Suara dari Rimba Raya yang Menggetar Dunia

 


Ilustrasi oleh AI


Oleh Tabrani Yunis


Malam ini, usai makan malam,hujan gerimis turun perlahan. Ayah mengajak lagi Ananda Nayla, Aqila Azalea  dan Arisya duduk bersama untuk mendengar cerita ayah. Bukan tentang hujan gerimis yang tengah mengguyur bumi, tapi sebuah cerita sejarah bangsa ini, kisah heroik sumbangan Aceh untuk keberadaan Indonesia.


Ayah sangat suka bercerita tentang sejarah. Kata ayah kita harus tahu sejarah kampung kita dan bahkan sejarah bangsa kita. Kita juga harus tahu bagaimana beratnya perjuangan para pahlawan kita di masa lalu. Betapa pentingnya kita mengenal belajar sejarah. Tahu kenapa? Tanya ayah.


Ananda Nayla dan Aqila Azalea terdiam dan menggelengkan kepala. Arisya yang suka membaca menyela dan langsung memberi jawaban. 


Begini Yah, jelas Arisya. Kita harus belajar sejarah agar kita tahu siapa kita. Artinya kita akan mengenal diri kita dan daerah kita.


Benar jawab ayah.  Kita belajar sejarah terutama sejarah daerah dan bangsa kita karena membentuk identitas kita, memperkuat karakter, dan memberi arah masa depan kita. Misalnya kalian membaca tentang sejarah lokal seperti Pasie Raja . Sejarah ini mengajarkan kita tentang perjuangan, budaya, dan solidaritas yang tak tercatat dalam buku pelajaran umum.


Nah, malam ini ayah ingin menceritakan pada kalian tentang sebuah peristiwa di masa lalu, pada masa awal kemerdekaan bangsa kita, Indonesia. Peristiwa itu terjadi di Aceh.


Pada suatu masa,  di tahun 1940 an, di sebuah kampung bernama Rimba Raya di dataran tinggi Gayo, hiduplah para pejuang yang ingin menjaga kemerdekaan Indonesia. Saat itu, mereka tahu bahwa Belanda sedang berusaha meyakinkan dunia bahwa Indonesia sudah tidak ada lagi. 


Menyikapi sikap dan tindakan penjajah Belanda itu, para pejuang  kita kala itu,  lalu mendirikan sebuah radio ajaib. Radio ini tidak seperti radio biasa. Ia bisa mengirimkan suara jauh sekali, bahkan sampai ke negeri-negeri lain. Setiap malam, radio itu berbisik kepada dunia:

“Indonesia masih hidup, rakyatnya masih berjuang, jangan percaya pada kebohongan!” Ya, kebohongan yang disebar Belanda.


Kalian tahu siapa yang berbohong itu? 

Arisya langsung menjawab, ya Belanda ayah.


Benar Nak. 

Suara dari Rimba Raya bergema , terdengar hingga ke luar negeri. Orang-orang di dunia pun tahu bahwa Indonesia masih berdiri tegak. Berkat radio itu, Indonesia akhirnya diakui kembali sebagai negara merdeka. Besar sekali jasanya bukan? Bayangkanlah Nak, kalau tidak ada suara itu, mungkin Indonesia belum bisa merdeka.


Jadi, yang haurs kalian ketahui bahwa Radio Rimba Raya bukanlah radio yang berada di hutan belantara, melainkan sebuah radio perjuangan bangsa di Aceh. Ia menjadi saksi bahwa suara kecil dari kampung bisa mengguncang dunia.


Kalian tahu dari mana radio itu dibeli dan oleh siapa?


Ananda Nayla, Aqila Azalea dan Arisya kembali terdiam. Lalu ayah melanjutkan penjelasannya. Begini Nak, lanjut Ayah dengan senyuman kecil tersungging di wajahnya.


Perangkat Radio Rimba Raya dibeli oleh tentara Divisi Gajah I  dengan menggunakan  jasa bantuan John Lie. John Lie itu adalah seorang penyelundup ulung Asia Tenggara yang kemudian  menjadi Pahlawan Nasional. Perangkat itu dibeli di Malaya (Malaysia) dan dibawa ke Bireuen menjelang Agresi Militer Belanda I pada Juli 1947.


Sudah lama sekali bukan? Ya, las dong.

Kalian belum lahir lagi, ya kan? Tanya ayah. Aqila Azalea, Ananda Nayla serta Arisya mengangguk dan bergumam, setuju.


Ada yang menyebutkan bahwa tentara Republik Indonesia Divisi Gajah I (Aceh) saat itu dipimpin oleh Kolonel Husein Yusuf. Nah, bisa kita simpulkan bahwa mereka memesan dan membeli perangkat radio itu untuk keperluan siaran darurat dan diplomasi internasional.


Untung saja pada saat itu ada John Lie Tjeng Tjoan, seorang penyelundup ulung asal Manado yang  mampu menembus blokade laut Belanda dan menyelundupkan senjata, logistik, serta perangkat komunikasi untuk Republik Indonesia.


Pertanyaannya selanjutnya adalah dari mana perangkat itu dibeli?. Konon, perangkat itu dibeli di Malaya (Malaysia), yang saat itu menjadi tempat strategis untuk mendapatkan barang-barang elektronik dan militer. Lalu, setelah dibeli, perangkat dibawa ke Kota Juang Bireuen, lalu dipasang di Kampung Rimba Raya, Pintu Rime Gayo, Bener Meriah.


Ayah! Sela Ananda Nayla. Sebesar apakah radio itu? Tanya Ananda Nayla penuh penasaran. Ayah sedikit kaget.


Lalu ayah mencoba mencari informasi di Google. Ayah menemukan spesifikasinya. Nah, inilah spesifikasi Radio Rimba Raya serta daya jangkau dan kapan mula siarannya.


• Daya pancar: 1 kilowatt.

• Frekuensi: 19,25 meter dan 61 meter.

• Mulai siaran: 23 Agustus – 2 November 1949.

• Tujuan: Menyiarkan ke dunia bahwa Indonesia masih merdeka dan berdaulat.


Jadi Nak, lanjut Ayah.  Radio Rimba Raya adalah sebuah warisan sejarah yang lokasi bekas stasiun radio itu, kini menjadi Monumen Radio Rimba Raya, diresmikan pada 1987. Jadi, radio ini menjadi bukti bahwa suara dari Aceh mampu mengguncang dunia dan memperkuat posisi Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar.


Wah! menarik sekali cerita ayah. Aqila Azalea besok akan mencari buku-buku sejarah untuk dibaca dan dipelajari. Ide itu diikuti oleh Ananda Nayla dan Arisya.

0/Post a Comment/Comments

Iklan