Peringkat Pertama
OLeh Anton Sucipto, SP
Aldo tampaknya duduk di bangku kelasnya dengan perasaan campur aduk. Setiap pagi sebelum berangkat sekolah, ia selalu berjanji pada dirinya sendiri untuk belajar lebih giat dari hari sebelumnya.
Ia ingin menjadi peringkat pertama di kelasnya. Keinginan itu bukan karena ingin dipuji, melainkan untuk membuktikan bahwa usaha yang sungguh-sungguh pasti membawa hasil. Ayah dan Ibu sering berkata bahwa ilmu adalah harta yang tidak akan hilang.
Kata-kata itu selalu diingat Aldo.
Sekolah Aldo tidak terlalu besar, tetapi terasa nyaman. Halamannya rindang oleh pohon ketapang, dan ruang kelas selalu ramai oleh suara teman-teman. Tempat favorit Aldo adalah perpustakaan. Meskipun tidak luas, rak bukunya penuh. Bau kertas dan debu halus justru membuatnya betah.
Setiap jam istirahat, ia hampir selalu berada di sana, membaca buku pelajaran atau cerita pengetahuan.
Aldo percaya bahwa membaca bisa membantunya meraih cita-cita.
Saat membaca, ia merasa seperti sedang belajar dari banyak guru. Ada buku matematika yang menjelaskan soal sulit dengan sederhana, buku IPA yang menceritakan keajaiban alam, dan kisah anak-anak hebat yang rajin belajar. Semua itu menambah semangatnya.
Di kelas, Aldo duduk tidak jauh dari Dudung. Dudung adalah teman yang baik hati dan suka bercanda, tetapi memiliki kebiasaan kurang baik: sering mencontek saat ulangan. Awalnya Aldo hanya diam, tetapi lama-kelamaan ia merasa tidak nyaman.
Suatu siang di perpustakaan, Dudung menghampiri Aldo dan berkata pelan, “Nanti kalau ulangan, aku boleh lihat jawabanmu, ya?” Aldo terkejut. Dengan hati-hati, ia menjelaskan bahwa mencontek itu tidak jujur. Ia ingin meraih peringkat pertama dengan usahanya sendiri. Dudung terdiam, terlihat kecewa, lalu pergi. Hati Aldo sempat sedih, tetapi ia yakin telah melakukan hal yang benar.
Hari-hari berikutnya, Aldo semakin rajin belajar. Sepulang sekolah, ia mengerjakan tugas lalu membantu Ibu. Malam hari, ia mengulang pelajaran dan membuat catatan kecil. Kadang ia merasa lelah, tetapi ia selalu ingat tujuannya.
Di perpustakaan, Aldo sering bertemu Bu Desi, penjaga yang ramah. Ia sering menyarankan buku dan berkata bahwa kejujuran adalah kunci keberhasilan. Nasihat itu semakin menguatkan Aldo.
Dudung masih sering datang, tetapi kini hanya mengeluh tentang pelajaran. Aldo pun mengajaknya belajar bersama. Mereka duduk di perpustakaan sepulang sekolah. Aldo menjelaskan dengan sederhana, dan Dudung mulai mencoba memahami.
Perlahan, Dudung berubah. Ia tidak lagi mencontek dan mulai berusaha sendiri. Aldo senang melihatnya.
Saat ulangan tiba, suasana kelas tegang. Aldo sudah siap. Di tengah ulangan, Dudung sempat melirik ke arahnya. Aldo menggeleng pelan. Dudung menarik napas dan kembali mengerjakan sendiri. Hati Aldo terasa hangat melihatnya.
Setelah selesai, Dudung berterima kasih. Ia merasa lebih percaya diri. Persahabatan mereka terasa lebih jujur.
Hari pembagian rapor pun tiba. Nama Aldo dipanggil sebagai peringkat pertama. Ia hampir tidak percaya. Teman-teman bertepuk tangan, dan wali kelas tersenyum bangga. Aldo sangat bahagia.
Dari kejauhan, Dudung mengacungkan jempol. Nilainya meningkat. Aldo bangga padanya. Mereka belajar bahwa kejujuran dan kerja keras membawa hasil.
Sejak itu, Aldo terus rajin membaca dan belajar. Menjadi peringkat pertama memang menyenangkan, tetapi menjadi anak yang jujur, rajin, dan peduli jauh lebih penting. Aldo berjanji akan menjaga semangat itu hingga dewasa.
Penulis: Anton Sucipto, SP.
Alumni Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto.
Suka makan bakso dan kue onde-onde.

Posting Komentar