Oleh Dewi Ayu Larasati
Hari ini murid-murid di sekolah Mora akan mengunjungi istana Maimun dan Museum Negeri Sumatera Utara.
Mengunjungi tempat bersejarah seperti Istana Maimun dan Museum Negeri Sumatera Utara ini adalah dalam rangka Field Trip atau studi lapangan yang telah menjadi kegiatan rutin di sekolah Mora. Kunjungan kali ini diikuti oleh 90 siswa dari kelas 4 hingga kelas 6.
Sekolah ini memilih Istana Maimun dan Museum Negeri Sumatera Utara karena sebagian koleksi dan sejarahnya menunjang pembelajaran sekolah terutama pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial juga pelajaran Seni dan Budaya. Selain itu kunjungan ini diharapkan sebagai upaya memberi bekal kemampuan dan sikap mental untuk mengelola lingkungan alam secara bertanggung jawab, melestarikan nilai-nilai dan mengembangkan budaya khususnya di Sumatera Utara.
Lokasi yang dituju dengan sekolah lumayan jauh, sehingga mereka menggunakan bus wisata untuk sampai ke sana.
Setelah melaksanakan kegiatan Sabtu bersih, mereka pun berkumpul di lapangan sekolah untuk menunggu bis jemputan. Beberapa saat kemudian, bus jemputan pun datang. Anak-anak sangat gembira dan terlihat hendak berebutan untuk naik ke dalam bus.
Seketika Ibu Kepala Sekolah dengan menggunakan pengeras suara menyampaikan pengumuman agar semua siswa berbaris dengan rapi dan mengikuti tata tertib dalam melaksanakan field trip tersebut.
Bu Rini dan empat guru lainnya sebagai pendamping, dengan cekatan mencoba memandu siswa-siswanya untuk masuk ke dalam bus dengan tertib.
“Ayo…anak-anak berbaris yang rapi dulu ya. Ibu akan mengabsen nama kalian satu persatu. Yang namanya dipanggil, langsung naik ke bus” jelas Bu Rini.
Setelah semua berada di dalam bus, mereka diminta berdoa terlebih dahulu oleh Ibu Kepala Sekolah. Tujuannya adalah adalah untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar diberi keselamatan dan kelancaran dalam melaksanakan acara field trip tersebut. Di tiap-tiap bus ada dua orang guru yang bertugas mengkoordinir siswa siswi tersebut.
Mereka juga diingatkan oleh guru pendamping masing-masing untuk mengecek barang dan perlengkapan yang dibawa.
Tepat pukul 09:00 pagi iring-iringan bus pun berangkat. Cuaca sangat cerah hari itu dengan matahari yang bersemangat menampakkan sinar terangnya. Tampak raut kegembiraan terpancar pada wajah-wajah siswa peserta field trip. Mereka membayangkan akan mendapatkan banyak pengalaman menarik selama kunjungan.
Selama perjalanan, tiap anak sibuk dengan aktivitas masing-masing. Ada yang asyik mengobrol, bercanda dengan teman duduknya, bermain game, dan ada pula yang melantunkan lagu-lagu kesukaannya.
Kurang lebih 1 jam kemudian, rombongan tiba di Istana Maimun sebagai tempat tujuan pertama. Istana Maimun merupakan istana yang menjadi ikon kota Medan. Istana Maimun adalah adalah istana peninggalan Kerajaan Deli. Ciri khas istana ini adalah bangunannya berwarna kuning dan hijau, warna khas bangunan Melayu.
Setelah turun dari bus, para guru dan siswa disambutdengan ramah oleh dua kakak pemandu yang akanmemberikan arahan dan informasi tentang keberadaan Istana Maimun.
Mora yang baru pertama sekali melihat Istana Maimun terkagum-kagum dengan keindahan bangunan dan pernak-pernik yang ada di dalam istana.
“Mora sudah pernah kemari sebelumnya?” tanya Bu Rini yang berjalan beriringan dengan Mora
“Belum, Bu. Baru kali ini, Bu,” jawab Mora.
Para siswa siswi tersebut sangat antusias ketika mengelilingi Istana Maimun dengan para pemandu.
Tepat di lantai satu, di depan pintu gerbang istana, kakak pemandu menjelaskan secara singkat tentang sejarah Istana Maimun ini. Para siswa pun menyimak dengan tekun sambil mencatat hal-hal penting yang diinformasikan pemandu.
Menurut kakak pemandu, Istana Maimun telah dinobatkan sebagai bangunan terindah di Kota Medan, Sumatera Utara. Istana megah ini selesai dibangun sekitar tahun 1888 dan merupakan warisan dari Sultan Deli MakmunAl Rasyid Perkasa Alamsyah. Sapuan warna kuning pada gedung ini merupakan warna khas Melayu. Arsitekturnya juga ada pengaruh Eropa seperti terlihat di ruang tamu, jendela, pintu dan sebuah prasasti di depan tangga yang bertuliskan huruf Latin, berbahasa Belanda. Sedangkan ciri Islam juga terlihat pada atapnya yang bergaya Timur Tengah.
Kemudian kakak pemandu mengajak para siswa ke lantai dua untuk melihat kemegahan singgasana raja yang dihiasi lampu kristal Eropa, kursi, meja maupun lemari. Foto-foto keluarga, senjata-senjata kuno, juga ada di istana ini.
Yang juga tak kalah menarik adalah meriam puntung yang terletak di halaman depan sebelah kanan istana. Menurut kakak pemandu, Meriam Puntung menyimpan misteri. Konon ia merupakan penjelmaan adik Putri Hijau, penguasa Kerajaan Haru.
Cerita Meriam Puntung berawal saat Raja Aceh ingin meminang Putri Hijau yang terkenal paras kecantikannya. Namun karena Puteri Hijau tidak mau menuruti keinginan sang raja, maka terjadilah perang untuk mempertahankan tahta kerajaan.
Saat terjadinya perang, saudara laki-laki Putri Hijau menjelma menjadi ular naga dan seorang lagi menjadi sepucuk meriam yang terus menembaki tentara Aceh.
Karena menembak terus menerus, meriam itu panas sehingga pecah atau puntung. Sisa “pecahan” meriam itu hingga saat ini ada di dua tempat, yakni di Istana Maimun, dan di Desa Sukanalu (Tanah Karo).
Mendengar informasi yang diberikan kakak pemandu, semakin bertambahlah pengetahuan para siswa tersebut tentang sejarah Istana Maimun dan sejarah Melayu di tanah Deli khususnya. Setelah selesai mengelilingi Istana Maimun, mereka pun mengabadikan foto bersama.
Agenda selanjutnya adalah mengunjungi Museum Negeri Sumatera Utara. Jarak antara Istana Maimun dan Museum Negeri Sumatera Utara ini tidak terlalu jauh. Sekitar 20 menit berkendara.
Sesampainya di Museum ini, para siswa juga dipandu oleh kakak-kakak pemandu. Oleh kakak pemandu, siswa akan diajak menelusuri benda-benda etnografi dari Indonesia, khususnya Provinsi Sumatera Utara. Siswa akan diperkenalkan betapa luas dan beragamnya suku bangsa di Indonesia.
Museum ini diresmikan 19 April 1982 oleh Menteri pendidikan dan Kebudayaan Dr. Daoed Joesoef. Percetakan batu pertama berupa sepasang Arca Makara yang menjadi koleksi pertama, dilakukan oleh Presiden RI Pertama yaitu Ir. Soekarno pada tahun 1954. Arca Makara berasal dari Biara Sitopayung di Situs Percandian Padang Lawas.
Museum Negeri Sumatera Utara ini lalu dikenal masyarakat juga dengan nama Museum Gedung Arca.
Arsitektur bangunan Museum Negeri Sumatera Utara ini melukiskan rumah tradisional Sumatera Utara. Bagian atap depan dipenuhi dengan orneman dari Suku Melayu, Batak Toba, Karo, Simalungun, Angkola, Mandailing Pakpak dan Nias.
Ada sekitar 7000 benda-benda purbakala tersimpan di Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara yang berlantai dua ini. Benda-benda itu merupakan peninggalan sejarah budaya. Dimulai dari masa prasejarah, klasik Hindu-Budha-Islam. Juga sejarah masa kolonial dan sejarah perjuangan bangsa Indonesia .
Ibu Fatimah selaku Kepala Sekolahnya Mora memberikan apresiasi terhadap pelayanan Museum Negeri Sumatera Utara kepada siswa siswi dari sekolahnya. Ia juga senang melihat antusias anak-anak yang belajar langsung tentang sejarah dan kebudayaan di Indonesia.
“Kegiatan field trip kita kali ini, berkunjung ke museum sangat bermanfaat bagi penanaman karakter, budi pekerti, dan semangat cinta Tanah Air. Dengan melakukan kunjungan ke museum, anak-anak sekalian diperkenalkan keindahan Tanah Air, beragam suku, bangsa, bahasa, kebudayaan, serta hasil-hasil budaya yang ada di negeri ini, khususnya ragam budaya di Sumatera Utara,” ujar Ibu Fatimah saat memberikan pidato untuk mengakhiri field trip bersama murid-muridnya.
Setelah sesi kunjungan selesai para siswa mengikuti sejumlah kegiatan seperti foto bersama dan makan siang. Mereka juga dapat membeli souvenir di museum tersebut sebagai kenang-kenangan.

Posting Komentar