Oleh : Kang Thohir
Menatap teriknya matahari di pagi hari. Embun berhamburan tertiup angin menghampiri. Ada bisik-bisik hempasan angin menyelimuti. Dedaunan berdansa melambai angan dan cita-cita.
Penantian panjang mengulas arti kerinduan dan juga harapan.
Adakalanya, membuncah di heningan sunyi.
Burung-burung melayang-layang di udara berkata kepada angin,
"Hei, angin bawalah aku mengitari bumi?" Dengan mengepakan sayapnya yang indah.
Lalu angin menjawab,
"Baik, aku akan mengantarmu terbang, dan mengangkatmu ke udara untuk mengitari bumi ini."
Burung-burung itu dapat terbang dengan sayangnya, karena dibantu oleh angin dengan harapan untuk mengelilingi bumi.
Semua itu karena cinta pada alam, dan karena ciptaan-Nya.
Semua makhluk di bumi adalah ciptaan-Nya, maka dari itu cintailah alam yang indah ini.
Pernak-pernik atau warna-warni kehidupan adalah makna dari cinta sejati menyelimuti segala rencana-Nya.
Dari ufuk sampai ke kutub Utara, memberikan kecintaan dengan damai dan sejahtera.
Di dalam bumi ada mutiara yang berharga dan emas permata untuk manusia.
Bila malam ada rembulan dan bintang-bintang menghiasi alam semesta.
Kemudian rembulan berkata kepada bumi,
"Wahai bumi yang hijau bagaimana kabarmu?" tanya rembulan yang bercahaya, yang paling benderang di antara bintang-bintang.
Lalu bumi menjawab,
"Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, aku hari ini baik-baik saja, Rembulan."
Akhirnya rembulan dapat tersenyum dengan memancarkan sinar cahayanya, yang begitu indah dan memukau.
Rembulan menatap bumi dengan anggun memandangi jagat raya memberikan sinar cahayanya. Pepohonan semakin hijau dan berbuah segar, terkena pancaran cahayanya. Makhluk-makhluk hidup bumi kian sejahtera, dan memberikan cahaya kehidupan di malam hari. Begitulah tugasnya sang rembulan di malam hari. Bumi semakin indah dan bumi semakin tentram, meski terkadang terguncang. Namun, bumi selalu berusaha untuk stabil dan menjaga keseimbangannya demi makhluk yang ada di tubuhnya, atas segala kehendak-Nya.
Brebes, 28 Februari 2025

Posting Komentar