Oleh Anton Sucipto, SP
Aldo adalah anak yang dikenal rajin dan suka membaca. Hampir setiap hari, setelah pulang sekolah, ia mampir ke perpustakaan kecil di dekat rumahnya. Di sana ia duduk di pojok favoritnya dekat jendela yang menghadap taman dan banyak baca tentang buku-buku cerita, ensiklopedia, atau buku pengetahuan lain. Karena kebiasaannya itu, Aldo mendapat nilai bagus dan sering menjadi juara kelas.
Berbeda dengan Aldo, sahabatnya, Dudung, memiliki kebiasaan yang jauh bertolak belakang. Dudung sebenarnya anak yang baik dan ceria, tetapi ia sangat malas belajar. Pulang sekolah, Dudung lebih suka bermain game di ponsel atau menghabiskan waktu nongkrong di warung dekat rumahnya. Jika ibunya menyuruh belajar, Dudung selalu menjawab, “Nanti saja, Bu.”
Suatu hari, pak Pucung guru kelas mereka, mengumumkan bahwa dua minggu lagi akan ada ulangan semester. Semua murid tampak gelisah, terutama Dudung. Ia tahu nilainya belakangan ini menurun karena ia hampir tidak pernah belajar. Namun Dudung masih saja menunda-nunda.
“Nilaimu pasti bagus, ya.. ” kata Dudung pada Aldo di jam istirahat.
Aldo tersenyum sambil menutup bukunya. “Ya bagus kalau belajar. Kamu juga bisa, Dung.”
“Aku malas. Banyak banget pelajarannya,” keluh Dudung.
Aldo tahu Dudung bukan tidak bisa, tapi kurang disiplin.
Sore itu, seperti biasa, Aldo pergi ke perpustakaan. Tanpa diduga, ia melihat Dudung duduk di depan pintu perpustakaan sambil menendang kaleng kosong.
“kamu ngapain di sini?” tanya Aldo.
“Aku mau belajar… tapi bingung mau mulai dari mana,” jawab Dudung.
“Ya sudah, ikut aku. Kita belajar bareng,” kata Aldo.
Mereka duduk di meja yang sama. Aldo mulai mengeluarkan buku pelajaran dan menjelaskan cara belajar yang mudah.
“Pertama, kita buat jadwal. Misalnya hari ini belajar matematika 30 menit. Besok IPA 30 menit, dan seterusnya,” jelas Aldo sambil menuliskan jadwalnya di selembar kertas.
Dudung mengangguk-angguk, terlihat bersemangat.
“Kirain harus belajar semuanya sekaligus,” sahut Dudung.
“Tidak harus. Yang penting disiplin. Sedikit demi sedikit, lama-lama kamu bisa menguasai semuanya,” ucap Aldo.
Hari pertama berjalan lancar. Dudung mengikuti jadwal belajar bersama Aldo. Keesokan harinya pun begitu. Namun pada hari ketiga, Dudung kembali pada kebiasaan lamanya untuk bermain game.
Ketika Aldo datang untuk mengajak belajar, Dudung berkata, “lima menit lagi, mau menyelesaikan level game,” Dudung fokus main game itu.
“Kalau kamu terus begitu, jadwalmu akan kacau. Disiplin itu bukan menunggu semangat datang, tapi melakukan apa yang sudah kamu rencanakan,” Aldo jengkel.
Dudung terdiam sejenak.
“Baik. Ayo belajar,” kata Dudung.
Hari demi hari berlalu. Meski kadang masih malas, Dudung berusaha keras mengikuti jadwal yang dibuat Aldo. Ia mulai bisa memahami pelajaran. Bahkan, ia merasa bangga pada dirinya sendiri setiap kali berhasil menyelesaikan satu tugasnya itu.
Ketika hari ulangan tiba, Dudung duduk dengan tenang, tidak lagi panik seperti sebelumnya. Ia mengingat semua yang dipelajarinya bersama Aldo.
Seminggu kemudian, hasil ulangan dibagikan. Aldo tentu saja mendapat nilai bagus. Yang mengejutkan, nilai Dudung juga meningkat pesat. Ia tidak menjadi juara kelas, tetapi ia mendapat nilai lebih tinggi dari sebelumnya.
Pak Pucung tampak tersenyum bangga. “Kerja bagus, Dudung. Kamu sudah membuktikan kalau disiplin itu kunci keberhasilan.”
Dudung menoleh pada Aldo. “Terima kasih, Aldo,”.
“Kamu sendiri yang berusaha. Aku cuma membantu,” sahut Aldo.
Sejak hari itu, Dudung bertekad untuk terus disiplin. Dia sering ikut Aldo ke perpustakaan.
Dudung perlahan berubah menjadi anak yang lebih bertanggung jawab. Semua berkat keberanian untuk memulai, dan tentu saja, bantuan seorang sahabat yang baik.
Penulis Anton Sucipto, SP.
Alumni Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto.

Posting Komentar