![]() |
| Ilustrasi oleh AI |
Oleh Dewi Ayu Larasati, SS, M. Hum
Setelah selesai belajar mengaji, Lian dan kawan-kawannya pulang menuju rumah. Teman-teman Lian cukup akrab dan senang berkawan dengan Lian.
Di samping dikenal sebagai anak yang cerdas, Lian juga baik hati.
Sepanjang jalan mereka asyik bercerita tentang sekolah baru mereka nanti. Maklum, sekolah lama mereka sudah habis diterjang banjir. Untungnya pemerintah setempat tanggap untuk membangun sekolah baru. Walau agak jauh dari rumah Lian dan kawan-kawannya. Sekolah itu dapat diandalkan karena bebas dari kawasan banjir.
“Lian, apa kau sudah cerita ke umakmu kalau kau mau ikut kami sekolah?” tanya Amin pada Lian.
“Sudah, aku sudah bilang ke umakku. Tapi umak khawatir karena sekolahnya terlalu jauh,” jawab Lian.
“Kan kita rame-rame, Lian. Kau ga perlu khawatir, kita kan bisa pergi bersama-sama.”
Segar pun menjawab, “Betul Lian.”
Doli pun mengangguk-anggukkan kepala setuju, “ Hu-uh…”
“Udah ga sabar aku mau sekolah lagi…” ujar Togar.
“Aku pun sudah dibelikan ayahku tas baru…”sahut Amran.
“Kalau aku suka sekali belajar menghitung. Aku kan ingin jadi guru matematika nanti,” ungkap Lian.
“Kau kan juga pandai bermain musik, Lian. Permainan uyup-uyup durame mu itu merdu sekali,” bujuk Togar pada Lian.
“Iya, betul, ” sahut teman-teman Lian.
Doli tiba-tiba menyela, “Kalau aku suka pelajaran olah raga, main bola itu kesenanganku lo…”
Teman-teman lain pun tertawa mendengar ucapan Doli.
“Kalau gitu, ayo kita main bola sekarang. Kalau kau kalah, kau harus menghitung berapa banyak bintang yang bersinar malam ini, mau?,” tantang Amran.
“Hah…mana bisa kuhitung banyaknya bintang, Amran…Kalau bulan aku bisa…Jumlahnya pasti satu,” jawab Doli tersipu malu.
“Tapi kita kan tidak bisa setiap malam melihat bulan, Doli,” ujar Lian.
“Oh, iya ya, Lian. Kenapa bisa gitu Lian?” tanya Doli penasaran.
“Opungku pernah cerita, sebenarnya bulan setiap hari selalu ada dan tidak menghilang, teman. Sebagai satelit bumi, bulan beputar mengelilingi bumi, sehingga posisi bumi terhadap matahari berubah.
Jadi kalau kita perhatikan, bentuk bulan berbeda tiap harinya. Kadang terlihat kecil, kadang terlihat besar seperti bulan purnama atau bahkan tidak terlihat sama sekali cahayanya,” jelas Lian.
“Lantas, kenapa bulan bisa tampak terlihat terang ya, Lian?” tanya Segar lagi.
“Bulan tidak memancarkan sinarnya sendiri, namun cahaya sinar matahari yang dipantulkan ke bulan, sehingga bulan tampak seolah-olah bersinar,” urai Lian dan membuat teman-teman serempak menjawab, “Oh…begitu ya?”
“Jadi, matahari itulah sumber cahaya. Nah, kalau bulan sudah berada di antara bumi dan matahari, permukaan bulan yang tidak dapat cahaya matahari menghadap bumi. Makanya bulan tak terlihat dari langit teman-teman” jelas Lian lagisambil memperagakan dengan tangannya.
“Apa kita bisa pergi ke bulan, Lian?” tanya Doli penasaran.
“Ya, bisa aja. Kata opungku dulu sudah ada orang yang pergi ke bulan,”
“Aku juga mau lah, Lian, jalan-jalan ke bulan…Pasti indah sekali. Aku bisa main bola di sana,” seru Doli.
“Asalkan kau kalahkan aku dulu main bola. Ayooo…kita mulai…” ajak Amran.
“Tunggu dulu teman-teman...kemarin kita kan sudah bermain bola. Gimana kalau hari ini kita bermain marsiayak?” Segar mencoba menawarkan teman-temannya bermain marsiayak.
Teman-teman seketika setuju dengan tawarannya itu. Anak-anak pun bersorak gembira memulai pertandingan marsiayak ini. Marsiayak merupakan sebuah permainan yang mengandalkan kecepatan dan kerja sama tim. Permainan ini seperti permainan tangkap lari yang biasanya terbagi atas dua tim dengan minimal dua orang dalam setiap timnya.
Semakin banyak anggota tim, permainan pun akan semakin seru. Satu tim bertindak sebagai pangayak (mengejar) dan lainnya berlari untuk menghindari kejaran si pangayak. Permainan ini mewajibkan kita untuk lari di sekitar tempat yang sudah diberi batas. Lalu pengayak harus menangkap kita dengan hitungan 1-10.
Saat pangayak mencoba untuk menangkap kita, maka kita harus jongkok dan tidak bisa berlari lagi. Kalau kita ingin menyelamatkan teman kita agar bisa berlari lagi, kita yang belum jongkok harus memegang kepala teman kita.
Jika kamu mempunyai lari yang cepat dan lincah, maka permainan ini akan semakin mengasyikkan. Permainan tradisional ini masih sering dimainkan oleh anak-anak di dusun untuk mengisi waktu di sekitar lingkungan tempat tinggal mereka dan mereka sangat mahir melakukan permainan tersebut.
Hal ini biasa mereka lakukan selepas pulang ngaji. Begitulah hampir setiap hari, mereka tidak lepas berinteraksi, bermain dan bercengkerama. Jauh dari sentuhan teknologi seperti kehidupan anak-anak di kota yang justru mengambil alih hakikat masa kanak-kanak mereka.
*Umak merupakan sebutan untuk Ibu atau Mama di Sumatera Utara
Opung merupakan sebutan kakek atau nenek
Uyup-uyup durame, musik tiup dari Mandailing

Posting Komentar