Tabunganku

 

Ilustrasi oleh AI


Oleh Asmaul Husna

Inong Literasi

 

Namanya Teguh. Sebuah nama yang diberikan kedua orang tuanya dengan harapan ia teguh dalam memegang nilai-nilai kebaikan dalam hidupnya. Teguh dibesarkan dalam keluarga sederhana yang kini duduk di kelas 3 Sekolah Dasar.


Ibunya adalah seorang pembuat kue yang dititipkan di beberapa warung sekitar tempat tinggalnya. Sementara ayahnya adalah seorang petani yang menggarap sebidang tanah sawah peninggalan orangtuanya. 


Meski sederhana, Teguh hidup dalam kedamaian dan ketenangan dengan nilai-nilai kebaikan yang tidak pernah lepas diajarkan oleh kedua orangtuanya. Salah satunya adalah kebiasaan menabung.


Setiap selesai mengambil uang hasil penjualan kue di warung-warung, Bu Naini, ibunya Teguh selalu memberikan uang Rp 5.000 kepada Teguh untuk ditabung.


"Nak, uang ini ditabung ya" Begitu selalu Bu Naini bertitah

"Uangnya nanti akan kita gunakan untuk membeli keperluan sekolahmu" lanjut Bu Naini 

"Baik Bu. Menabung itu pangkal kaya kan, Bu? Tidak sabar Teguh menjadi orang kaya" Jawaban Teguh berhasil membuat senyum tersungging di wajah teduh Bu Naini


"Bu, Celengan Teguh sepertinya hampir penuh, kapan akan kita  buka, Bu?" Tanya Teguh suatu hari

"Waah, Teguh hebat, sudah rajin menabung. Tapi celengan itu akan kita buka saat liburan kenaikan kelas nanti" Jawab Ibu 


"Kita akan membeli sepatu baru, kotak pensil baru, dan alat-alat tulis baru. Pasti seru kan? Teguh naik kelas baru dengan semua perlengkapan sekolah baru. Dan yang lebih seru lagi tabungan itu akan kita gunakan untuk liburan ke kolam renang seperti yang kamu inginkan" lanjut ibu.


"Tapi Bu, bagaimana kalau celengannya tidak muat lagi" sanggah Teguh. 

"Tenang, Ibu akan berikan lagi celengan lain, semangat menabung ya, Nak" lanjut ibu


Dan hari yang dinanti pun datang. Liburan kenaikan kelas telah tiba. Setelah lama menunggu akhirnya celengan itu akan dibuka. Horeeee


Saat celengan dibongkar, lembaran uang lima ribuan berhamburan banyak sekali

"Alhamdulillah, ayo kita hitung sama-sama" Ajak ibu


Setiap lembaran rupiah itu disusun rapi untuk kemudian dihitung. Itu adalah hasil keringat Bu Naini setiap harinya selama setahun ini untuk memberikan yang terbaik bagi Teguh. 


Dibantu Teguh, Bu Naini mulai menghitung setiap lembarannya, tapi mengapa tidak sesuai target ya? Bu Naini memperhatikan Teguh yang mulai salah tingkah, sepertinya ada yang tidak beres.


"Teguh, kira-kira tabungan ini banyak tidak ya?"

"Ehm, sepertinya banyak sih Bu" jawab Teguh gugup

"Tapi sepertinya jumlah tabungan ini kurang banyak dari yang sudah Ibu perkirakan, ibu heran uangnya pada kemana ya? Padahal setiap hari ibu tidak pernah lupa kan memberi Teguh uang untuk ditabung" jelas Bu Naini


"Mungkin celengannya ada yang berlubang, Bu" Jawab Teguh asal semakin menambah kecurigaan Bu Naini

"Bu, sebenarnya" Jawab Teguh masih dengan rasa gugup yang sama sambil memilin ujung koas kesebelasan sepak bola yang dipakainya.


"Kenapa Teguh? Kamu tidak sengaja mengambilnya? Atau kamu lupa memasukkan uang pemberian ibu ke celengan? Tapi ibu yakin kamu anak yang jujur, pasti tidak mungkin melakukan itu kan?" Tanya Bu Naini tanpa jeda.


"Maafkan Teguh, Bu. Pernah beberapa kali Teguh menggunakan uang yang ibu berikan itu untuk membeli bakso di warung yang baru dibuka di ujung gang bersama kawan-kawan komplek, mereka memaksa Teguh untuk ikut, dan juga uang itu pernah Teguh gunakan untuk membeli beberapa layangan". Jelas Teguh sambil menunduk


"Terimakasih Teguh, sudah jujur sama Ibu. Sebenarnya Teguh bisa memberitahu ibu, dan tentu ibu akan memberikan Teguh uang lebih" 


"Tapi Teguh tidak rela meminta uang lebih pada ibu. Ibu pasti capek membuat kue setiap pagi bahkan sejak matahari belum terbit" Kata Teguh yang hanya mampu dijawabnya  dalam hati


"Ibu memaafkan Teguh, tapi Teguh tetap harus menerima akibat dari perbuatan itu ya. Akan ada beberapa perlengkapan sekolah yang tidak kita beli atau bahkan kita tidak bisa liburan ke kolam renang seperti yang sudah kita rencanakan sebab uangnya tidak mencukupi" 


"Iya Bu" Jawab Teguh dengan suara tercekat menahan airmata yang siap tumpah

"Sungguh aku menyesal terhadap apa yang sudah kulakukan, aku tidak membayangkan akibatnya seserius ini. Aku sudah melukai hati ibu" batin Teguh

"Maafkan ketegasan ibu ya, ibu memang sedih melihat Teguh tidak bisa membeli perlengkapan sekolah yang serba baru, Ibu juga sedih melihat Teguh tidak bisa liburan ke kolam renang. Tapi ibu lebih sedih lagi jika Teguh tumbuh jadi anak yang tidak jujur. Sebab ibu sangat menyayangi Teguh melebihi sayang ibu kepada diri ibu sendiri" kata Bu Naini dengan mata berkaca-kaca.


Bu Naini dan Teguh larut dalam pelukan yang diiringi derai airmata bersamaan dengan Rinai hujan di luar yang kembali turun.

"Aku janji, tidak akan mengulanginya lagi" tekad Teguh dalam hati

 

Lomba menulis cerita anak 2026 ‘Ulang Tahun MajalahCerdas ke 13’

 

0/Post a Comment/Comments

Iklan