Ilustrasi oleh AI
Oleh: Saidatu Nafisa Ilham
Di sebuah sudut kampung yang jauh dari hiruk-pikuk kota, berdiri sebuah rumah megah yang tampak asing di antara pepohonan rindang. Di sana, hiduplah sebuah keluarga yang bergelimang harta. Namun, kemewahan itu tidak sebanding dengan perangai anak tunggal mereka, Ayis.
Ayis adalah remaja yang keras kepala. Baginya, perintah orang tua hanyalah angin lalu. Ia sering membantah, bersikap sombong, dan tak jarang membuat ibunya mengurut dada menahan perih.
Suatu sore yang mendung, sang ibu yang tampak lelah mendekati Ayis. "Nak, tolong belikan ibu sabun ke toko sebentar. Ibu harus mencuci pakaian yang menumpuk," pintanya lembut.
Ayis yang sedang asyik dengan dunianya sendiri hanya mendengus. "Enggak mau, Bu! Malas!" jawabnya ketus tanpa menoleh sedikit pun.
Jawaban kasar itu bagai sembilu yang menyayat hati sang ibu. Ia terperanjat, dadanya sesak, hingga pandangannya gelap. Sang ibu jatuh pingsan di depan anaknya sendiri. Namun, setelah tersadar beberapa saat kemudian, ia tidak marah. Dengan sisa tenaga yang ada, ia berangkat sendiri ke toko, memenuhi kebutuhan rumah tangga yang diabaikan anaknya.
Tragedi bermula saat ia kembali. Saat hendak keluar dari kamar mandi usai mencuci, kaki sang ibu terpeleset lantai yang licin. Kepalanya terbentur keras ke sudut lantai yang tajam. Darah segar mengalir, membasahi lantai keramik yang dingin. Ayahnya yang baru pulang kerja segera melarikan sang ibu ke rumah sakit, namun takdir berkata lain. Nyawanya tak tertolong. Sang ibu berpulang dalam diam, meninggalkan sebuah perintah terakhir yang tak pernah dipenuhi Ayis.
Sejak kepergian sang ibu, rumah megah itu tak lagi terasa hangat. Keheningan yang ganjil mulai menyelimuti setiap sudut ruangan. Ayis kini hanya tinggal berdua dengan ayahnya, namun ia tak pernah benar-benar merasa sendirian.
Suatu malam, saat hujan rintik membasahi bumi, Ayis mendengar suara parau yang membisik di balik pintu kamarnya.
"Nak... beli sabun sebentar..."
Bulu kuduknya berdiri. Tak lama kemudian, rintihan itu berganti menjadi suara kesakitan, "Aduh... sakit...", yang disusul dengan tawa melengking yang mencekam.
Hihi... Hi... Hiiii... Hihi...!!
Ayis mencoba memejamkan mata, namun saat ia membuka mata sedikit saja, ia melihat sesosok wanita berdiri di pojok kamar. Rambutnya hitam panjang terurai menutupi wajah. Wanita itu mengenakan gamis berwarna hijau, pakaian terakhir yang dikenakan ibunya. Di tangan kanannya yang pucat, ia menggenggam selembar uang kumal untuk membeli sabun.
"Ibu...?" suara Ayis tercekat.
Sosok itu mendekat dengan suara parau yang mengerikan. Rasa takut yang hebat menghantam dada Ayis hingga ia jatuh pingsan tak sadarkan diri.
Pagi harinya, Ayis terbangun di ruang tamu dengan tubuh gemetar. Sang ayah yang melihat kondisi anaknya yang memprihatinkan hanya bisa menghela napas panjang. Ia tahu, ada penyesalan yang kini menghantui rumah ini, sebuah luka yang tidak bisa disembuhkan hanya dengan kata maaf.
"Ayah," bisik Ayis dengan air mata berlinang, "Ibu datang menagih sabun itu."
Sang ayah memegang bahu anaknya, mencoba memberi kekuatan meski ia sendiri tampak lelah. "Nak, mungkin sudah saatnya kita pergi. Kita pindah ke tempat yang jauh dari kampung ini. Mari kita cari ketenangan baru, dan mulailah belajar memaafkan dirimu sendiri."
Mereka pun pergi meninggalkan rumah megah itu, membiarkan kenangan pahit dan sosok bergamis hijau itu tertinggal dalam sunyinya dinding-dinding rumah yang kini benar-benar menjadi angker.
Sekian
Pesan Moral: Cerita ini mengingatkan pembaca tentang pentingnya patuh kepada orang tua. Penyesalan Ayis digambarkan melalui gangguan supranatural yang merupakan manifestasi dari perintah ibunya yang terakhir kali ia tolak ("beli sabun").
*Saidatul Nafisa Ilham*, atau yang akrab disapa Nafisa, adalah seorang penulis cilik berbakat yang saat ini menempuh pendidikan di 'SD Negeri Terbangan Cut, Pasie Raja, Aceh Selatan'.

Posting Komentar