status wa di ponselnya, ia meluapkan perasaannya tanpa berpikir panjang.
Tanpa disadari, status itu dibaca oleh Riona dan Arin.
“Ih, kenapa Nika sekarang jadi begini?” kata Arin.
“Iya, dulu dia nggak seperti ini,” tambah Riona.
Percakapan itu ternyata didengar oleh Ilma, teman sekelas mereka. Ilma kemudian menyampaikan semuanya kepada Nika.
Sejak saat itu, kesalahpahaman semakin besar. Nika merasa disakiti, sementara Riona dan Arin merasa ditinggalkan.
Puncaknya terjadi ketika Nika tanpa sengaja bertemu Arin di lapangan sekolah saat itu mereka tidak sengaja perpapasan Nika yang melihat itu mengabaikan dan bersikap dingin seolah itu bukan temannya, ia pergi dan mengabaikan Arin . Arin tampak kecewa dengan Nika
Hubungan mereka hampir benar-benar hancur.
Namun, suatu malam, Nika merenung. Ia menyadari bahwa semuanya berawal dari sikapnya sendiri. Ia terlalu sibuk, terlalu mudah tersinggung, dan tidak mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Keesokan harinya, Nika memberanikan diri menghampiri Riona.
“Riona… maaf ya,” katanya pelan. “Aku salah. Aku nggak sadar kalau sikapku bikin kalian sakit hati.”
Riona terdiam sejenak, lalu tersenyum. “Aku juga kangen kamu, Nika.”
Mereka berpelukan.
Arin yang melihat itu pun ikut tersenyum. “Aku juga maafin kamu.”
Nika merasa lega. Seolah beban berat di hatinya hilang.
Ia juga meminta maaf kepada Guru Ika dan berjanji untuk lebih serius belajar.
Sejak saat itu, mereka kembali seperti dulu. Tertawa bersama, makan bersama, dan saling mendukung.
Hari kelulusan pun tiba.
Mereka berdiri bersama di halaman sekolah, mengenakan seragam rapi, tetapi dengan mata berkaca-kaca.
“Jangan lupain aku, ya,” kata Arin.
“Nggak mungkin,” jawab Riona.
“Aku juga nggak akan lupa kalian,” tambah Nika.
Mereka saling berpelukan.
Hari itu bukan hanya tentang perpisahan, tetapi juga tentang kenangan, persahabatan, dan pelajaran hidup.
Mereka belajar bahwa perbedaan bukanlah penghalang, kesibukan bukan alasan untuk melupakan, dan komunikasi adalah kunci dari sebuah persahabatan.
Dan meskipun mereka akan berpisah sekolah, mereka percaya suatu hari nanti mereka akan bertemu kembali sebagai sahabat yang pernah berbagi cerita indah bersama.
TERIMSKASIH

Posting Komentar