![]() |
| Ilustrasi oleh AI |
Oleh Anton Sucipto, SP
Pada suatu pagi yang cerah, di SD Gilinata, anak-anak berlari menuju lapangan. Mereka tampak membawa raket dan shuttlecock. Hari itu sekolah mengadakan lomba bulutangkis antar kelas.
Aldo ikut dalam lomba tersebut. Ia memang menyukai bulutangkis, tetapi sering kalah. Setiap lomba, ia tidak pernah mencapai semifinal. Teman-temannya, Dudung dan Paijo, sering mengejek dan meremehkan kemampuannya.
“Aldo, raketmu saja sudah tua, tidak modern seperti milik Paijo!” kata Dudung dengan sombong.
“Hahaha, pasti kalah. Kamu tidak pernah latihan di klub profesional seperti aku!” tambah Paijo mengejek.
“Tidak apa-apa, aku tetap senang bermain bulutangkis,” jawab Aldo.
Namun sebenarnya hatinya sangat sedih. Teman-temannya mengejek dan tidak percaya bahwa ia bisa menang.
Dudung dan Paijo memang unggul. Orang tua mereka kaya, setiap sore mereka latihan di klub modern. Pelatihnya profesional, raketnya baru, dan lapangannya ber-AC. Setiap ada lomba, mereka selalu menang. Ketika lomba antar kelas selesai, Dudung kembali menjadi juara. Ia berjalan ke panggung menerima piala dengan sombong.
“Yang tidak latihan dengan serius, tidak akan menang!” katanya.
Semua murid tertawa. Aldo hanya diam, tetapi di dalam hatinya muncul tekad untuk bisa mengalahkan Dudung.
Sore itu, Aldo duduk di pinggir lapangan, melihat anak-anak lain berlatih. Saat itu, datang seorang anak bernama Bondan menghampirinya.
“Eh, kamu Aldo ya? Aku Bondan,” kata Bondan.
“Iya, aku. Aku kalah lagi hari ini,” jawab Aldo.
“Kamu tidak perlu sedih lagi. Kakekku, namanya Kakek Pluto, dulu pelatih bulutangkis zaman dulu. Kalau kamu mau, ayo latihan bersama aku,” ajak Bondan.
“Benarkah? Kakekmu bisa melatih?” Aldo tampak kaget.
“Tentu saja. Walaupun sudah tua, teknik dan taktiknya masih bagus. Kamu mau?”
Aldo langsung mengangguk semangat. “Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa menang!”
Sejak hari itu, setiap sore Aldo berlatih bersama Bondan dan Kakek Pluto di lapangan desa yang sederhana. Lapangannya tidak terlalu besar dan sering berangin. Namun Aldo tetap semangat.
Kakek Pluto melatih dengan sangat sabar.
“Aldo, bulutangkis tidak hanya butuh tenaga. Dibutuhkan akal, gerakan, teknik yang baik, dan kesabaran tinggi. Jika kamu tidak percaya diri, kamu akan kalah dengan sendirinya,” nasihat Kakek Pluto.
Setiap hari Aldo berlatih footwork, smash, dan netting.
“Ayo! Kamu sudah lebih baik hari ini!” kata Kakek Pluto menyemangati.
Setiap minggu, gerakan Aldo semakin cepat dan tekniknya semakin rapi. Tangannya semakin kuat, kakinya semakin lincah. Yang paling penting, kepercayaan dirinya tumbuh.
Tak terasa, sudah tiga bulan berlalu. Sekolah mengumumkan akan ada lomba bulutangkis antar sekolah se-kabupaten. Aldo terpilih sebagai wakil sekolahnya bersama Dudung dan Paijo. Semua orang terkejut.
“Kok bisa ikut tim sekolah?” tanya Dudung heran.
Aldo tersenyum. “Tunggu saja, aku akan mengalahkanmu.”
Hari lomba pun tiba. Aula olahraga kabupaten sangat ramai.
Giliran Aldo bertanding melawan Dudung. Semua orang mengira Aldo akan kalah dengan cepat. Namun saat pertandingan dimulai, semua terkejut. Gerakan Aldo kini sangat cepat, langkahnya lincah, dan pukulannya terarah.
“Wah, kok bisa cepat begitu?” Dudung heran.
“Latihan setiap hari, Dung,” jawab Aldo.
Set pertama Aldo kalah tipis, selisih lima poin. Namun di set kedua, Aldo berhasil menang. Keringat mengalir, penonton semakin bersemangat. Di set penentuan, Aldo menggunakan strategi yang diajarkan Kakek Pluto. Ia memakai teknik tipu arah dan menjaga irama napas. Dudung kewalahan dan tidak mampu mengembalikan shuttlecock ke sudut lapangan.
“Match point untuk Aldo!” seru wasit.
Skor akhir: 21–17 untuk Aldo.
Semua murid bersorak gembira.
“Aldo menang!”
Aldo duduk terengah-engah, tetapi hatinya sangat bahagia. Kakek Pluto dan Bondan bangga melihat keberhasilannya.
Saat upacara penghargaan, Dudung mendekat dengan wajah pucat.
“Aku tidak menyangka. Sekarang kamu hebat sekali,” katanya.
“Tidak ada yang mustahil, Dung. Semua butuh latihan dan semangat,” jawab Aldo.
Paijo juga mengucapkan selamat kepada Aldo.
Sejak saat itu, Aldo dikenal sebagai anak yang tidak mudah menyerah dan rajin berlatih. Ia menjadi inspirasi bagi teman-temannya. Ia bukan hanya menjadi juara, tetapi juga menjadi contoh bahwa tekad dan kerja keras dapat mengalahkan harta dan fasilitas.
Setiap sore, lapangan desa menjadi ramai. Anak-anak berlatih bersama Aldo dan Bondan, belajar dari Kakek Pluto.
Penulis Anton Sucipto SP.
Alumni Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto.

Posting Komentar