Di pagi yang cerah, warga hutan berkumpul untuk menyaksikan pertunjukan dongeng.
Kali ini, giliran Kancil yang bercerita. “Pernahkah kalian mendengar tentang
Kancil dan Pak Tani?” tanya Kancil ke teman-temannya.
“Tentu saja!” kata
Kura-Kura. “Ya, cerita itu sangat terkenal!” sahut Kelinci. “Benarkah kamu
mencuri timun-timun itu?” Rakun penasaran. Kancil tersenyum dan menggelengkan
kepalanya.
“Bukan aku, tapi kakek buyut, buyut, buyutku,” jawab Kancil.
Semua
saling memandang. “Hmm… supaya lebih mudah kita sebut saja leluhur,” lanjutnya
lagi. Kancil menjelaskan bahwa leluhurnya tidak bermaksud jahat, beliau hanya
kelaparan karena saat itu sedang musim kemarau panjang. Banyak daun kering
berguguran. Tidak ada pilihan selain makan dari ladang Pak Tani untuk tetap
bertahan hidup.
Begitulah yang sebenarnya terjadi. Namun, cerita yang akan
Kancil sampaikan sekarang bukanlah tentang leluhurnya, melainkan pengalamannya
sendiri…
Beberapa waktu sebelumnya, hujan badai turun menerpa kawasan hutan.
Pohon-pohon besar tumbang akibat angin kencang, dahan dan ranting berserakan,
tanah becek di mana-mana. Warga hutan sedih sekali karena rumah mereka rusak.
Namun, setelah reda, mereka tetap semangat bergotong-royong membereskan
kekacauan itu.
Kancil sebagai salah satu penghuni terlama pun ikut serta. Tidak
jauh dari hutan, ada sebuah desa. Begitu pekerjaan Kancil selesai, ia berjalan
ke sana. Ia memang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. “Kira-kira bagaimana
keadaan di desa? Apakah sama berantakannya dengan hutan?” gumam Kancil.
Saat
sedang asyik menyusuri jalan setapak, ia mendengar tangisan. Ia mencari dari
mana sumber suara tersebut. Ternyata, ada laki-laki tua duduk sendirian di gubuk
kecil tepi ladang. “Halo! Kakek sedih, ya? Mau cerita denganku?” kata Kancil.
“Hiks… Hiks… Ladangku… Hiks… Semua berantakan. Padahal, sudah waktunya panen,”
jawab Pak Tani terisak. “Kalau begitu, adakah yang bisa aku bantu?” Kancil
berusaha menenangkan.
“Tidak ada! Aku tahu, ini hanya akal-akalan untuk
menipuku, kan?” balas Pak Tani ketus. Kancil kaget mendengarnya. Itu semua pasti
karena cerita rakyat tentang leluhurnya. “Aku tidak seperti itu. Aku janji akan
membantumu,” bantah Kancil lembut. “Tidak perlu. Aku bisa melakukannya sendiri.
Sana! Lebih baik kamu pergi!” usir Pak Tani. Mau bagaimana lagi, Kancil akhirnya
pulang.
Ia ingin sekali membantu Pak Tani yang kesulitan. Namun, Pak Tani tidak
percaya padanya. Keesokan harinya, Kancil kembali datang. Ia tidak menyerah.
Mungkin saja, hari ini suasana hati Pak Tani sudah lebih baik. “Kenapa kamu
datang lagi?” tanya Pak Tani kesal.
“Aku lihat Kakek sedang membereskan ladang.
Aku ingin membantu agar lebih cepat selesai,” seru Kancil. “Memang kenapa kalau
cepat selesai? Supaya kamu bisa mencuri buah dan sayur di ladang ini?” Pak Tani
curiga.
“ Bukan begitu. Aku tidak pernah berniat mencuri. Aku sungguh hanya ingin
membantu tanpa maksud lain,” jawab Kancil lagi. “Ah, omong kosong! Aku, kan,
sudah bilang tidak butuh bantuanmu!” bentak Pak Tani sambil menoleh ke arah
Kancil.
Gubrak! “Aduh! Aduh!” teriak Pak Tani kesakitan. Ia tersandung karena
tidak melihat jalan, “T-tolong aku!” rintihnya. Dengan sigap Kancil bergegas
membantu Pak Tani bangkit dan memindahkan ranting-ranting yang sedang dibawanya.
“Apa Kakek terluka?” tanya Kancil khawatir. “Syukurlah, aku tidak apa-apa. Hanya
saja… aku tidak bisa melanjutkan ini. Aku sudah terlalu tua.
Walaupun tidak
luka, tapi badanku jadi sakit semua,” kata Pak Tani murung. “Tenang, Kakek
istirahat saja. Aku yang akan membereskan semuanya,” kata Kancil. Kancil
mengundang saudara-saudaranya untuk bekerja sama membersihkan ladang Pak Tani.
Ia membagi tugas. Ada yang menyingkirkan ranting dan menanam bibit. Ini waktunya
membuktikan ke Pak Tani kalau Kancil si pencuri timun itu sudah tidak ada.
Tidak
lama kemudian, akhirnya ladang Pak Tani beres. “Wah, terima kasih, Kancil.
Berkat kerja keras kalian, ladangku kembali rapi.” Pak Tani juga memohon maaf
karena sudah berburuk sangka. Ia mengundang Kancil untuk datang lagi saat panen
nanti. Ia akan membagikan hasil ladang tersebut sebagai tanda permintaan maaf
sekaligus terima kasih. “Tidak perlu repot-repot, Kek.
Aku senang bisa
membantu,” jawab Kancil lalu berpamitan. Begitulah cerita Kancil di pertunjukan
dongeng pagi itu. “Hah? Sudah selesai?” Rakun seperti belum puas dengan akhir
cerita Kancil. “Kenapa kamu tolak hasil panennya?
Harusnya ambil saja biar bisa
bagi-bagi ke kita,” timpal Kelinci. “Apa kamu masih berhubungan baik dengan Pak
Tani?” tanya Kura-Kura. “Nih,” Kancil mengeluarkan karung berisi setumpuk buah
dan sayur, “Ssst… jangan sampai ketahuan, aku diam-diam mengambilnya dari ladang
Pak Tani.” Ketiga temannya terkejut. Apa? Kancil mencuri lagi?
“Hahaha… tidak…
tidak… Aku hanya bercanda! Pak Tani yang memberiku semua ini,” Kancil tertawa
jahil. Ternyata, sejak saat itu, Kancil sering pergi ke Rumah Pak Tani untuk
bermain. Kadang ia juga membantu Pak Tani melakukan pekerjaan lainnya. Sesekali
Pak Tani menyisihkan hasil panennya untuk Kancil.
Sekarang Kancil bisa mendapat
jatahnya sendiri tanpa perlu mencuri lagi. Pak Tani sadar bahwa tidak semua
cerita yang dikatakan orang lain itu benar. Ia percaya kalau Kancil adalah anak
baik

Posting Komentar