Saat Aku Meninggalkannya

Ilustrasi by AI


 

Oleh Asmaul Husna

Inong Literasi  


Saat Aku Meninggalkannya Ibu memang sudah mengajarkan aku dan adik-adik untuk selalu berwudhu' dan menggosok gigi sebelum tidur sejak kami masih di Taman Kanak-kanak. Hingga kini saat aku sudah duduk di kelas 4 SD. Kata ibu agar kami tidur dalam keadaan bersih dan suci. Dan kami rutin melaksanakannya setiap malam menjelang tidur. 


Namun entah mengapa dalam beberapa waktu terakhir ini aku enggan sekali melaksanakannya. Kasur empuk lebih menggiurkanku daripada menikmati segarnya air ketika berwudu dan menggosok gigi. 


Motif pesawat luar angkasa yang berbaris rapi di sprei yang dipasang ibu di kasurku seakan-akan terus memanggil dan siap membawaku berpetualang ke luar angkasa.


Malam ini syahdu dan indah sekali. Angin malam bertiup lembut dan bulan purnama bersinar terang, tak sedikitpun tertutup awan. Aku masih ingin menikmati cahayanya sambil bermain petak umpet di depan rumah bersama Fajar dan Ghina kedua adikku, namun ibu mengingatkanku bahwa waktu bermain sudah berakhir, meskipun ibu sudah memberi kami  waktu sedikit lebih lama dari malam biasanya. 


Saatnya kami bersiap-siap untuk tidur.

Meski esoknya merupakan hari libur, tapi ibu tetap memintaku dan adik-adik untuk tidur tepat waktu, sebab kata ibu walaupun hari libur kita tetap mempunyai kewajiban penting yang harus ditunaikan, yaitu melaksanakan shalat subuh. Dan ibu tidak ingin kami telat menunaikannya dikarenakan telat bangun yang disebabkan tidur larut malam.


"Hai Farhan, ayo kita bermain bersama. Kamu pasti suka" Aku mendengar satu suara.

"Jangan risau, Aku akan selalu menemanimu bermain" Lanjutnya. "Suara siapa itu ya?" batinku bertanya. Suara itu terasa asing bagiku.


Tiba-tiba Aku merasakan seperti ada yang berjalan di kaki dan kedua lenganku, dan bahkan di sela-sela gigiku. Sungguh menjijikkan.

"Kenapa kamu hanya diam"? Ayo kita bermain bersama" Lanjut suara itu. Kini aku bisa melihat wujudnya. Makhluk kecil menyerupai ulat daun berwarna hijau yang mempunyai gigi taring panjang dan mata bulat sedang menatap tajam ke arahku. 


Demi melihat makhluk itu aku berlari kencang nyaris menabrak pohon mangga yang sedang berbuah lebat di depan rumah. 

"Aku ini temanmu, kenapa engkau berlari dariku?" Ia terus meracau sambil terus mengejarku. Aku berlari semakin kencang dan segera mencari tempat untuk bersembunyi.


"Akhirnya aku bebas dari kejarannya" bisikku dengan nafas yang tersengal. Namun tiba-tiba seperti ada yang berjalan-jalan lagi di pahaku, lenganku, dan di telapak kakiku. Aku geli sekali. Dan ternyata makhluk itu berhasil menemukanku. Dan mereka berjumlah semakin banyak, sungguh mengerikan.


"Ibu, tolong aku, aku tidak mau jadi santapan makhluk aneh itu" jeritku kencang sambil berlari berusaha menghindar. Tapi semakin kuberlari, jumlah mereka semakin banyak. Aku ketakutan.

"Ibu, Tolong" jeritku lebih kencang sambil terus berlari dan tiba-tiba braaaaak. Aku terjatuh ke dalam sebuah lubang di kebun kecil di belakang rumah yang sengaja digali ayah sebagai tempat pembuangan sampah-sampah organik. 


Sungguh malang nasibku, dikejar makhluk aneh, jatuh kelubang sampah lagi. Dan rupanya aku benaran terjatuh, daritempat tidur. 

"Ada apa Bang Farhan? Sayup-sayup kudengar suara panik yang sangat kukenal, bukan suara asing tadi. Itu suara ibu.


Aku tersadar dan mendapati ibu sedang menenangkanku. Nafas tersengal hebat dengan tubuh yang sudah basah oleh peluh. 

Ternyata aku bermimpi


"Apa yang terjadi Bang Farhan?" tanya ibu "Kamu mimpi buruk?" Lanjut ibu lagi. Aku hanya membalas dengan anggukan.

Setelah aku minum beberapa teguk air putih yang diberikan ibu, aku mulai tenang dan aku menceritakan mimpi itu pada ibu.

"Ehm, selama ini sebelum tidur ada gosok gigi dan berwudhu' tidak?" Tanya ibu seakan ia tahu kebiasaan burukku beberapa waktu terakhir ini. 


"Mungkin mimpi itu sebagai teguran atas kelalaian Bang Farhan selama ini" 

"Iya Bu, Maafkan Farhan, selama ini Farhan sering tidak gosok gigi dan berwudhu' menjelang tidur. Farhan janji gak akan mengulanginya lagi"


Tanpa diminta aku segera beranjak ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan berwudhu', satu kebiasaan yang selama ini sudah kutinggalkan. Aku tidak menyangka kebiasaan baik yang kutinggalkan itu bisa membuatku mengalami pengalaman yang tidak mengenakkan dan yang jelas Aku tidak ingin bertemu makhluk aneh itu lagi meskipun hanya dalam mimpi.

 

Lomba menulis cerita anak 2026 ‘Ulang Tahun MajalahCerdas ke 13’

0/Post a Comment/Comments

Iklan